Tabooo.id: Bisnis – Pasar saham pekan ini memang tidak runtuh. Namun bagi sebagian investor terutama ritel yang masuk di harga puncak periode 23-27 Februari 2026 terasa seperti mimpi buruk.
Dalam lima hari perdagangan, sepuluh saham ambles lebih dari 20 persen. Sebagian bahkan nyaris kehilangan separuh nilainya. Koreksi sedalam ini langsung menggerus portofolio dan memicu kepanikan di ruang-ruang diskusi investor.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya turun tipis 0,44 persen, dari 8.271,7 menjadi 8.235,4. Secara agregat, pelemahan ini terlihat ringan. Kenyataannya, sejumlah saham justru rontok tajam dan menciptakan kerugian yang jauh lebih besar dibanding angka indeks.
Di titik inilah ironi pasar muncul grafik IHSG tampak stabil, tetapi banyak investor menanggung tekanan yang tidak kecil.
Kapitalisasi Menyusut, Modal Asing Terus Angkat Kaki
Selama sepekan, kapitalisasi pasar menyusut 1,03 persen menjadi Rp 14.787 triliun dari Rp 14.941 triliun. Dalam hitungan hari, sekitar Rp 154 triliun nilai pasar menguap.
Arus dana asing ikut memperberat tekanan. Pada Jumat, investor asing mencatatkan jual bersih Rp 694,2 miliar. Sepanjang 2026, nilai jual bersih sudah menembus Rp 9,5 triliun. Aksi keluar ini terutama menekan saham lapis menengah dan kecil yang sensitif terhadap sentimen global.
Di tengah tekanan tersebut, aktivitas perdagangan justru meningkat. Nilai transaksi harian rata-rata melonjak 25,35 persen menjadi Rp 29,52 triliun. Volume perdagangan ikut naik 8,55 persen menjadi 51,02 miliar lembar saham.
Kenaikan ini menandakan pasar tetap aktif. Investor melakukan reposisi, melepas saham berisiko, atau mencoba menangkap peluang jangka pendek. Meski begitu, frekuensi transaksi harian turun 3,72 persen menjadi 2,95 juta kali. Artinya, transaksi yang terjadi cenderung bernilai lebih besar.
Keramaian pasar pekan ini bukan didorong optimisme, melainkan kehati-hatian dan manuver cepat.
Saham-Saham yang Terpukul Paling Dalam
Daftar top losers memperlihatkan tekanan ekstrem pada sejumlah emiten.
PT Indospring Tbk (INDS) mencatat penurunan terdalam setelah harganya ambles 49,59 persen menjadi Rp 1.230 dari Rp 2.440. Dalam lima hari, hampir separuh kapitalisasi saham ini lenyap.
PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) menyusul dengan koreksi 41,67 persen ke Rp 1.260 dari Rp 2.160. Tekanan juga menghantam PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) yang merosot 34,74 persen menjadi Rp 930.
PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) kehilangan 27,94 persen ke Rp 4.630, sedangkan PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) terkoreksi 24,86 persen menjadi Rp 665.
Penurunan berlanjut pada PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) yang melemah 22,13 persen. PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) turun 21,72 persen, dan PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) terpangkas 21,53 persen.
Bahkan sektor energi terbarukan tidak luput dari tekanan. PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) jatuh 20,43 persen, sementara PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) terkoreksi 20,16 persen.
Koreksi di atas 20 persen dalam sepekan jelas bukan fluktuasi biasa. Angka-angka ini mencerminkan tingginya volatilitas dan rapuhnya sentimen pada saham-saham tertentu.
Investor Ritel di Garis Depan Risiko
Tekanan paling besar dirasakan investor ritel. Banyak di antara mereka masuk ketika harga sudah tinggi, terdorong euforia atau rekomendasi spekulatif. Saat tren berbalik, ruang keluar menyempit dan kerugian membesar.
Berbeda dengan institusi besar yang memiliki strategi lindung nilai dan diversifikasi, investor individu kerap mengandalkan momentum jangka pendek. Ketika sentimen berubah cepat, strategi ini menjadi rapuh.
Jika arus keluar asing berlanjut dan tekanan global meningkat, volatilitas masih berpotensi membayangi pasar dalam waktu dekat.
IHSG memang hanya terkoreksi tipis. Namun angka indeks sering kali menyamarkan cerita sebenarnya di level saham.
Di atas kertas, pasar tampak terkendali. Di layar portofolio, sebagian investor justru menghadapi kenyataan yang jauh lebih pahit. Dan seperti biasa, pasar tidak pernah benar-benar kejam ia hanya memberi pelajaran dengan cara yang mahal. @dimas







