Tabooo.id: Global – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) melancarkan serangan terhadap kelompok separatis Kurdi di wilayah Kurdistan Irak pada Sabtu (7/3/2026) pagi.
Serangan itu muncul ketika konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memasuki pekan kedua. Situasi tersebut membuat kawasan perbatasan Irak kembali berada dalam pusaran konflik geopolitik yang semakin luas.
Melalui pernyataan resmi yang dikutip kantor berita Tasnim, IRGC menyatakan pasukannya menyerang tiga lokasi yang mereka sebut sebagai basis kelompok separatis Kurdi Iran di wilayah Kurdistan Irak.
“Tiga lokasi kelompok separatis di wilayah Irak (Kurdistan) kami serang pagi ini,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.
Teheran juga mengirim pesan keras kepada kelompok Kurdi di kawasan perbatasan. IRGC menegaskan akan menghancurkan kelompok apa pun yang melakukan aktivitas yang mereka nilai mengancam integritas wilayah Iran.
Serangan Drone di Wilayah Kurdistan Irak
Seorang pejabat oposisi Iran yang hidup dalam pengasingan di Kurdistan Irak mengatakan kepada AFP bahwa pasukan Iran menggunakan drone dalam serangan tersebut. Drone-drone itu menargetkan posisi milik tiga partai Kurdi Iran yang selama ini beroperasi dari wilayah Irak utara.
Meski begitu, sumber tersebut menyebut serangan itu tidak menimbulkan korban jiwa.
Wilayah otonom Kurdistan Irak memang menjadi tempat beroperasinya sejumlah kelompok oposisi Kurdi Iran. Mereka membangun kamp dan pangkalan logistik di kawasan pegunungan yang dekat dengan perbatasan Iran.
Sejak konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat meningkat, militer Iran beberapa kali meluncurkan serangan ke kawasan tersebut.
Teheran sebelumnya juga mengancam akan menyerang semua fasilitas militan di wilayah Kurdistan Irak jika para pejuang Kurdi mencoba memasuki wilayah Iran.
Irak Berusaha Meredam Ketegangan
Pemerintah Irak bersama otoritas wilayah otonom Kurdistan berusaha menahan konflik agar tidak meluas. Pada Jumat (6/3/2026), kedua pihak menegaskan bahwa wilayah Irak tidak boleh menjadi basis serangan terhadap negara tetangga.
Pernyataan ini muncul setelah laporan yang menyebut kemungkinan pasukan Kurdi mencoba menyeberang ke Iran.
Namun otoritas Irak menegaskan bahwa situasi perbatasan masih terkendali.
Komandan penjaga perbatasan Irak, Mohammed Sukar, mengatakan pasukan Irak tidak menemukan upaya infiltrasi militan menuju wilayah Iran.
“Kondisi di perbatasan Irak-Iran tetap aman dan tidak ada pergerakan yang melanggar wilayah,” ujarnya kepada Kantor Berita Irak (INA).
Kelompok Kurdi Mengaku Siap, Tapi Belum Bergerak
Kelompok oposisi Kurdi Iran mengakui bahwa mereka menyusun rencana lama untuk memasuki wilayah Iran. Namun mereka menegaskan belum menggerakkan pasukan.
Hana Yazdanpana dari Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) mengatakan kelompoknya telah menyiapkan rencana tersebut selama puluhan tahun.
“Kami telah mempersiapkan hal ini selama 47 tahun,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan tidak satu pun pasukan Peshmerga yang bergerak saat ini. Dalam bahasa Kurdi, peshmerga berarti “orang-orang yang menghadapi kematian”.
Menurut Yazdanpana, enam kelompok oposisi Kurdi Iran yang baru membentuk koalisi kini melakukan koordinasi politik dan militer.
Namun mereka mengakui bahwa operasi militer besar hampir mustahil tanpa dukungan internasional.
“Kami tidak bisa bergerak jika langit di atas kami belum dibersihkan,” tambahnya. Ia juga menambahkan bahwa serangan terhadap gudang senjata Iran harus terjadi lebih dulu.
Tanpa kondisi itu, kata dia, pergerakan pasukan hanya akan menjadi tindakan bunuh diri karena kelompok Kurdi hanya memiliki senjata ringan seperti Kalashnikov.
Amerika Serikat Bantah Terlibat
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Gedung Putih membantah laporan yang menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan rencana untuk mempersenjatai kelompok Kurdi Iran.
Isu ini sensitif karena sebagian kelompok Kurdi sebelumnya pernah menjalani pelatihan militer dari pasukan Amerika Serikat saat melawan ISIS di Irak.
Di Timur Tengah, Kurdi menjadi kelompok etnis terbesar keempat. Mereka tersebar di Iran, Irak, Suriah, dan Turki, tetapi tidak memiliki negara sendiri.
Sejarah panjang konflik membuat masyarakat Kurdi sering berada di antara kepentingan negara-negara besar di kawasan.
Karena itu, pepatah lama di kalangan Kurdi masih sering terdengar hingga sekarang “Kami tidak punya teman selain gunung.”
Dan ketika konflik baru kembali muncul di Timur Tengah, pepatah itu terasa seperti pengingat lama bahwa dalam geopolitik kawasan ini, sekutu bisa berubah sewaktu-waktu, tetapi konflik hampir selalu datang kembali. @dimas




