Tabooo.id: Deep – “Kalau salah, saya makan sekarang.” Perintah itu meluncur tanpa ruang tawar. Sementara kamera ponsel merekam tanpa jeda, seorang pria berseragam menggenggam sepotong es gabus di tangannya. Api pun menyala. Ia membakar es itu tanpa ragu. Asap tipis langsung mengepul. Di seberangnya, seorang penjual tua berdiri kaku. Tatapannya kosong. Tubuhnya gemetar, sementara lingkaran aparat menutup seluruh jalan keluar.
Tak lama berselang, potongan video itu menyebar luas. Penyebarannya terlalu cepat untuk ditahan dan terlalu cepat pula untuk diverifikasi. Dalam hitungan jam, publik menyaksikan adegan yang sama berulang kali negara berdiri di depan gerobak kecil, dan yang dihadapinya bukan ancaman, melainkan ketakutan.
Ketika Kecurigaan Mengalahkan Nalar
Rekaman viral tersebut memperlihatkan anggota Polri dan TNI memeriksa jajanan yang belakangan ramai di media sosial, yakni es kue gabus. Dengan keyakinan penuh, mereka menuding jajanan itu mengandung bahan berbahaya yang menyerupai busa atau spons.
Namun, di balik keyakinan itu, tak ada dasar ilmiah yang menyertainya. Tidak terlihat uji laboratorium. Tidak hadir ahli pangan. Bahkan, prosedur baku pun absen dari proses pemeriksaan.
Alih-alih menggunakan pendekatan ilmiah, aparat justru memilih api sebagai alat bukti. Tekanan mereka jadikan bahasa. Pada akhirnya, penjual kecil itu berubah menjadi sasaran.
Di dalam video, aparat tidak sekadar memeriksa. Mereka melangkah lebih jauh dengan menginterogasi dan menekan. Mereka bahkan menuntut satu hal pengakuan. Lebih dari itu, mereka memaksa si penjual memakan dagangannya sendiri, seolah tubuh manusia bisa menggantikan fungsi laboratorium.
Sejak titik itu, peristiwa ini tak lagi sekadar bicara soal keamanan pangan. Sebaliknya, kisah ini menjelma potret relasi kuasa yang timpang.
Sudrajat dan Tiga Puluh Tahun yang Terbakar Sekejap
Penjual tersebut bernama Sudrajat. Usianya 50 tahun. Ia bukan pemilik pabrik. Ia juga bukan pembuat konten. Selama hampir tiga dekade, hidupnya hanya berkutat pada es gabus keliling demi menghidupi lima anak.
Setiap pagi, gerobak ia dorong menyusuri jalan. Setiap hari, harapan ia gantungkan pada es yang perlahan mencair. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu hari es itu justru akan menyeretnya ke dalam mimpi buruk.
Pada Sabtu siang, 24 Januari 2026, empat hingga lima orang mendekatinya. Mula-mula, mereka berpura-pura membeli. Namun, beberapa saat kemudian, suasana berubah drastis. Nada suara meninggi. Tuduhan pun muncul satu per satu.
Dalam kondisi tertekan, Sudrajat mencoba menjelaskan. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memproduksi es tersebut. Perannya hanya menjual. Bahkan, demi membuktikan, ia menawarkan mereka ikut ke Depok untuk menemui sang bos.
Sayangnya, penjelasan itu tak mengubah apa pun. Tubuhnya justru dikepung. Pukulan datang. Interogasi berlanjut. Tekanan pun semakin menjadi-jadi.
“Saya minta ampun,” ujar Sudrajat kemudian, suaranya bergetar.
Selain tekanan verbal, kekerasan fisik juga ia alami. Menurut pengakuannya, seseorang menyabet tubuhnya dengan selang dan menendangnya menggunakan sepatu. Dalam situasi itu, tubuhnya diperlakukan sebagai alat paksa agar mulutnya mengakui sesuatu yang tak pernah ia lakukan.
Meski demikian, Sudrajat tidak melawan. Ia memilih bertahan. Ia bertahan dari rasa sakit. Ia bertahan dari ketakutan. Lebih dari itu, ia bertahan dari kenyataan pahit bahwa dirinya sendirian di hadapan seragam dan kuasa.
Satu Jam di Pos, Luka yang Bertahan Lebih Lama
Usai kejadian tersebut, aparat membawa Sudrajat ke sebuah pos. Mereka menyebut hendak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Di tempat itu, Sudrajat duduk hampir satu jam. Sendirian. Menangis tanpa suara.
