Tabooo.id: Deep – Air datang tanpa permisi dari lereng Gunung Slamet, air meluncur seperti ingatan lama yang tiba-tiba terbuka paksa. Batu, tanah, dan ranting saling berdesakan dalam satu tubuh air yang liar. Di kawasan Pemandian Air Panas Guci, gemuruh memecah pagi Sabtu itu. Kolam yang biasanya mengepulkan uap hangat mendadak menjelma sungai buas. Dalam hitungan menit, Pancuran 13 lenyap, seolah tak pernah ada.
Bagi warga sekitar, banjir bandang Sungai Kali Gung pada 20 Desember 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Sebaliknya, kejadian itu terasa seperti teguran yang terlambat didengar. Lebih dari itu, ia menyerupai janji lama yang terus diabaikan.
Lereng yang Pelan-Pelan Botak
Beberapa hari setelah kejadian, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman mengakui fakta yang sejak lama dibisikkan warga: tutupan hutan di lereng Gunung Slamet terus menyusutHutan lindung perlahan berganti rupa. Pepohonan tinggi menyusut, digantikan hamparan sayur-mayur. Warnanya memang hijau, tetapi rapuh.
Menurut Ischak, alih fungsi lahan tersebut ikut meningkatkan risiko banjir bandang. Tanpa akar yang kuat, hujan tak lagi tertahan. Air pun langsung meluncur ke bawah, menyeret apa pun yang longgar tanah, batu, bahkan harapan.
Sebagai respons, pemerintah daerah menjanjikan penghijauan ulang. Mereka akan menanami lahan kritis dan menyiapkan bibit pohon pada 2026. Selain itu, pengawasan lintas sektor bakal diperkuat dengan melibatkan TNI-Polri, Perhutani, BKSDA, hingga pemerintah pusat.
Di atas kertas, rencana itu terdengar rapi. Namun di telinga warga, semuanya terasa datang terlambat.
Di Antara Wisata dan Nafas Hidup
Guci bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang hidup. Air panas dari Pancuran 13 mengalir lewat pipa-pipa sederhana menuju penginapan warga. Dari sanalah dapur menyala. Lewat air itu pula, anak-anak berangkat sekolah. Bahkan, musim liburan sering terasa seperti panen.
Namun ketika banjir bandang datang, dampaknya menjalar ke mana-mana. Tak hanya kolam wisata yang rusak, jaringan pipa air panas pun tertimbun tanah dan batu. Akibatnya, sejumlah penginapan kehilangan sumber utama airnya. Uap hangat yang dulu jadi daya tarik kini tinggal ingatan.
Pejabat menyebut, “Tidak ada korban jiwa.” Kalimat itu kerap menjadi penutup konferensi pers. Akan tetapi, bagi warga, hidup tidak sesederhana selamat atau tidak. Di baliknya, ada pendapatan yang terhenti, utang yang menunggu, serta musim liburan yang seharusnya ramai namun justru penuh kecemasan.
Di lapangan, warga Desa Guci dan Desa Rembul bergerak bersama. Mereka menggali, membersihkan, dan menyingkirkan lumpur dari sumber mata air. Aparat TNI, Polri, BPBD, hingga petugas kehutanan ikut turun tangan. Semua bergerak cepat, berharap keadaan segera pulih.
Meski begitu, di sela kerja gotong royong, ketegangan tetap terasa. Di udara dingin pegunungan, satu pertanyaan menggantung tanpa suara: apakah ini akan terulang?
Normal yang Dipaksakan
Pemerintah daerah menyebut pariwisata Guci “masih berjalan normal”. Memang, beberapa destinasi tetap buka. Bahkan, okupansi penginapan mencapai 90 persen menjelang Natal dan Tahun Baru.
Namun, normal versi siapa?
Hingga kini, Pancuran 13 ikon Guci belum bisa diakses. Pancuran 5 baru diperkirakan pulih setelah pembersihan rampung. Meski begitu, wisatawan terus berdatangan. Jalanan tetap ramai, mobil berjejer, uang terus berputar.
Di balik angka okupansi itu, warga hidup dalam kewaspadaan. Cuaca ekstrem belum usai. Lereng masih terluka. Hutan belum kembali. BPBD memang menyiapkan early warning system berbasis prakiraan cuaca. Teknologi hadir. Akan tetapi, alam tak selalu patuh pada notifikasi.
Di sinilah ironi muncul. Saat risiko meningkat, aktivitas justru dipercepat. Seolah ekonomi harus terus berjalan, apa pun yang terjadi. Seolah alam bisa diminta menunggu.
Gunung yang Tak Pernah Benar-Benar Diam
Dari kejauhan, Gunung Slamet tampak gagah. Diam. Tegak. Namun diam tidak selalu berarti setuju. Lerengnya menyimpan sejarah panjang relasi manusia dan alam. Penebangan berlangsung pelan-pelan. Pembukaan lahan terjadi sedikit demi sedikit. Semuanya sah, berizin, dan kerap dibungkus alasan ekonomi.
Sayuran memang tumbuh cepat. Uang berputar harian. Namun pohon butuh waktu. Akar perlu tahun demi tahun untuk mencengkeram tanah. Ketika manusia memutus keseimbangan sepihak, alam hanya menunggu momen untuk mengembalikan hitungan.
Karena itu, banjir bandang Kali Gung bukan anomali. Ia bagian dari pola yang berulang di banyak tempat dari lereng gunung hingga pesisir, dari hutan lindung hingga kawasan wisata.
Apa yang Disembunyikan Sistem?
Dalam narasi resmi, bencana sering disebut sebagai “dampak cuaca ekstrem”. Kalimat itu aman dan netral. Ia tidak menunjuk siapa pun. Namun di baliknya, sistem membiarkan hutan berubah fungsi tanpa kontrol ketat. Kebijakan pun kerap menimbang ekonomi jangka pendek lebih berat daripada keselamatan jangka panjang.
Penghijauan hampir selalu muncul setelah bencana. Jarang sebelumnya. Bibit pohon datang setelah air bah. Janji pengawasan menguat setelah kerusakan nyata. Seolah kita menunggu alam berteriak dulu sebelum mau mendengar.
Selain itu, sistem gemar memisahkan urusan. Pariwisata berjalan sendiri. Kehutanan punya logika sendiri. Lingkungan sering berakhir di ruang seminar. Di lapangan, semua kepentingan itu bertemu dalam satu arus banjir.
Sementara itu, warga kerap menjadi penyangga terakhir. Mereka menambal kerusakan, membersihkan lumpur, menenangkan wisatawan, dan bertahan di antara janji serta kenyataan.
Menunggu Hujan Berikutnya
Pembersihan Pancuran 13 ditargetkan rampung dalam tujuh hari. Target memang penting. Namun setelah itu, pertanyaan yang lebih besar muncul: apa yang benar-benar berubah?
Apakah lereng akan sungguh dipulihkan?
Apakah alih fungsi lahan akan dikendalikan, bukan sekadar diawasi di atas kertas?
Ataukah pariwisata mau belajar menahan diri ketika alam memberi tanda?
Atau jangan-jangan, kita akan kembali ke siklus lama: ramai, lupa, lalu panik?
Di Guci, uap air panas perlahan kembali terlihat. Warga tersenyum tipis. Wisatawan sibuk berfoto. Dari kejauhan, Gunung Slamet tetap berdiri tenang, seolah tak terjadi apa-apa.
Namun alam selalu mencatat.
Dan suatu hari nanti, air bisa kembali datang tanpa permisi. (red)




