Tabooo.id: Global – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengejutkan dunia dengan pengumuman bahwa negaranya siap menempuh jalur diplomasi dengan Amerika Serikat. Di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, Pezeshkian menegaskan bahwa diplomat Iran akan mengupayakan negosiasi yang adil.
Pertemuan Tingkat Tinggi di Istanbul
Langkah ini muncul menjelang pertemuan tingkat tinggi yang dijadwalkan berlangsung di Istanbul, Turkiye, pada Jumat (6/2/2026). Fokus utama pertemuan ini adalah program nuklir Iran. Pezeshkian menekankan melalui media sosial X bahwa dialog hanya bisa terwujud jika tercipta lingkungan kondusif, menunjukkan kehati-hatian Teheran menghadapi tekanan internasional.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menambahkan bahwa pihak musuh baru mulai bicara diplomasi sekarang, padahal Iran selalu terbuka. “Asalkan ada saling menghormati dan pertimbangan terhadap kepentingan masing-masing,” ujar Araghchi saat ziarah ke makam Ayatollah Ruhollah Khomeini.
AS Siapkan Armada, Trump Sinyal Diplomasi
Sementara itu, Presiden Amerika Donald Trump menegaskan bahwa komunikasi intensif sedang berlangsung. Armada tempur AS, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal perusak, bergerak ke kawasan sebagai respons atas tindakan keras Iran terhadap demonstran domestik. “Kami memiliki kapal-kapal besar dan sedang melakukan pembicaraan dengan Iran. Kita akan lihat hasilnya,” kata Trump. Ia berharap kesepakatan baru dapat menghentikan produksi uranium tingkat tinggi dan program rudal balistik Iran, namun menambahkan ancaman ringan: “Jika tidak, hal-hal buruk mungkin akan terjadi.”
Regional Ikut Terlibat
Pertemuan di Istanbul juga akan menghadirkan perwakilan Qatar, Arab Saudi, UEA, dan Mesir. Mereka bertujuan menjaga keseimbangan regional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut bahwa tahap-tahap diplomatik sedang difinalisasi dan diharapkan selesai beberapa hari ke depan. Ini akan menjadi dialog langsung pertama antara pejabat AS dan Iran sejak April tahun lalu, sebelum perang 12 hari pada Juni menghancurkan situs nuklir di Isfahan dan Natanz.
Gejolak Domestik Mengancam Stabilitas
Di sisi lain, situasi di Teheran semakin memanas. Aktivis melaporkan bahwa lebih dari 30.000 orang tewas akibat penumpasan demonstrasi sejak Desember, sementara pemerintah hanya mengakui 3.117 korban. Reuters mencatat bahwa pemerintah Iran khawatir serangan militer terbatas dari AS justru memicu revolusi rakyat, yang hampir meledak karena inflasi tinggi dan devaluasi mata uang.
Israel Bersiap Hadapi Balasan
Selain itu, Israel tidak tinggal diam. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan kesiapannya menghadapi segala kemungkinan jika Iran membalas serangan. “Siapa pun yang menyerang kami akan menghadapi konsekuensi tak tertahankan,” tegasnya usai pertemuan dengan Pentagon.
Refleksi: Siapa Paling Terdampak?
Akhirnya, satu hal jelas: masyarakat biasa warga Iran, warga Timur Tengah, dan masyarakat global yang tergantung harga energi akan menjadi pihak paling terdampak. Seperti biasanya, politik besar selalu meninggalkan rakyat menanggung panasnya bola api diplomasi. @eko




