Tabooo.id: Regional – Gunung Semeru di Jawa Timur kembali meletus, Selasa (24/2/2026) pukul 12.28 WIB. Dalam sepekan terakhir, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini sudah meletus sepuluh kali, menunjukkan bahwa aktivitasnya tetap tinggi dan mengancam.
PVMBG melalui aplikasi MAGMA Indonesia melaporkan bahwa kolom abu belum terukur secara pasti, dan visual letusan tidak terlihat. Aktivitas erupsi masih berlangsung hingga saat ini, memaksa warga dan petugas mitigasi tetap siaga.
Gempa dan Letusan yang Intens
MAGMA Indonesia mencatat 22 gempa letusan dengan amplitudo 15-22 mm dan durasi 60-131 detik, 3 gempa guguran berdurasi 25-63 detik, serta satu gempa hembusan selama 57 detik. Data ini menegaskan bahwa Semeru belum menunjukkan tanda mereda.
PVMBG meminta warga menjauhi sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak. Di luar area itu, masyarakat dianjurkan menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai, karena awan panas dan aliran lahar bisa menjangkau hingga 17 kilometer.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Sejak awal 2026, Indonesia mencatat 753 letusan gunung api, dengan Semeru memimpin 394 letusan, menegaskan konsistensi statusnya sebagai gunung paling aktif di nusantara.
Warga desa kaki gunung, petani di lereng, dan pelaku pariwisata lokal langsung merasakan dampaknya. Abu menutupi lahan pertanian, akses jalan terganggu, dan sektor wisata ikut terdampak. Semeru bukan sekadar risiko alam; letusannya juga membawa ketidakpastian ekonomi bagi masyarakat.
Upaya Pemerintah dan Refleksi Publik
Pemerintah dan tim SAR terus memantau gunung dan menyiapkan mitigasi darurat. Namun bagi warga, setiap letusan menimbulkan pertanyaan berapa lama kita bisa bertahan di bawah bayang-bayang Semeru?
Gunung Semeru mengingatkan bahwa alam selalu memiliki kata terakhir. Kita hanya bisa bersiap, memantau, dan berharap. @dimas




