Tabooo.id: Nasional – Harga sejumlah komoditas pangan nasional bergerak turun pada Rabu (28/1/2026) pagi. Tren ini membawa angin segar bagi konsumen rumah tangga, khususnya kelompok berpenghasilan menengah ke bawah, yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi tekanan biaya hidup.
Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang diakses pukul 09.30 WIB, berbagai komoditas strategis mencatat koreksi harga. Penurunan terlihat pada bumbu dapur, cabai, hingga sebagian protein hewani.
Kondisi ini tidak hanya tercermin pada angka statistik, tetapi juga mulai terasa pada belanja harian masyarakat.
Bumbu Dapur Lebih Terjangkau
Harga rata-rata nasional bawang merah turun menjadi Rp38.759 per kilogram atau berkurang Rp1.768 dibandingkan hari sebelumnya. Bawang putih bonggol juga melemah ke level Rp38.041 per kilogram.
Penurunan ini memberi dampak nyata pada pengeluaran dapur. Bagi banyak keluarga, bawang merah dan bawang putih merupakan kebutuhan harian yang sulit tergantikan. Saat harganya menurun, sisa anggaran rumah tangga dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, seperti lauk pauk atau biaya pendidikan anak.
Kelompok cabai ikut mencatat penurunan. Cabai merah keriting berada di Rp33.859 per kilogram, cabai merah besar Rp33.812 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp50.115 per kilogram.
Turunnya harga cabai memberi efek ganda. Selain menekan potensi inflasi pangan, kondisi ini juga menurunkan tekanan psikologis masyarakat. Cabai kerap menjadi simbol “mahalnya kebutuhan dapur” di mata publik, sehingga ketika harganya turun, persepsi biaya hidup ikut membaik.
Harga daging ayam ras berada di rata-rata Rp38.458 per kilogram. Telur ayam ras turun dan tercatat Rp30.238 per kilogram.
Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, penurunan harga ayam dan telur berarti peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga. Asupan gizi yang lebih baik berpotensi berdampak pada kesehatan dan produktivitas, terutama bagi anak-anak dan pekerja.
Sementara itu, harga daging sapi murni tercatat Rp135.604 per kilogram. Meski belum turun signifikan, stabilitas harga daging sapi membantu menjaga ekspektasi pasar agar tidak terjadi lonjakan mendadak.
Beras Stabil, Keamanan Pangan Terjaga
Harga beras relatif stabil. Beras premium tercatat Rp15.491 per kilogram, beras medium Rp13.232 per kilogram, dan beras program SPHP Rp12.404 per kilogram.
Stabilnya harga beras sangat penting bagi masyarakat. Sebagai makanan pokok utama, kenaikan kecil pada harga beras dapat berdampak besar pada total pengeluaran rumah tangga. Stabilitas ini membantu menjaga rasa aman terkait ketersediaan pangan.
Harga minyak goreng curah berada di Rp17.485 per liter. Minyak goreng kemasan tercatat Rp20.721 per liter, sedangkan MinyaKita dijual rata-rata Rp17.350 per liter.
Di sektor perikanan, harga ikan kembung turun menjadi Rp43.978 per kilogram, ikan tongkol Rp36.152 per kilogram, dan ikan bandeng Rp36.077 per kilogram.
Penurunan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk menyusun menu yang lebih bervariasi tanpa menambah beban biaya. Variasi konsumsi pangan berkontribusi pada pola makan yang lebih seimbang.
Harga gula konsumsi tercatat Rp18.022 per kilogram. Tepung terigu kemasan berada di Rp12.599 per kilogram, sementara terigu curah Rp9.509 per kilogram.
Harga yang terkendali membantu pelaku usaha kecil, seperti pedagang gorengan, penjual kue, dan usaha rumahan, menjaga biaya produksi tetap stabil.
Dampak Sosial-Ekonomi yang Lebih Luas
Secara umum, tren penurunan harga pangan berpotensi memperbaiki daya beli masyarakat. Jika kondisi ini bertahan, konsumsi rumah tangga dapat meningkat, yang pada akhirnya mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Meski demikian, pemerintah tetap perlu memastikan pasokan terjaga dan distribusi berjalan lancar. Tanpa pengawasan, penurunan harga berisiko bersifat sementara.
Bagi masyarakat kecil, stabilitas pangan bukan sekadar deretan angka statistik. Stabilitas menentukan apakah keluarga bisa makan cukup, bergizi, dan layak setiap hari. @dimas




