Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Jualan Cilok ke Gaji Tetap: Perjalanan Pekerja Disabilitas di Sukoharjo

by eko
Februari 24, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di dapur itu selalu dimulai dengan bunyi yang sama: denting panci bertemu kompor, suara sayur dipotong cepat, dan aroma nasi hangat mengepul seperti kabut tipis. Di sudut ruangan, seorang perempuan bertubuh mungil bergerak lincah sambil membawa ember pel. Gerakannya tidak selalu sempurna kadang sedikit tertatih tetapi ritmenya tegas, seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia ingin melangkah.

Namanya Latifah Kurniawati, 26 tahun. Di dapur program makan bergizi gratis di Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, ia akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini terasa mahal: pijakan hidup yang stabil.

Ketika Kesempatan Datang dari Tempat Tak Terduga

Sebelum mengenakan seragam kerja, Latifah menjalani hari-hari yang jauh lebih sunyi. Ia berjualan cilok dan jajanan rumahan dengan sistem pre-order. Kadang pesanan datang, kadang tidak. Pada hari baik, ia bisa membawa pulang Rp150 ribu. Pada hari sepi, penghasilannya nyaris nol. Kondisi yang tidak menentu itu membuat hidup terasa seperti berjalan di jembatan gantung selalu goyah, tidak pernah benar-benar aman.

Kenyataan tersebut bukan pengecualian bagi penyandang disabilitas di Indonesia, melainkan gambaran umum. Tingkat partisipasi kerja kelompok disabilitas masih jauh tertinggal dibanding populasi non-disabilitas. Banyak perusahaan belum menyiapkan infrastruktur maupun budaya kerja yang inklusif. Diskriminasi pun masih muncul, baik secara halus maupun terang-terangan. Kesempatan sering berhenti sebagai jargon, bukan praktik nyata.

Sejak kecil, Latifah sudah memahami batasan sosial itu. Ia kehilangan ayah saat masih duduk di taman kanak-kanak. Dua kakaknya merantau ke luar pulau. Ia memilih tetap tinggal bersama ibunya di Sukoharjo, saling menopang dalam kehidupan sederhana. Keterbatasan fisik mempersempit pilihan pekerjaan, tetapi kebutuhan ekonomi tidak pernah mengecil.

Ini Belum Selesai

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

Piagam Ada, Kursi Hilang: Siapa yang Kalah di Jalur Prestasi SMP Mojokerto?

Kesempatan kemudian datang dari tempat yang tidak ia duga: dapur program makan bergizi gratis yang berdiri tidak jauh dari rumahnya.

Awalnya, sang ibu yang mendaftar kerja. Namun faktor usia membuat ibunya tidak memenuhi syarat. Latifah pun menggantikan posisi pendaftar. Ia mengikuti wawancara dengan jawaban jujur, tanpa strategi khusus. Hasilnya di luar dugaan ia diterima.

Peristiwa itu tampak sederhana, tetapi dampaknya besar.

Dapur sebagai Ruang Sosial

Bagi sebagian orang, dapur MBG hanyalah fasilitas pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Namun bagi Latifah, tempat itu menjadi ruang sosial yang menghidupkan kembali rasa percaya diri.

Di sana, orang-orang tidak melihatnya sebagai “perempuan difabel”. Mereka mengenalnya sebagai pekerja kebersihan. Ia memegang tanggung jawab. Ia memiliki jadwal kerja. Ia menerima gaji tetap. Rekan-rekan kerja menyapa namanya setiap pagi.

Rasa dihargai sering hadir bukan melalui kata-kata besar, melainkan lewat rutinitas kecil: ajakan bercanda, permintaan bantuan, atau sapaan yang setara.

“Senang banget bisa kerja di sini,” katanya. Kalimat sederhana itu memuat makna psikologis yang dalam diterima apa adanya.

Lingkungan kerja inklusif bukan sekadar membuka lowongan bagi penyandang disabilitas. Lingkungan seperti itu menciptakan rasa normal: setiap orang berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Dari rasa normal tersebut, kepercayaan diri pun tumbuh perlahan.

Konflik Sunyi: Mandiri tapi Rentan

Meski begitu, kisah Latifah tetap menyimpan paradoks yang jarang dibicarakan. Ia berhasil mandiri, tetapi masih berada dalam posisi rentan. Ia bekerja, namun keberlanjutan pekerjaannya bergantung pada program pemerintah. Ia kuat secara mental, tetapi sistem sosial di luar sana belum tentu sekuat itu menopangnya.