Bagi negara, satu jam mungkin terasa singkat. Namun, bagi Sudrajat, waktu itu cukup untuk meruntuhkan keberanian yang ia bangun selama 30 tahun.
Sejak hari itu pula, ia berhenti berjualan. Kepalanya kerap pusing. Tubuhnya terasa melemah. Meski begitu, luka terberat tak berasal dari fisik, melainkan dari trauma yang menetap.
Kini, rasa takut menguasai kesehariannya. Ia gemetar setiap melihat seragam. Ia gelisah mendengar suara keras. Bahkan, bayangan hari itu terus menghantuinya.
Pada hari itu, negara tidak sekadar mengambil dagangan. Negara merenggut rasa aman.
Ketika Laboratorium Membantah Kekuasaan
Beberapa hari kemudian, Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan lanjutan. Mereka menguji berbagai sampel, mulai dari es kue, es gabus, agar-agar, hingga cokelat meses.
Hasilnya tegas. Seluruh sampel dinyatakan aman dan layak konsumsi.
Tak ditemukan busa. Tak ada spons. Racun pun tak terdeteksi.
Dengan demikian, api yang menyala di depan kamera terbukti tak pernah menjadi alat uji ilmiah. Ia hanyalah simbol dari kesimpulan yang lahir terlalu cepat.
Di titik ini, pertanyaan besar pun mengemuka jika hasilnya aman, siapa yang bertanggung jawab atas ketakutan Sudrajat?
Pengakuan yang Datang Terlambat
Pada akhirnya, Polri dan TNI angkat bicara. Mereka mengakui kesalahan anggotanya. Mereka menyebut peristiwa ini sebagai kesalahpahaman. Selain itu, mereka menegaskan niat awal hanya untuk melindungi masyarakat.
Meski terdengar rapi, kalimat-kalimat tersebut tak sepenuhnya mampu menjelaskan kekerasan yang terjadi.
Institusi juga mengakui bahwa anggotanya menyimpulkan terlalu dini. Video, menurut mereka, dibuat sebelum uji ilmiah dilakukan. Sebagai penutup, mereka menjanjikan penyelesaian secara kekeluargaan.
Namun, pengalaman selama ini menunjukkan bahwa penyelesaian semacam itu sering berujung pada ketiadaan akuntabilitas.
Negara mengajak Sudrajat berdialog. Negara menyampaikan permintaan maaf. Meski begitu, trauma tak mengenal istilah klarifikasi.
Negara, Kamera, dan Warga Kecil
Kasus ini memantulkan wajah lain dari sistem pengawasan kita. Aparat bergerak berlandaskan asumsi, bukan data. Kamera menyala lebih cepat dibanding prosedur. Warga kecil pun berubah menjadi objek tontonan, alih-alih subjek perlindungan.
Dalam peristiwa ini, yang diuji bukan hanya es gabus. Yang sesungguhnya dipertaruhkan ialah cara negara menggunakan kuasanya.
Apakah perlindungan publik harus selalu hadir lewat intimidasi? Ataukah rasa aman memang harus dibayar dengan rasa takut?
Di balik narasi keamanan pangan, praktik lama kembali muncul kekuasaan turun ke jalan tanpa empati.
Yang Tak Pernah Masuk Algoritma
Video itu memang telah diklarifikasi. Namun, luka Sudrajat tak pernah viral. Ketakutannya tak pernah menjadi tren. Air matanya pun tak pernah masuk algoritma.
Sistem bergerak cepat meredam kegaduhan. Sebaliknya, sistem yang sama bergerak lambat memulihkan manusia.
Tak ada laboratorium yang mampu mengukur trauma. Tak satu klarifikasi pun sanggup menghapus ingatan dipukul di depan umum. Bahkan, konferensi pers tak mampu mengembalikan rasa aman seorang penjual kecil.
Pertanyaan yang Masih Menggantung
Kini, es gabus telah dinyatakan aman. Video itu pun telah dijelaskan. Perlahan, kasus ini tenggelam dari perhatian.
Namun, satu pertanyaan tetap menggantung di udara, jika negara bisa keliru sedemikian rupa di depan kamera, apa yang terjadi di ruang-ruang tanpa sorotan?
Mungkin suatu hari Sudrajat akan kembali berjualan. Mungkin pula tidak. Yang jelas, kisah ini tak seharusnya berlalu begitu saja.
Sebab hari ini yang diuji hanyalah es gabus. Besok, bisa jadi manusia lain.
Dan ketika negara lupa bahwa warganya bukan objek uji, yang terbakar bukan makanan melainkan kepercayaan. @dimas




