Kamis, Oktober 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hak Anak Perempuan di Tengah Tuntutan Menikah

by Waras
Oktober 28, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Dalam tradisi masyarakat kita, sering kali menganggap perempuan yang belum menikah adalah perempuan yang tertinggal. Seolah hidupnya punya tenggat. Padahal, menikah bukan kewajiban untuk membuktikan keberhasilan keluarga. Anak perempuan berhak menentukan masa depannya sendiri.

Tabooo.id: Ada anak perempuan yang belum selesai mengenali dirinya sendiri, tetapi sudah mendapatkan pertanyaan menikah. Padahal mereka ada yang masih ingin kuliah, membangun karier, atau sekadar menikmati hidup tanpa terburu-buru. Namun, di tengah percakapan keluarga, kalimat “Kapan kamu menikah?” bisa mengalahkan keinginan dan impiannya.

Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Akan tetapi, ketika terus diulang, ia bisa berubah menjadi tekanan yang membuat seorang perempuan merasa hidupnya selalu terlambat.

Pernikahan Jadi Tenggat Hidup Perempuan

Di banyak lingkungan, masih menganggap pernikahan sebagai salah satu penanda keberhasilan hidup perempuan. Ketika seorang perempuan lulus kuliah, pertanyaan tentang pasangan mulai bermunculan. Setelah bekerja, pertanyaan itu berubah menjadi desakan untuk segera menikah.

Masalahnya, tidak semua perempuan memiliki rencana hidup yang sama. Ada yang ingin menikah muda. Ada pula yang ingin melanjutkan pendidikan, menata keuangan, mengejar karier, atau memahami dirinya lebih jauh. Kita layak menghormati semua pilihan itu selama bisa menjalaninya dengan sadar dan tanpa paksaan.

Namun, masyarakat sering memperlakukan perbedaan pilihan seolah-olah merupakan penyimpangan. Perempuan yang menikah muda bisa mendapat pujian karena dianggap berhasil menjalankan perannya. Sebaliknya, perempuan yang belum menikah pada usia tertentu bisa menerima pertanyaan, sindiran, bahkan anggapan bahwa dirinya terlalu pemilih.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Ironisnya, perempuan seolah memiliki banyak pilihan, tetapi lingkungan terus mengarahkan mereka menuju satu garis finis yang sama.

Kekhawatiran Keluarga yang Berubah Menjadi Tekanan

Tidak semua keluarga mendesak anak perempuannya menikah karena ingin mengendalikan hidupnya. Sebagian orang tua mungkin khawatir anaknya kesepian, takut ia kesulitan menemukan pasangan, atau ingin memastikan ada seseorang yang mendampinginya pada masa depan.

Ada pula keluarga yang hidup dalam lingkungan sosial yang sangat mementingkan status pernikahan. Mereka mungkin takut menjadi bahan pembicaraan tetangga atau menerima pertanyaan berulang dari kerabat.

Kekhawatiran itu bisa lahir dari rasa sayang. Namun, niat baik tidak otomatis membuat setiap bentuk tekanan menjadi benar.

Ketika perhatian berubah menjadi tuntutan, anak perempuan bisa merasa harus memenuhi harapan orang lain agar keluarganya tetap menganggapnya sebagai anak yang berbakti.

Ia mungkin mulai meragukan keputusannya sendiri. Ia merasa bersalah karena belum menikah, meskipun sebenarnya belum siap. Bahkan, ia bisa menerima hubungan yang tidak diinginkan hanya karena takut mengecewakan keluarga.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kapan seseorang akan menikah. Persoalannya adalah apakah ia masih memiliki ruang untuk menentukan hidupnya sendiri.

Anak Perempuan Bukan Beban yang Harus Dipindahkan


Ada cara pandang yang perlu kita pertanyakan: keluarga kerap menganggap anak perempuan sebagai tanggung jawab yang harus segera mereka serahkan kepada suami.

Cara pandang ini menempatkan pernikahan seolah-olah menjadi jalan keluar dari keberadaan seorang anak perempuan di rumah orang tuanya.

Padahal, anak bukan beban yang harus dipindahkan. Pernikahan juga bukan transaksi untuk mengalihkan tanggung jawab dari satu keluarga kepada keluarga lain.

