Tabooo.id: Entertainment – Siapa bilang comeback cuma milik boyband Korea? Kadang, yang bikin publik heboh justru bukan album baru, melainkan kabar “sudah menghirup udara bebas”. Kali ini, sorotan itu mengarah ke Fariz RM.
Udara Bebas, Sorotan Kembali
Musisi yang namanya lekat di playlist generasi 80–90an itu akhirnya keluar setelah menjalani hukuman hampir setahun akibat kasus penyalahgunaan narkoba. Pengacaranya, Deolipa Yumara, memastikan Fariz bebas antara 17–19 Februari 2026.
Menurut Deolipa, Fariz kini sehat dan bahagia. Ia bersyukur, menikmati kebebasan, dan bahkan kembali bermusik. Jadi, bukan cuma bebas secara fisik, tapi juga mulai merangkai nada lagi.
Sebelumnya, aparat menangkap Fariz pada Februari 2025. Lalu pada September 2025, majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 10 bulan penjara atas penyalahgunaan sabu. Selain itu, hakim mengenakan denda Rp800 juta dengan ancaman tambahan kurungan jika tak membayar.
Jaksa sempat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta. Namun pengadilan menolaknya. Setelah itu, jaksa melanjutkan kasasi ke Mahkamah Agung, dan lagi-lagi hasilnya sama: hukuman 10 bulan tetap berlaku.
Secara hukum, bab ini selesai. Akan tetapi, secara sosial, ceritanya belum tentu tamat.
Antara Simpati dan Sinisme
Setiap artis tersandung narkoba, publik hampir selalu bereaksi dengan pola yang sama. Sebagian orang memaklumi dan menyebutnya “risiko dunia seni”. Sebagian lain menggeleng kecewa. Sementara itu, tak sedikit yang langsung pesimis dan berkata, “Paling nanti kambuh lagi.”
Respons kita terasa cepat, tegas, bahkan keras. Padahal, di sisi lain, kita juga gemar menyaksikan kisah bangkit dari keterpurukan.
Di sinilah ironi muncul.
Fariz mengaku kapok. Ia disebut ingin fokus pada musik dan menyiapkan acara sebagai bentuk kembalinya ia ke panggung. Namun pertanyaannya sederhana: apakah publik siap memberi kesempatan kedua, atau justru menunggu kesalahan berikutnya?
Kita sering merayakan redemption story di film dan series. Kita terharu saat tokoh fiksi bertobat. Tetapi ketika tokoh nyata mencoba memperbaiki hidup, kita justru memegang arsip lama lebih erat.
Comeback atau Sekadar Headline?
Industri hiburan menuntut seniman terus relevan. Mereka harus produktif, kreatif, dan konsisten. Tekanan itu nyata. Namun tentu saja, tekanan bukan alasan untuk menyalahgunakan narkoba.
Meski begitu, kasus ini membuka ruang refleksi. Apakah sistem hukum kita sudah memberi efek jera? Apakah pendekatan rehabilitatif justru lebih efektif? Dan mengapa kasus narkoba figur publik terasa berulang dari tahun ke tahun?
Fakta menunjukkan Fariz pernah terjerat kasus serupa. Riwayat itu memberatkan vonisnya. Namun sekarang ia telah menyelesaikan hukuman. Artinya, bab hukum sudah ia lalui.
Selanjutnya, panggunglah yang akan menguji.
Jika ia benar-benar konsisten dan menjauh dari narkoba, publik mungkin akan melihat bab baru. Sebaliknya, jika ia kembali tergelincir, maka skeptisisme publik akan terasa masuk akal.
Akhirnya, cerita ini bukan hanya tentang Fariz RM. Ini juga tentang cara kita memandang kegagalan dan kesempatan kedua.
Jadi, ketika ia kembali bermusik nanti, kita punya pilihan: sekadar menonton dengan sinis, atau memberi ruang untuk pembuktian.
Menurut kamu, comeback ini akan jadi nada baru atau hanya pengulangan lagu lama? @eko




