Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Helm Baja, Nyawa Anak, dan Pertanyaan untuk Aparat

by dimas
Februari 21, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernahkah kamu berpikir, aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi ancaman? Di Tual, Maluku, tragedi ini nyata helm baja yang dipukul oleh anggota Brimob menewaskan AT, 14 tahun. Anak berprestasi dan hafiz Al-Quran itu tewas saat hendak menikmati hari biasa. Ironis, bukan?

Kehidupan yang Terhenti dalam Sekejap

Bayangkan pagi itu: AT dan kakaknya NKT keluar rumah untuk berjalan-jalan di kota. Mereka bukan konvoi liar, bukan pelaku kejahatan hanya anak-anak yang sedang libur sekolah. Pukulan mendadak di kepala AT menghentikan semuanya. Helm yang seharusnya melindungi justru menjadi alat kekerasan.

Ayah mereka, Rijik Tawakal, berlari dari rumah ke lokasi kejadian dan ke rumah sakit, berharap menemukan anaknya selamat. Yang ia temukan hanyalah wajah anaknya penuh darah dan kesedihan yang tak terperi. Dalam enam jam, AT pergi selamanya.

Keluarga menuntut keadilan, meminta pelaku dipecat tidak dengan hormat, dan dihukum seberat-beratnya. Semua itu wajar. Tidak ada alasan sah bagi aparat untuk menimbulkan kematian anak-anak.

Perspektif Lain: Aturan dan Proses Hukum

Tentu saja, ada yang bilang “Sabar dulu, hukum harus berjalan, jangan main hakim sendiri.” Benar. Bripda MS kini ditahan dan sedang diperiksa, menghadapi ancaman hukum maksimal 15 tahun sesuai UU Perlindungan Anak. Proses kode etik juga berjalan paralel.

Ini Belum Selesai

Demokrasi Tidak Mati Karena Kritik, Tapi Karena Fanatisme Politik

Kreativitas Tidak Selalu Tenang, Kadang Datang Saat Hidup Berantakan

Tapi, mari kita pikir sejenak: apakah masyarakat masih percaya pada aparat ketika alat negara bisa membunuh anak? AT bukan korban tunggal, YLBHI menyoroti pola sistemik, mulai dari Affan Kurniawan di Jakarta hingga kasus Gijik di Kalimantan Tengah. Bukankah ini menunjukkan struktur dan mekanisme pengawasan polisi masih bermasalah?

Kekerasan Aparat: Masalah Sistemik

Kalau kita hanya menganggap tragedi ini insiden tunggal, kita menipu diri sendiri. Polri bisa menahan pelaku, tapi jika reformasi struktural tidak dilakukan evaluasi peran Brimob, mekanisme pengawasan, dan pelatihan humanis korban berikutnya tinggal menunggu waktu.

Kritik ini bukan untuk menghina, tetapi untuk menyadarkan. Ketika aparat berkuasa tanpa batas, masyarakat menjadi rentan. Anak-anak, remaja, bahkan pengemudi ojek daring bisa kehilangan nyawa. Sistem harus melindungi, bukan menjadi ancaman.

Tabooo Mengajak Berpikir

Tragedi AT mengingatkan kita dua hal. Pertama, anak-anak berhak aman dari kekerasan. Kedua, institusi yang menjalankan kekuasaan harus transparan dan akuntabel. Tanpa kedua hal itu, hukum hanyalah teks kosong, dan aparat menjadi simbol ketakutan, bukan perlindungan.

Selain itu, kita harus menuntut proses hukum yang tegas sekaligus edukatif agar pelaku dihukum, sistem diperbaiki, dan masyarakat belajar bahwa hak hidup anak tidak bisa digadaikan.

Lalu, Kamu di Kubu Mana?

Apakah kamu berada di kubu yang menuntut reformasi polisi segera, atau di kubu yang bilang “biarkan proses hukum berjalan dulu”? Bisa juga berada di tengah, marah tapi berharap sistem tetap adil. Yang jelas, tragedi AT menuntut kita memilih sikap tidak ada jalan tengah untuk ketidakadilan.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita membiarkan tragedi ini menjadi statistik, atau menjadikannya momentum untuk berubah? Helm baja itu mungkin sudah tidak memukul lagi, tetapi luka sistemik yang ia ungkap harus segera ditambal. @dimas

Tags: AnakAparatBrimobHakKeadilankekerasanKriminal & HukumMalukuPerlindunganPolriReformasiTegas

Kamu Melewatkan Ini

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

by dimas
Mei 11, 2026

Perempuan pembela HAM sering melangkah dari pengalaman melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka. Keberanian itu mendorong mereka bersuara, mendampingi...

Video Bea Cukai: Fakta atau Framing yang Keburu Meledak?

Video Bea Cukai: Fakta atau Framing yang Keburu Meledak?

by teguh
Mei 9, 2026

Video berdurasi 22 detik memicu gelombang opini di media sosial. Dua petugas berseragam Bea Cukai mendatangi Warung Madura pada malam...

Viral Penggeledahan Warung Madura, Bea Cukai Tegal Tegaskan Tak Ada Pungli

Viral Penggeledahan Warung Madura, Bea Cukai Tegal Tegaskan Tak Ada Pungli

by teguh
Mei 9, 2026

Video penggeledahan Warung Madura viral di media sosial dan langsung memicu sorotan publik. Dalam video berdurasi 22 detik itu, pemilik...

Next Post
Presiden Pulang dari AS Bawa “Diskon Tarif Impor”

Presiden Pulang dari AS Bawa “Diskon Tarif Impor”

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id