Tabooo.id: Nasional – Memasuki hari keempat Ramadan 1447 Hijriah, lonjakan harga kembali menghantam dapur rumah tangga. Badan Pangan Nasional mencatat harga cabai rawit merah secara nasional menembus Rp88.462 per kilogram. Angka ini melonjak Rp8.591 hanya dalam sehari.
Kenaikan juga terjadi pada telur ayam ras. Harga rata-rata nasional kini mencapai Rp31.889 per kilogram, naik Rp612 dibanding hari sebelumnya. Bagi banyak keluarga, terutama kelompok berpenghasilan harian, kenaikan ini langsung terasa karena dua komoditas tersebut menjadi bahan pokok menu sahur dan berbuka.
Data Panel Harga Bapanas yang dirilis Minggu pagi menunjukkan pergerakan harga yang beragam. Di satu sisi, sejumlah komoditas turun. Namun di sisi lain, bahan pangan utama justru merangkak naik.
Beras Relatif Stabil, Cabai dan Daging Tekan Dapur
Harga beras premium turun tipis menjadi Rp15.425 per kilogram. Beras medium juga terkoreksi ke Rp12.900 per kilogram. Sementara itu, beras SPHP naik sangat tipis ke Rp12.450 per kilogram.
Meski beras cenderung stabil, tekanan terbesar justru datang dari komoditas hortikultura dan protein hewani. Selain cabai rawit merah, harga cabai merah keriting naik menjadi Rp48.462 per kilogram. Daging sapi murni ikut merangkak ke Rp139.667 per kilogram. Daging ayam ras pun naik ke Rp42.769 per kilogram.
Kenaikan ini berpotensi memicu efek berantai. Pedagang makanan siap saji, warung kecil, hingga pelaku UMKM kuliner harus menghitung ulang biaya produksi mereka.
Minyak Goreng dan Gula Turun, Tapi Belum Cukup Redam Tekanan
Di tengah lonjakan cabai dan telur, beberapa komoditas memang menunjukkan penurunan. Harga minyak goreng kemasan turun ke Rp19.831 per liter. Minyak goreng curah ikut melemah ke Rp16.962 per liter. Produk Minyakita juga turun ke Rp17.750 per liter.
Gula konsumsi terkoreksi ke Rp17.719 per kilogram. Bawang putih bonggol pun turun signifikan ke Rp35.667 per kilogram.
Namun penurunan ini belum cukup menutup kenaikan pada komoditas yang paling sering dibeli masyarakat setiap hari.
Siapa yang Paling Terdampak?
Kenaikan harga paling berat dirasakan rumah tangga berpendapatan rendah dan pekerja sektor informal. Mereka tidak memiliki ruang fiskal untuk menyerap lonjakan harga mendadak. Setiap kenaikan ribuan rupiah berarti pengurangan porsi belanja atau kualitas konsumsi.
Selain itu, pelaku usaha kecil seperti pedagang gorengan, warteg, dan katering rumahan juga menghadapi dilema. Jika mereka menaikkan harga, pelanggan bisa berkurang. Jika tidak, margin keuntungan menyusut.
Lonjakan harga pangan di awal Ramadan selalu menjadi ujian stabilitas pasokan dan distribusi. Negara memang bisa mengandalkan data harian untuk memantau harga. Namun bagi masyarakat, yang lebih penting bukan grafik stabilitas, melainkan harga yang benar-benar terkendali di pasar.
Sebab di bulan ketika konsumsi meningkat dan kebutuhan sosial bertambah, dapur yang panas bukan hanya karena kompor menyala, tetapi juga karena harga yang ikut membakar. @dimas