Program MBG memang membuka pintu inklusi. Namun pertanyaan penting muncul: apakah pintu itu akan tetap terbuka dalam jangka panjang?

Kehadiran negara melalui program sosial mampu mengubah kehidupan individu secara drastis. Di sisi lain, ketergantungan terhadap kebijakan juga memunculkan kecemasan baru. Jika program berhenti, apakah kesempatan kerja inklusif tetap tersedia?

Di sinilah absurditas sosial terlihat jelas. Penyandang disabilitas tidak kekurangan kemampuan, tetapi kekurangan akses. Mereka tidak kurang produktif, tetapi sering kekurangan kepercayaan dari lingkungan kerja.

Latifah hanya satu contoh dari banyak potensi yang selama ini terhalang struktur sosial.

Sepeda Listrik: Simbol Kemandirian

Perubahan paling nyata dalam hidupnya muncul ketika ia berhasil membeli sepeda listrik dari hasil kerja sendiri.

Bagi orang lain, sepeda listrik mungkin sekadar alat transportasi. Bagi Latifah, benda itu menjadi simbol kemerdekaan. Ia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada orang lain untuk mobilitas. Ia dapat bergerak dengan kendali sendiri. Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan bangga karena memperoleh sesuatu dari kerja keras, bukan dari belas kasihan.

Simbol seperti ini memiliki dampak psikologis besar. Kepemilikan aset pertama dari hasil kerja sering meningkatkan rasa kontrol diri dan harga diri, terutama bagi kelompok rentan.

Sepeda itu bukan sekadar kendaraan. Ia menjadi bukti bahwa kesempatan mampu mengubah kualitas hidup secara nyata.

Sikap Tabooo: Inklusi Bukan Amal, Tapi Hak

Kisah Latifah tidak seharusnya berhenti sebagai cerita inspiratif yang membuat orang terharu sesaat. Kisah ini justru mengajak kita bercermin: mengapa kesempatan kerja inklusif masih terasa langka?

Inklusi bukan amal. Inklusi adalah hak.

Ketika penyandang disabilitas memperoleh ruang kerja yang layak, manfaatnya tidak hanya dirasakan individu. Produktivitas sosial meningkat, ketergantungan bantuan berkurang, dan rasa kemanusiaan tumbuh lebih sehat.

Program seperti MBG menunjukkan satu hal penting: sistem bisa berubah ketika ada kemauan nyata. Harapan Latifah agar program ini terus berjalan lahir dari pengalaman langsung bahwa kesempatan kerja merupakan bentuk keadilan sosial yang bisa dirasakan, bukan sekadar slogan.

Penutup: Pertanyaan yang Tersisa

Sore hari, setelah dapur mulai sepi, Latifah pulang dengan sepeda listriknya. Jalan desa yang ia lewati mungkin tetap sama seperti dulu. Namun dirinya sudah berbeda.

Kini ia bukan lagi sekadar anak bungsu yang tinggal bersama ibu. Ia seorang pekerja. Ia kontributor ekonomi keluarga. Ia individu mandiri yang memiliki arah hidup.

Perubahan besar ternyata tidak selalu datang dari peristiwa spektakuler. Kadang perubahan lahir dari kesempatan sederhana lowongan kerja yang benar-benar terbuka bagi semua orang.

Pertanyaannya sekarang bukan tentang Latifah. Pertanyaannya tentang kita. Berapa banyak Latifah lain di luar sana yang masih menunggu pintu kesempatan dibuka? @eko

Tags: GajiLifeMBGsukoharjo

Kamu Melewatkan Ini

MBG Libur Sekolah, Anak Tenang, Pengusaha Kepanasan

MBG Libur Sekolah, Anak Tenang, Pengusaha Kepanasan

by dimas
Juni 21, 2026

BGN menghentikan MBG selama libur sekolah demi menghemat Rp3 triliun. Anak tenang, tetapi pengusaha dan mitra SPPG menilai kebijakan itu...

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

by teguh
Juni 20, 2026

Ribuan mahasiswa mendatangi Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (19/06/2026). Mereka membawa satu kegelisahan yang kini makin keras terdengar karena...

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Next Post
IHSG Melemah Tertekan Ketidakpastian Global dan Suku Bunga AS

IHSG Melemah Tertekan Ketidakpastian Global dan Suku Bunga AS

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id