Tabooo.id: Regional – Kejadian di Kemayoran, Jakarta Pusat, siang tadi berubah jadi mimpi buruk. Hingga pukul 15.35 WIB, petugas mengangkat 20 kantong jenazah dari reruntuhan kantor PT Terra Drone. Ambulans datang dan pergi tanpa jeda. Warga cuma bisa menatap dengan napas tercekat. Ini bukan sekadar berita kebakaran; banyak pihak sering mengabaikan keselamatan kerja, dan risikonya bisa menimpa siapa saja.
Api Muncul Cepat, Korban Berjatuhan Lebih Cepat
Warga melaporkan api muncul sekitar pukul 12.40 WIB. Hanya sepuluh menit, petugas Damkar sudah tiba dan langsung masuk ke gedung. Tapi kecepatan itu tak mampu menandingi ganasnya api. Lantai II dan III jadi titik paling mematikan. Hingga 15.40 WIB, penyisiran masih berlangsung. Artinya, kemungkinan jumlah korban bertambah masih terbuka.
Sinyal-Sinyal Kecil yang Diabaikan
Saksi di sekitar lokasi menyebut lampu mati mendadak lebih dulu, lalu terdengar jeritan panik dari dalam gedung. Detail kecil ini penting karena banyak orang sering mengabaikan sinyal kecil yang akhirnya memicu tragedi besar. Dan hari ini, sinyal itu berubah jadi 20 nyawa yang tak sempat selamat.
Di halaman kantor, garis polisi membentang. Polisi, PMI, BNPB, dan Damkar bekerja berdampingan. Namun hingga sore, penyebab kebakaran belum jelas. Ketidakpastian ini menambah kecemasan, terutama bagi keluarga korban yang menunggu kabar sambil menggenggam ponsel erat-erat.
Karena tragedi seperti ini bukan kejadian langka. Ini alarm keras tentang standar keselamatan gedung mulai dari sistem listrik, jalur evakuasi, hingga tata kelola risiko. Setiap orang yang bekerja di gedung bertingkat, dari kantor startup sampai korporasi, rentan menghadapi situasi serupa. Kasus Terra Drone mengingatkan kita bahwa kota besar membangun modernitasnya di atas gedung-gedung yang kadang rapuh. Dan ketika satu saja mekanisme gagal, nyawa melayang dalam hitungan menit.
Sore ini, 20 kantong jenazah sudah pergi, tapi jawabannya belum datang. Apa penyebabnya? Apa yang salah? Dan siapa yang harus bertanggung jawab? Publik layak tahu. Karena keselamatan bukan kemewahan itu hak setiap orang yang berangkat kerja dan ingin pulang hidup-hidup. (red)




