Tabooo.id: Bisnis – Harga minyak mentah dunia menembus level US$100 per barel, memecahkan rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Juli 2022. Lonjakan ini dipicu konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang mengguncang pasar global. Mengutip Reuters, minyak Brent sempat naik US$18,35 menjadi US$111,04 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menyentuh US$111,24 per barel.
Senin (9/3/2026), lonjakan harga ini jelas memengaruhi ekonomi global. Namun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir. Ia menegaskan harga BBM subsidi, Pertalite, dan Solar, akan tetap stabil hingga Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
“Negara hadir untuk memastikan harga BBM subsidi tidak naik, meski harga minyak dunia melambung tinggi,” ujar Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Pemerintah menyadari risiko konflik Timur Tengah terhadap ekonomi dalam negeri. Bahlil menjelaskan stok BBM nasional masih aman dan distribusi berjalan lancar. Sebagian impor minyak mentah berasal dari Timur Tengah, tetapi minyak olahan sebagian besar dipasok dari negara Asia Tenggara dan produksi dalam negeri. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik membeli BBM.
Dampak Bagi Rumah Tangga dan Usaha
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pemerintah bisa menahan harga BBM subsidi dalam jangka pendek.
“Keputusan ini penting untuk menjaga daya beli rumah tangga, menahan inflasi, dan mencegah kepanikan pasar,” ujarnya.
Langkah tersebut memberi napas bagi pelaku usaha kecil, sektor transportasi, dan distribusi pangan. Tanpa penahanan harga, lonjakan minyak dunia akan langsung menaikkan biaya produksi dan transportasi, yang membebani masyarakat kelas menengah ke bawah.
Risiko Global dan Strategi Mitigasi
Kenaikan harga minyak menunjukkan betapa rentannya ekonomi nasional terhadap gejolak global. Perang di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi harga energi, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian bagi investor dan pelaku usaha. Pemerintah mencoba menahan dampak langsung bagi rakyat melalui subsidi BBM, tetapi tekanan terhadap inflasi tetap ada.
Langkah ini menjadi cermin harga minyak boleh naik hingga rekor, tapi tanpa kebijakan mitigasi, rumah tangga paling terdampak akan selalu menjadi korban pertama. BBM tetap stabil, rakyat lega, tetapi pengingatnya jelas di tengah ketegangan geopolitik, keamanan energi dan daya beli tetap rawan. @dimas





