Tabooo.id: Regional – Jawa Tengah diminta menahan diri. Menjelang pergantian tahun 2025/2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi secara terbuka mengimbau masyarakat agar tidak merayakan malam tahun baru secara berlebihan. Ia menilai risiko bencana masih mengintai sejumlah wilayah rawan di provinsi ini.
Dalam keterangan tertulis Rabu (24/12/2025), Luthfi menegaskan bahwa beberapa daerah di Jateng masih berada dalam ancaman banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. “Saya imbau masyarakat untuk tidak euforia terkait pesta tahun baru. Ingat, di wilayah kita masih ada daerah yang terdampak bencana,” ujarnya.
Peta Risiko Sudah di Tangan Pemerintah
Imbauan tersebut lahir dari pemetaan risiko yang jelas. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Forkopimda kabupaten/kota telah memetakan potensi bencana selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Mereka mengevaluasi setiap wilayah rawan agar siap menghadapi kemungkinan terburuk, mulai dari longsor di kawasan perbukitan hingga banjir di daerah dataran rendah. Pemerintah daerah pun mengarahkan seluruh jajaran untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Keselamatan Jadi Prioritas Utama
Bagi pemerintah daerah, keselamatan warga menjadi prioritas utama. Luthfi menegaskan bahwa negara harus hadir secara nyata untuk menjaga keamanan masyarakat selama libur panjang.
Aparat tetap bersiaga, pemerintah menyiapkan logistik, dan seluruh unsur terkait wajib bergerak cepat ketika situasi darurat muncul. Fokus pengamanan pun diarahkan pada pencegahan dan mitigasi bencana, bukan semata menjaga keramaian perayaan.
Pengetatan euforia jelas menguntungkan warga di wilayah rawan. Dengan menahan pesta besar, masyarakat dapat menekan risiko korban jiwa dan kerugian materi sejak awal. Aparat dan pemerintah daerah juga terbantu karena dapat memusatkan perhatian pada potensi bencana.
Namun, kebijakan ini membuat pelaku usaha hiburan, pedagang petasan, dan pihak yang menggantungkan omzet dari malam tahun baru harus menahan harapan keuntungan. Demi keselamatan bersama, roda ekonomi hiburan sementara harus melambat.
Doa Bersama, Bukan Sekadar Pesta
Sebagai alternatif, Luthfi mendorong masyarakat mengisi pergantian tahun dengan doa bersama. Ia tidak melarang hiburan, tetapi meminta masyarakat menyelipkan doa untuk keselamatan dan ketenangan wilayah.
Soal petasan, Luthfi mengingatkan bahwa pemerintah pusat telah mengatur penggunaannya. Ia meminta masyarakat mematuhi aturan tersebut tanpa mencari celah.
Pesannya lugas: merayakan boleh, lengah jangan. Saat alam belum sepenuhnya bersahabat, pesta semalam tak sebanding dengan risiko yang mengintai. Tahun baru seharusnya menjadi momen mawas diri bukan ajang pamer siapa paling meriah. (red)