Perempuan tetap memiliki identitas, kebutuhan, ambisi, dan hak atas kehidupannya setelah menikah. Sebaliknya, perempuan yang belum menikah juga tidak otomatis menjadi beban hanya karena masih tinggal bersama orang tua atau belum memenuhi standar sosial tertentu.

Tentu, keluarga memiliki keterbatasan ekonomi, kebutuhan untuk mengatur kehidupan bersama, dan harapan terhadap masa depan anak-anaknya. Keluarga perlu membicarakan hal-hal tersebut secara terbuka.

Namun, keluarga tidak boleh menggunakan persoalan ekonomi dan pengaturan rumah tangga sebagai alasan untuk memaksa seseorang menikah sebelum ia menginginkannya.

Keluarga tidak seharusnya menganggap anak perempuan sebagai tanggungan yang harus segera mereka selesaikan. Ia adalah manusia yang sedang membangun kehidupannya.

Hak Anak Perempuan atas Masa Depannya

Anak perempuan memiliki hak untuk menentukan masa depannya. Hal ini tidak berhenti pada kebebasan memilih pasangan atau waktu menikah.

Hak itu juga berkaitan dengan kesempatan memperoleh pendidikan, mengembangkan kemampuan, menyampaikan pendapat, dan tumbuh tanpa tekanan yang merampas rasa aman.

Ketika anak perempuan masih berusia di bawah 18 tahun, perlindungan terhadap kepentingan terbaik anak menjadi semakin penting. Pernikahan anak bukan sekadar persoalan tradisi atau keputusan keluarga, melainkan isu perlindungan anak yang memiliki konsekuensi bagi pendidikan, kesehatan, dan masa depan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2025, sebanyak 4,56 persen perempuan berusia 20–24 tahun di Indonesia pernah menikah atau hidup bersama pasangan sebelum berusia 18 tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan perkawinan anak masih membutuhkan perhatian.

Sementara itu, tekanan untuk menikah tidak selalu berujung pada perkawinan anak. Perempuan dewasa pun bisa mengalami desakan yang mengganggu kebebasan mereka dalam mengambil keputusan.

Karena itu, pembicaraan tentang hak anak perempuan perlu melampaui pertanyaan apakah ia akan menikah. Kita juga perlu bertanya apakah ia memperoleh kesempatan untuk tumbuh, belajar, merasa aman, dan mengenali keinginannya sendiri.

Menikah Adalah Pilihan, Bukan Tenggat Hidup

Penting untuk mengatakan bahwa menikah bukanlah pilihan yang keliru. Bagi sebagian perempuan, pernikahan merupakan keputusan yang membahagiakan dan sesuai dengan rencana hidup mereka.

Kita perlu mengkritik anggapan bahwa semua perempuan harus menikah sesuai urutan dan waktu yang orang lain tentukan, bukan pernikahannya.

Perempuan yang memilih menikah muda berhak dihormati. Perempuan yang ingin menunda pernikahan juga berhak memperoleh penghormatan yang sama.

Begitu pula perempuan yang belum menemukan pasangan, masih ingin belajar, atau belum ingin menikah sama sekali.

Kita tidak bisa mengukur kesiapan seseorang hanya melalui usianya. Kita juga tidak bisa menyimpulkan keberhasilan hidup hanya dari status perkawinannya.

Setiap orang memiliki keadaan, kebutuhan, dan pertimbangan yang berbeda. Menghormati perbedaan itu bukan berarti mengabaikan keluarga. Justru, keluarga dapat menjadi tempat yang aman untuk membicarakan pilihan tanpa rasa takut.

Dukungan Keluarga, Bukan Tekanan untuk Menikah

Mungkin orang tua khawatir anak perempuannya akan menghadapi masa depan sendirian. Mungkin mereka ingin melihat anaknya hidup mapan dan bahagia.

Namun, dengan mempercepat pernikahan tidak bisa menjamin kebahagiaan. Hubungan yang sehat membutuhkan kesiapan, persetujuan, dan keputusan yang lahir dari keinginan masing-masing pihak.

Sebaliknya, menunda pernikahan juga tidak berarti menolak keluarga atau mengabaikan masa depan.

