Tabooo.id: Nasional – Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono resmi menduduki posisi Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Munas VII MES yang berlangsung di Ballroom Menara BRILian, Jakarta, Minggu (11/1/2026), mengukuhkan keputusan tersebut. Masuknya Ferry menandai pertemuan langsung antara kepentingan negara dan gerakan ekonomi syariah dalam satu struktur kepemimpinan.
Penunjukan ini bukan sekadar seremonial. Kehadiran menteri aktif di posisi strategis MES memberi sinyal bahwa ekonomi syariah kini masuk ke fase yang lebih politis dan operasional.
MES dan Klaim Independensi
MES bukan organisasi baru. Sejak berdiri pada 2001, lembaga nirlaba ini konsisten mengusung misi membumikan ekonomi syariah sebagai sistem ekonomi yang adil dan sesuai prinsip Islam. Secara struktural, MES menyatakan diri mandiri dan tidak berafiliasi dengan pemerintah maupun partai politik.
Namun, terpilihnya Ferry sebagai Ketua Harian memberi warna baru. Sinergi dengan negara menguat, tetapi ruang kritis MES terhadap kebijakan pemerintah otomatis menyempit. Di titik inilah independensi diuji, bukan sekadar diklaim.
Koperasi Syariah Didorong Jadi Mesin Ekonomi
Ferry langsung mematok arah. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat koperasi berbasis syariah sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, banyak koperasi syariah telah membuktikan diri mampu membangun ekosistem bisnis, terutama di sektor riil.
Ia mencontohkan Kopontren Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, yang sukses menggerakkan sektor pertanian berbasis pesantren. Pemerintah bahkan menyiapkan koperasi pesantren sebagai “kakak asuh” bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih agar program prioritas negara berjalan mulus hingga ke akar rumput.
Siapa Diuntungkan, Siapa Tertinggal
Kebijakan ini membuka peluang besar bagi pelaku UMKM, santri, dan komunitas pesantren. Akses pembiayaan syariah dan pendampingan koperasi memberi alternatif nyata dari pinjaman konvensional berbunga tinggi yang selama ini membebani masyarakat kecil.
Namun, arah kebijakan yang terlalu fokus pada satu model menyimpan risiko. Koperasi konvensional dan pelaku ekonomi non-syariah berpotensi tersisih jika negara tidak menjaga keseimbangan. Pertumbuhan bisa terjadi, tetapi tidak semua ikut merasakan.
Rosan Roeslani dan Agenda Membumi
Munas VII MES juga memilih Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani sebagai Ketua Umum MES. Rosan menekankan pentingnya program yang langsung menyentuh masyarakat. Salah satu yang ia dorong ialah pembangunan Kampung Haji, yang ditargetkan mulai pada kuartal IV 2026.
Program ini diharapkan memperbaiki layanan haji Indonesia sekaligus membuka rantai ekonomi syariah lintas sektor, dari investasi hingga jasa.
Target Ambisius Ekonomi Syariah
Kehadiran tokoh-tokoh besar Ma’ruf Amin, Erick Thohir, hingga Muliaman Hadad menegaskan bahwa ekonomi syariah telah naik kelas menjadi agenda strategis nasional. Ma’ruf Amin menyebut posisi ekonomi syariah Indonesia kini menembus peringkat tiga dunia.
Namun, angka di dalam negeri berbicara lain. Market share ekonomi syariah baru menyentuh sekitar 30 persen. Target berikutnya jelas ambisius: menembus lebih dari 50 persen dan benar-benar mengubah perilaku ekonomi masyarakat.
Ujian di Luar Panggung Munas
Pertanyaannya kini sederhana: apakah ekonomi syariah akan menjadi alat pemerataan yang nyata, atau hanya etalase baru dari kebijakan lama dengan label religius?
Dengan menteri sebagai motor utama, publik berhak menagih hasil. Ekonomi berkeadilan seharusnya terasa di pasar, sawah, dan warung kecil bukan berhenti di podium Munas dan siaran pers. Sebab ekonomi yang mengklaim halal, idealnya juga adil dalam praktik, bukan hanya rapi di konsep. (red)




