Tabooo.id: Vibes – Pernahkah kamu berjalan di Jalan Rajawali, Kota Lama Surabaya, dan menoleh ke atas hanya untuk terpaku pada menara berbentuk unik? Dari kejauhan, bentuknya sederhana tapi memikat seperti cerutu yang menjulang ke langit. Warga Surabaya menamai bangunan itu Gedung Cerutu, dan bagi mata yang jeli, ia bukan sekadar landmark estetik. Ia adalah lembaran sejarah yang masih berdiri kokoh, di tengah hiruk-pikuk modernitas kota.
Dari Perdagangan Gula ke Pilar Kolonial
Bangunan ini lahir pada 1916 sebagai kantor Java Sugar Syndicate, perusahaan gula besar di Hindia Belanda. Arsiteknya, N.V. Maatsschappij Tot Exploitatie Van Het Bureau Gebroders Knaud, merancangnya dengan gaya Indische Empire Style, yang kala itu populer di kalangan kolonial Belanda. Pilar tinggi, fasad simetris, jendela besar setiap detail menandai kemewahan abad ke-20. Surabaya kala itu menemukan simbol ekonominya di gedung ini.
Seiring berjalannya waktu, Gedung Cerutu tak berhenti bercerita. Ia berganti fungsi kantor Bridgestone, kantor pribadi Said bin Oemar Bagil, hingga Kantor Bank Bumi Daya pasca kemerdekaan. Kini, setelah lebih dari satu abad, ia menjadi bagian dari aset Bank Mandiri, namun aura sejarahnya tetap menyelimuti.
Saksi Bisu Revolusi
Lokasinya yang berada di sekitar Jembatan Merah menambah lapisan cerita. Di sini Brigadir Jenderal Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945, yang memicu Pertempuran 10 November. Bayangkan tembok-tembok yang hari ini tampak estetik pernah menyaksikan darah, teriakan, dan semangat juang arek-arek Suroboyo. Udara mungkin telah berubah, tapi gema perlawanan tetap menempel di setiap batu bata.
Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2009, Gedung Cerutu mendapat perhatian lebih serius. Meski fungsinya berubah, bentuk asli bangunan tetap terjaga. Ornamen kolonial, fasad simetris, dan jendela besar masih menatap pengunjung, seolah memanggil mereka untuk menyelami masa lalu.
Menyelami Atmosfer Surabaya dari Sudut Berbeda
Orang datang ke sini bukan hanya untuk berfoto di depan menara cerutu yang ikonik, tapi juga untuk merasakan atmosfer kota dari perspektif berbeda. Dari perdagangan gula, masa kolonial, revolusi, hingga era digital sekarang, semua lapis zaman terekam di sini. Setiap sudut mengingatkan bahwa kota ini dibentuk oleh waktu, konflik, dan perdagangan.
Mengunjungi Gedung Cerutu berarti memberi ruang bagi ingatan kolektif kota agar tetap hidup. Di tengah gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan modern, bangunan ini berdiri tenang, mengajarkan satu hal Surabaya tidak dibangun dalam sehari. Dari sindikat gula hingga tembakan yang mengubah jalannya revolusi, semua tersimpan rapi di balik fasad elegan itu.
Sejarah yang Berbisik
Menara cerutu adalah metafora kota yang tak pernah melupakan masa lalunya. Fungsi boleh berubah, cat boleh berganti, tetapi memori kolektif tetap hidup. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah bukan sekadar teks di buku ia hidup melalui bangunan, jalan, dan udara yang kita hirup.
Lain kali saat melewati Jalan Rajawali, pandanglah ke atas. Lihat menara cerutu itu menjulang. Dengarkan. Siapa tahu temboknya masih punya cerita untuk dibisikkan tentang gula, revolusi, dan kota yang terus menua dengan anggun. @Sabrina Fidhi – Surabaya





