Indonesia kaya sumber daya alam, tetapi krisis literasi membuat budaya baca melemah dan masyarakat makin mudah terjebak hoaks serta kemiskinan pengetahuan.
Tabooo.id – Indonesia terlalu sering dipuji sebagai negeri surga. Tanahnya subur. Lautnya luas. Gunungnya penuh mineral. Bahkan sejak 1973, lagu Koes Plus lewat “Kolam Susu” sudah menyanyikan imajinasi tentang negeri yang “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.
Namun, realitas berbicara berbeda.
Badan Pusat Statistik mencatat 23,36 juta warga Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan pada 2025. Angka itu bukan sekadar data statistik. Angka itu adalah wajah-wajah yang setiap pagi bangun dengan kecemasan yang sama: makan dulu atau bertahan dulu.
Selama ini, banyak orang menjelaskan kemiskinan hanya lewat ekonomi. Pemerintah membahas lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, investasi, dan pertumbuhan industri. Semua itu memang penting. Namun, ada akar masalah lain yang jauh lebih sunyi: kemiskinan pengetahuan.
Karena itu, bangsa yang kehilangan budaya baca perlahan kehilangan daya hidupnya sendiri.
Tidak ada negara maju tanpa masyarakat yang gemar membaca. Sebaliknya, masyarakat yang jauh dari pengetahuan akan lebih mudah terjebak dalam kemiskinan, manipulasi, dan ketergantungan.
Ketika Orang Bisa Membaca, Tapi Tidak Memahami
Indonesia saat ini menghadapi krisis literasi yang serius.
Nilai Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia tahun 2022 hanya mencapai 359 poin. Selain itu, hanya sekitar 25 persen siswa mencapai tingkat kecakapan minimum membaca. Hasil itu memperlihatkan satu kenyataan pahit: banyak anak mampu membaca kata, tetapi gagal memahami makna.
Masalahnya tidak berhenti di ruang kelas.
Hari ini, jutaan orang mengonsumsi informasi setiap detik. Mereka membuka media sosial sejak pagi. Mereka membaca potongan video, caption, komentar, dan judul viral tanpa henti. Namun, derasnya informasi justru tidak selalu melahirkan pengetahuan.
Sebaliknya, banyak orang semakin mudah marah, mudah percaya hoaks, dan mudah terseret propaganda.
Akibatnya, masyarakat mulai kehilangan kemampuan berpikir kritis. Orang lebih cepat bereaksi daripada memahami. Emosi bergerak lebih cepat daripada logika.
Di titik inilah krisis literasi berubah menjadi ancaman sosial.
Perpustakaan yang Kehilangan Nafas
Perpustakaan seharusnya menjadi benteng pengetahuan publik. Namun, banyak perpustakaan di Indonesia justru hidup setengah mati.
Rak buku penuh debu. Ruang baca sepi. Koleksi tertinggal zaman. Sementara itu, anak-anak lebih akrab dengan algoritma hiburan daripada ruang pengetahuan.
Padahal, Indonesia pernah memiliki mimpi besar tentang literasi.
Pada masa awal kemerdekaan, pemerintah memasukkan pembangunan perpustakaan desa ke dalam agenda pembangunan nasional. Negara memahami bahwa bangsa merdeka membutuhkan rakyat yang berpikir, bukan hanya rakyat yang bekerja.
Namun, arah pembangunan perlahan berubah.
Kita membangun lebih banyak pusat perbelanjaan dibanding ruang baca publik. Kita memproduksi lebih banyak konten hiburan dibanding budaya berpikir. Akibatnya, masyarakat tumbuh menjadi konsumen yang cepat bereaksi, tetapi lambat memahami.
Ironisnya, kondisi itu muncul di tengah perkembangan teknologi yang luar biasa.
Era Digital dan Ledakan Pascakebenaran
Perkembangan media sosial dan kecerdasan artifisial membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Namun, kecepatan itu juga membawa bahaya baru.
Fenomena post-truth atau pascakebenaran berkembang semakin luas. Fakta tidak lagi menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, emosi dan keyakinan pribadi justru menentukan cara orang melihat realitas.
Akibatnya, kebohongan bisa terlihat seperti kebenaran jika terus diulang.
Selain itu, masyarakat digital sering mengonsumsi informasi dangkal secara terus-menerus. Mereka membaca cepat, tetapi jarang mendalami. Mereka menggulir layar tanpa berhenti, tetapi semakin sulit berkonsentrasi.
Karena itu, perpustakaan tidak bisa lagi hanya menjadi tempat menyimpan buku.
Perpustakaan harus berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Ruang itu harus menghadirkan diskusi, kreativitas, keterampilan, dan kemampuan berpikir kritis. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga manusia yang mampu memahami dampak teknologi.
Indonesia Emas atau Indonesia Bingung?
Pemerintah sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Bonus demografi disebut sebagai peluang besar menuju negara maju.
Namun, bonus demografi tanpa literasi hanya akan melahirkan generasi yang ramai, tetapi mudah diarahkan.
Bangsa ini bisa memiliki jutaan anak muda produktif secara usia. Akan tetapi, tanpa kemampuan berpikir kritis, mereka akan mudah dipengaruhi hoaks, propaganda politik, dan manipulasi digital.
Karena itu, literasi bukan sekadar program pendidikan. Literasi adalah fondasi kekuatan bangsa.
Negara yang kuat tidak hanya membangun jalan tol dan gedung tinggi. Negara yang kuat juga membangun kemampuan berpikir rakyatnya.
Sayangnya, dukungan anggaran perpustakaan justru terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Situasi itu menunjukkan bahwa literasi sering kalah prioritas dibanding proyek fisik yang lebih mudah dipamerkan.
Padahal, dampak literasi jauh lebih panjang daripada sekadar pembangunan beton.
Rak Buku Lebih Berbahaya daripada Kerumunan
Orang yang membaca tidak mudah dibohongi. Orang yang berpikir juga tidak gampang ditakut-takuti.
Karena itu, budaya baca sebenarnya memiliki kekuatan politik yang sangat besar. Pengetahuan membuat masyarakat lebih kritis terhadap kekuasaan, lebih sadar terhadap haknya, dan lebih berani mempertanyakan ketidakadilan.
Inilah alasan mengapa literasi tidak pernah sekadar urusan buku.
Literasi adalah soal kesadaran.
Jika masyarakat berhenti membaca, mereka perlahan menyerahkan pikirannya kepada algoritma, propaganda, dan kebisingan digital. Mereka hidup dalam arus informasi tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Indonesia terlalu kaya untuk tetap miskin pengetahuan. Namun, kekayaan alam tidak pernah otomatis melahirkan kemajuan.
Sejarah dunia berkali-kali membuktikan bahwa negara besar lahir dari manusia yang berpikir. Dan manusia yang berpikir lahir dari budaya membaca.
Lalu pertanyaannya sekarang sederhana di tengah banjir konten dan budaya scrolling tanpa henti, apakah kita masih benar-benar ingin menjadi bangsa yang membaca? Atau jangan-jangan kita sudah terlalu nyaman menjadi bangsa yang hanya sibuk melihat layar? @dimas





