Tabooo.id: Edge – Bayangkan ini kamu lagi nongkrong di kafe, scroll X (dulu Twitter), tiba-tiba Kemenlu ngumumin, “Indonesia resmi gabung Dewan Perdamaian Gaza.” Absurdnya, Gaza-nya nggak kelihatan di piagam. Tapi santai, katanya kita bantu perdamaian. Caranya? Cukup bayar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 16,9 triliun. Uang segitu bisa bikin beberapa stadion sepak bola, tapi kali ini cuma buat duduk manis di dewan perdamaian ala Trump.
Trump Si Ketua Abadi dan Dewan Perdamaian Berbayar
Piagam baru menyebut Trump jadi ketua dewan sekaligus perwakilan AS. Semua keputusan tetap harus disetujui dia. Jadi, kalau negara anggota sepakat bikin kebijakan, Trump tinggal bilang, “Eh, tunggu dulu, gue setuju nggak nih? Voila, suara mayoritas negara lain bisa kena veto dadakan.
Transparansi dana? Jangan harap. Piagam cuma bilang “pendanaan sukarela.” Tapi sukarela versi siapa? Silakan tebak sendiri.
Negara Bergabung: Dari Gaza Sampai Uzbekistan
Sejauh ini, 35 negara sudah ikut gabung mulai dari Israel, Arab Saudi, Qatar, Turkiye, hingga Uzbekistan. Indonesia ikut daftar hadir, berharap kursi di Dewan Perdamaian bikin nama kita terdengar “damai” di kancah internasional. Sementara itu, Norwegia dan Swedia menolak dengan sopan: “Thanks, tapi kami nggak mau bayar 1 miliar.” Perancis? Di bully halus, ikut kena drama diplomasi ala reality show Trump.
Komite Eksekutif: Tony Blair, Kushner, Rubio, dan Drama Keluarga Trump
Komite eksekutif dewan bikin penasaran Marco Rubio, Jared Kushner, Steve Witkoff, dan Tony Blair duduk bareng, mengawasi tata kelola, diplomasi, dan rekonstruksi Gaza. Sementara rakyat Indonesia mikir, “Rp 16,9 triliun buat apa, ya” Anak menantu presiden dan mantan PM Inggris ngobrol soal perdamaian internasional sementara kita cuma bisa scrolling X.
Ironi Publik: Perdamaian atau Reality Show Global?
Logikanya begini Indonesia gabung, negara lain bayar mahal, Trump pegang kontrol penuh, Gaza cuma jadi nama glamor di piagam, tapi uang negara anggota terbang ke dewan internasional. Semua negara bisa keluar kapan saja, kecuali ketua bilang, “Eh, jangan dulu, gue veto.”
Di akhir hari, Dewan Perdamaian ala Trump lebih mirip reality show global dengan tiket VIP super mahal. Kita? Duduk manis, melihat drama diplomasi sambil berharap ada efek nyata buat perdamaian.
Ironi tetap terasa perdamaian internasional dijual mahal, tapi rakyat biasa cuma bisa scroll X sambil bilang, “Well, semoga semua lancar, ya” @dimas







