Hiking di IKN: Jalan Kaki, Tanam Pohon, Pulang Bawa Cerita
Tabooo.id Lifestyle – Pernah nggak sih ngerasa capek sama liburan yang isinya cuma foto, makan, lalu pulang? Atau hiking yang ujung-ujungnya cuma konten IG tanpa makna? Nah, di Ibu Kota Nusantara (IKN), konsep liburan mulai bergeser. Bukan cuma soal destinasi, tapi soal pengalaman dan dampaknya.
Gunung Parung, kawasan hutan adat Suku Balik Sepaku, kini hadir dengan wajah baru lewat Paket Wisata Authentic Hiking Gunung Parung. Ini bukan sekadar jalan kaki naik gunung. Ini tentang berjalan pelan, mendengar cerita, dan pulang dengan perspektif baru.
Bukan Sekadar Hiking, Tapi Pengalaman Hidup
Paket wisata ini resmi diluncurkan sebagai penutup rangkaian Peningkatan Kapasitas Pengelola Wisata Budaya Balik Nan Living Museum, yang berlangsung sejak akhir November hingga Desember 2025. Momentum ini menandai lahirnya produk ekowisata berbasis komunitas pertama di kawasan IKN.
Lebih dari 50 peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Timur mulai dari Samarinda, Balikpapan, hingga Penajam Paser Utara ikut dalam peluncuran perdana. Angka ini menunjukkan satu hal minat terhadap wisata berbasis alam dan budaya makin naik kelas.
Orang mulai cari liburan yang “ada isinya”.

Wisata yang Mengajak Mikir, Bukan Cuma Jalan
Authentic Hiking Gunung Parung mengajak wisatawan menyusuri jalur pendakian di hutan adat, dipandu langsung oleh masyarakat lokal. Di tengah perjalanan, peserta mendengar kisah tentang hutan, adat, dan cara hidup Suku Balik yang selama ini menjaga alam tanpa banyak sorotan.
Salah satu aktivitas utamanya menanam pohon. Simbol sederhana, tapi kuat. Bukan sekadar gimmick hijau, tapi pengingat bahwa wisata juga bisa meninggalkan jejak baik bukan cuma sampah dan cerita kosong.
Di sinilah konsep living museum bekerja. Alam bukan pajangan. Budaya bukan properti. Semuanya hidup dan berjalan bersama.
Kenapa Wisata Berbasis Komunitas Makin Diminati?
Jawabannya simpel banyak orang mulai lelah jadi penonton. Generasi sekarang ingin terlibat.
Melalui program “The Living Museum Story Voices of The Forest”, Otorita IKN mendorong masyarakat lokal menjadi pelaku utama, bukan figuran. Pokdarwis Gunung Parung mendapat pendampingan langsung mulai dari storytelling, pengemasan produk wisata, strategi pemasaran, hingga produksi konten promosi.
Sebanyak 10 peserta terpilih mengikuti lokakarya intensif. Hasilnya bukan cuma paket wisata baru, tapi juga peningkatan kepercayaan diri dan profesionalisme pengelola lokal.
Wisata tidak lagi datang dari luar. Wisata tumbuh dari dalam.
Dampak Nyata: Ekonomi Jalan, Identitas Kuat
Gunung Parung kini menjadi destinasi wisata pertama di kawasan IKN yang menggabungkan alam dan budaya dalam satu napas. Efek dominonya terasa jelas lapangan kerja baru, peran pemandu lokal menguat, dan ekonomi sekitar ikut bergerak.
Otorita IKN juga melakukan kunjungan lapangan untuk memastikan pengembangan destinasi tetap selaras dengan prinsip keberlanjutan. Mereka tidak ingin wisata berkembang tapi alam dan budaya justru tersisih.
Pendekatannya jelas pelan, terukur, dan melibatkan warga.

IKN dan Gaya Hidup Baru: Liburan yang Bertanggung Jawab
Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi, menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari pengembangan Museum Kehidupan bagi masyarakat adat.
Dengan dukungan mentor seperti Ida Bagus Agung Gunasthawa (Samsara Living Museum, Bali) dan pendampingan teknis berstandar internasional, Gunung Parung diposisikan bukan hanya sebagai destinasi, tapi sebagai contoh.
Contoh bahwa pembangunan tidak harus meminggirkan manusia dan alam.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Mungkin setelah ini, kamu bakal mikir dua kali sebelum liburan. Bukan soal mahal atau murah, tapi soal makna.
Apakah perjalananmu cuma bikin memori di galeri HP? Atau juga meninggalkan jejak baik di tempat yang kamu datangi?
Di era ketika semua orang ingin “healing”, Gunung Parung menawarkan sesuatu yang jarang liburan yang menyembuhkan, tanpa melukai. @teguh







