Tabooo.id: Edge – Bayangkan gaji datang satu kali, utuh, tanpa harus menunggu “gelombang kedua” bernama tunjangan. Tidak ada lagi momen klasik ASN membuka rekening sambil bertanya, “Ini baru gaji pokok apa sudah termasuk tukin?”
Itulah janji manis bernama single salary skema penggajian tunggal untuk Aparatur Sipil Negara yang kembali muncul ke permukaan. Kali ini, janjinya tertulis rapi di Buku II Nota Keuangan RAPBN 2026. Terdengar resmi, terdengar serius, tapi juga terdengar familiar.
Dari Gaji Pokok ke Tunjangan Berlapis-Lapis
Saat ini, penghasilan ASN ibarat mi instan dengan topping tambahan. Ada gaji pokok, ada tunjangan keluarga dan lauk-pauk, lalu disiram tunjangan kinerja. Belum selesai, masih ada tunjangan jabatan, tunjangan daerah mahal, tunjangan wilayah 3T, sampai fasilitas rumah dinas dan kendaraan.
Hasilnya? Gaji terlihat kecil di awal, tapi membesar di tengah bulan kalau semua komponen cair tepat waktu. Skema single salary datang dengan janji merapikan semua itu: satu penghasilan, satu kali terima, lebih pasti.
Janji Manis di Atas Kertas RAPBN
Pemerintah menulis rencana ini sebagai bagian dari transformasi manajemen ASN dan kesejahteraan jangka menengah. Artinya, jangan berharap gaji tunggal cair tahun depan.
Direktur Penyusunan APBN Kemenkeu, Rofyanto Kurniawan, bahkan menegaskan bahwa kebijakan ini belum akan berlaku pada 2026. Fiskal negara masih jadi penentu utama.
Dengan kata lain idenya ada, uangnya belum tentu siap.
Wacana Lama yang Selalu Comeback
Bagi ASN, single salary bukan ide baru. Ini wacana lama saking lamanya, pertama kali dibahas sejak 2007. Ya, hampir dua dekade lalu.
Pakar kebijakan publik Universitas Padjajaran, Yogi Suprayogi, menyebut skema ini sebagai angin segar, terutama soal kepastian pendapatan dan pengelolaan keuangan bulanan. Tapi ia juga realistis.
Menurut Yogi, keragaman ASN dan kompleksitas tunjangan membuat implementasi single salary tidak sesederhana mengganti format slip gaji. Apalagi Undang-Undang ASN saat ini masih membuka banyak pintu tunjangan.
Dari Absen ke Output: Mimpi yang Belum Dibayar Lunas
Single salary membawa mimpi besar ASN dinilai dari hasil, bukan dari foto absen. Tidak lagi sibuk membuktikan kehadiran, tapi fokus pada output pelayanan publik.
Dalam bayangan idealnya, ASN bisa bekerja lebih fleksibel bahkan work from anywhere selama hasilnya jelas dan terukur. Tidak ada lagi ritual “datang, absen, pulang” tanpa kinerja.
Masalahnya, mimpi ini butuh revisi UU ASN, aturan teknis detail per lembaga, dan keberanian politik. Dan itu, kata Yogi, masih long way to go.
Antara Dompet ASN dan Pajak Rakyat
Pada akhirnya, gaji ASN bukan sekadar urusan pegawai negeri. Uangnya berasal dari pajak publik, dan publik berhak menagih satu hal: pelayanan yang lebih baik.
Single salary bisa menjadi alat untuk itu jika benar-benar diterapkan dengan serius. Jika tidak, ia hanya akan menjadi wacana tahunan yang muncul setiap RAPBN, lalu menghilang seperti notifikasi grup WhatsApp yang tak pernah dibuka.
Karena di negeri ini, bukan cuma gaji ASN yang bertingkat. Harapan publik juga. @dimas