Kadang-kadang, anak perempuan bukan membutuhkan nasihat agar segera mencari pasangan, melainkan kesempatan untuk menjelaskan apa yang sedang ia perjuangkan.

Keluarga bisa bertanya tentang rencana hidupnya tanpa menghakimi. Mereka bisa menyampaikan kekhawatiran tanpa mengubahnya menjadi ancaman. Mereka juga bisa mendampingi anaknya tanpa mengambil alih seluruh keputusan.

Di situlah keluarga menunjukkan dukungannya: bukan menentukan jalan hidup anak, melainkan membekalinya agar ia bisa memilih jalannya sendiri.

Pernikahan Tak Menentukan Nilai Perempuan

Persoalan ini bukan semata-mata tentang perempuan yang belum menikah. Ini tentang cara masyarakat memperlakukan kehidupan perempuan sebagai sesuatu yang harus memenuhi tenggat tertentu.

Masyarakat kerap menjadikan status perkawinan sebagai ukuran keberhasilan perempuan. Akibatnya, orang bisa mengesampingkan pendidikan, pekerjaan, kemandirian, dan kebahagiaan pribadi yang juga penting dalam kehidupan perempuan.

Tekanan ini membuat sebagian perempuan merasa baru berhasil ketika seseorang memilih mereka sebagai pasangan. Akhirnya kita terlalu sibuk bertanya kapan anak perempuan menikah, sampai lupa bertanya apakah ia bahagia dengan hidup yang sedang dijalaninya.

Padahal, nilai seorang perempuan tidak dimulai ketika ia menikah. Nilai itu juga tidak berkurang ketika ia memutuskan untuk menunggu.

Bagi kamu yang sedang menghadapi pertanyaan serupa, keinginan untuk menentukan waktu dan arah hidup bukan berarti kamu tidak menyayangi keluarga. Kamu boleh mendengarkan nasihat orang tua tanpa harus mengabaikan suara hatimu sendiri.

Bagi orang tua, memberi ruang kepada anak perempuan bukan berarti kehilangan peran. Itu berarti mempercayai bahwa anak yang dibesarkan dengan kasih sayang juga membutuhkan kesempatan untuk mengambil keputusan.

Pada akhirnya, pernikahan seharusnya menjadi pilihan yang dijalani dengan kesiapan, bukan kewajiban yang dikejar demi meredam omongan orang.

Anak perempuan tidak dilahirkan untuk segera menjadi istri demi membuktikan bahwa keluarganya berhasil membesarkannya. Ia juga berhak tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Jadi, ketika kita bertanya kapan seorang perempuan akan menikah, mungkin ada pertanyaan lain yang lebih penting: sudahkah kita memberinya ruang untuk menentukan kehidupan yang benar-benar ingin ia jalani? @waras

Tags: hak anak perempuanKesetaraan Genderpernikahan perempuanrelasi keluargatekanan sosial

Kamu Melewatkan Ini

“Cari yang Laki-Laki”, Stereotip Gender ala Mentan?

“Cari yang Laki-Laki”, Stereotip Gender Mentri Pertanian?

by dimas
Agustus 13, 2026

Ucapan “Cari yang Laki-Laki” dari Mentri Pertanian (Mentan) Amran menuai sorotan karena dinilai mencerminkan stereotip gender dalam penentuan jabatan. Tabooo.id...

Gotong Royong atau Paksaan? Wajah Lain Perayaan Kemerdekaan

Gotong Royong atau Paksaan? Wajah Lain Perayaan Kemerdekaan

by dimas
Agustus 2, 2026

Gotong royong seharusnya lahir dari keikhlasan. Namun, iuran Agustusan yang dipatok dan penuh tekanan berisiko berubah menjadi pungli berkedok perayaan...

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

by dimas
Juli 21, 2026

Gerakan Perempuan Indonesia, perlawanan di bawah bayang Penindasan mengulas sejarah panjang pembungkaman gerakan perempuan, dari kolonialisme, Gerwani, Orde Baru, hingga...

Next Post
Demo BEM Soloraya, Lima Tuntutan Kembali Menagih Janji Pemerintah

Demo BEM Soloraya, Lima Tuntutan Kembali Menagih Janji Pemerintah

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id