Tabooo.id: Entertainment – Apa jadinya kalau orang paling kreatif di negeri ini dikumpulin di satu gedung selama tiga hari? Jawabannya Ide, kopi, dan overthinking.
Semua itu berkumpul di IdeaFest 2025, festival tahunan yang udah jadi ritual wajib para pelaku industri kreatif buat pamer ide, dapet inspirasi, dan mungkin dapat konten juga.
Digelar mulai 31 Oktober sampai 2 November 2025 di JCC Senayan, IdeaFest tahun ini ngusung tema “(Cult)ivate the Culture” semacam ajakan buat menanam dan memelihara budaya di tengah dunia yang makin algoritmis. Tapi ya, namanya juga festival kreatif, suasananya lebih mirip taman ide rame, heboh, dan penuh warna.
Kebun Ide, 500 Tukang Bicara
Ada lebih dari 120 sesi dan 500 pembicara yang ngebahas segala hal dari seni, musik, film, sampai personal branding dan dunia digital.
Yang ngomong bukan sembarang orang ada Popo Mangun, Lala Bohang, Uji Hahan Handoko, Alia Swastika, sampai Endah Widiastuti dari Endah n Rhesa dan David Karto dari Synchronize Fest. Pokoknya, ini bukan sekadar talkshow, tapi parade pemikiran.
Co-Chair IdeaFest, Ben Soebiakto, bilang kalau budaya itu fondasi dari semua ide. “Di era yang dinamis, penting banget buat menanam dan mengembangkan nilai,” katanya waktu opening.
Bahasanya kalem, tapi pesannya dalem kreativitas yang nggak punya akar budaya, bakal tumbuh liar tapi gampang tumbang.
Dari Gotong Royong sampai Kolaborasi Gen Z
Satu hal yang bikin IdeaFest selalu menarik konsepnya open-source. Bukan cuma nama besar yang tampil, tapi juga komunitas, seniman independen, dan kreator muda.
Tahun ini, 70% pembicara adalah wajah baru. Artinya, ada regenerasi ide yang benar-benar terjadi, bukan cuma jargon di panggung.
Ben juga sempat nyentil tentang “gotong royong versi modern.” Katanya, semangat kolaborasi udah jadi DNA bangsa, tinggal digeser aja biar makin berdampak.
Makanya, IdeaFest 2025 berkolaborasi dengan banyak pihak mulai dari Nyanyi Bareng Jakarta sampai Minutes of Manager Jakarta Art House.
Platform seni IndoArtNow juga ikut nimbrung.
Di tengah dunia yang suka rebutan spotlight, konsep kolaborasi ini kedengarannya manis. Karena jujur aja, di industri kreatif, kadang yang paling kreatif justru cara orang rebut mic.
Ketika Kreativitas Jadi Komoditas
Tapi di balik gegap gempita festival, ada pertanyaan yang ngelitik Apakah budaya masih soal nilai, atau udah jadi produk?
Hari ini, semua hal bisa dikapitalisasi: dari tarian tradisional sampai gaya hidup slow living bisa jadi konten TikTok.
Kreativitas kadang nggak lagi tentang ekspresi, tapi eksposur. Bukan lagi tentang apa yang mau disampaikan, tapi seberapa viral yang bisa dicapai.
IdeaFest kayak pengingat lembut bahwa di balik semua kemasan keren, ada tanggung jawab moral buat nggak asal jual budaya.
Budaya itu bukan aset visual, tapi akar identitas. Kalau terlalu sering dicabut buat dijual, lama-lama tanahnya tandus.
Kreatif Itu Nggak Harus Capek
Tapi tenang, IdeaFest bukan ajang moral panic. Di balik semua seminar dan panel, selalu ada ruang buat ketawa, ngobrol santai, dan tentu selfie di spot aesthetic.
Karena jadi kreatif juga butuh main. Butuh rehat dari tekanan harus produktif.
Festival ini ngasih ruang buat sadar bahwa inspirasi bisa datang dari mana aja obrolan ringan, musik, bahkan dari kegabutan pas antre kopi di lobi JCC.
Pada Akhirnya, Kita Semua Sedang Mencari Makna
Kreativitas selalu jadi cermin dari zaman, Di tahun penuh AI, kolaborasi digital, dan krisis perhatian, IdeaFest datang kayak alarm lembut, “Eh, jangan lupa, budaya itu bukan cuma tema. Dia rumah buat semua ide.”
Mungkin, itu pesan paling penting dari (Cult)ivate the Culture Bahwa menanam ide itu gampang, tapi menjaga akarnya tetap hidup itu seni yang sebenarnya. @teguh




