Tabooo.id: Global – Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan meneken Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS) pada besok Kamis (19/2/2026), menyusul kehadirannya di KTT Board of Peace (BoP) di AS pada hari yang sama. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa agenda penandatanganan akan dilakukan segera setelah Prabowo menghadiri KTT.
“InsyaAllah akan ada penandatanganan mengenai tarif dagang dengan pemerintah AS,” ujar Prasetyo di Gedung DPR, Senayan, Rabu (18/2/2026).
Ia menambahkan, “Iya setelah BoP, baru kemudian ada rencana tanda tangan kerja sama tarif.” tambahnya.
Harapan Penurunan Tarif
Prasetyo menekankan bahwa pemerintah berharap pertemuan Prabowo dengan Presiden AS Donald Trump akan menurunkan tarif impor bagi produk Indonesia.
“Untuk sementara belum ada perubahan. Tapi kita semua tentu berharap nanti di dalam pertemuan antara Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Trump ada perubahan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara kita,” tegasnya.
Menteri Sekretaris Negara itu menambahkan bahwa Indonesia belum menentukan angka spesifik yang ingin dicapai. Namun, dengan melihat praktik negara lain, pemerintah berharap tarif impor bisa turun hingga kisaran 18 persen.
“Kita hanya bisa mengupayakan negosiasi. Artinya bukan kita yang menentukan, tapi kita terus melakukan upaya,” tambahnya.
Latar Belakang Kesepakatan ART
Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari negosiasi tarif antara Indonesia dan AS yang berlangsung sejak Juli 2025. Pada 22 Juli 2025, kedua negara menyepakati kerangka kerja ART, dengan AS berkomitmen menurunkan tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen untuk produk asal Indonesia.
Negosiasi berlanjut pada 22 Desember 2025, ketika delegasi Indonesia dan Kantor Perwakilan Dagang AS di Washington DC menuntaskan substansi kesepakatan. Salah satu poin penting memastikan AS menghapus tarif impor khusus untuk komoditas unggulan Indonesia seperti sawit, kopi, minyak kelapa, dan kakao. Selain itu, Indonesia berkomitmen mengurangi hambatan nontarif yang selama ini menghambat kerja sama bilateral melalui deregulasi kebijakan.
Siapa yang Paling Terdampak
Jika kesepakatan ART benar-benar diteken dan tarif impor turun, pelaku industri ekspor Indonesia menjadi pihak yang paling diuntungkan. Petani sawit, pengusaha kopi, dan produsen kakao bisa menembus pasar AS dengan biaya lebih rendah, meningkatkan daya saing dan keuntungan. Konsumen dalam negeri juga berpotensi merasakan dampak positif berupa harga produk yang lebih stabil dan beragam.
Namun, penurunan tarif ini juga memaksa pelaku industri dalam negeri menyesuaikan strategi produksi dan kualitas agar tetap kompetitif. Negosiasi yang berat dan ketat menunjukkan bahwa meski ada potensi keuntungan, risiko bisnis tetap ada jika negara lain ikut menyesuaikan kebijakan perdagangan.
Refleksi: Diplomasi di Balik Angka
Kesepakatan ART bukan sekadar angka di atas kertas. Ia mencerminkan bagaimana diplomasi dagang menentukan hidup-matinya pelaku usaha lokal. Kadang, harapan pemerintah dan ambisi pengusaha bertemu di satu titik, namun kenyataannya masih banyak pihak yang harus “menunggu lampu hijau” dari lawan negosiasi. Dalam dunia perdagangan internasional, siapa cepat dia dapat dan siapa lambat, ya tetap menunggu giliran sambil berdoa. @dimas







