• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Senin, Maret 23, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Era AI, Siapa yang Kita Percaya: Algoritma atau Jurnalis?

Februari 9, 2026
in Teknologi
A A
Era AI, Siapa yang Kita Percaya: Algoritma atau Jurnalis?

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan kerja jurnalistik tidak boleh sepenuhnya bergantung pada kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence). (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak kamu membaca berita yang datanya lengkap dan strukturnya rapi, tetapi rasanya hambar? Tulisan itu terlihat benar dari sisi fakta, namun emosinya terasa kosong. Di titik itulah, banyak pembaca mulai mempertanyakan asal-usul tulisan karya manusia atau hasil mesin?

Pertanyaan semacam ini kini sering muncul di ruang publik. Di media sosial, topik ini ramai dibahas. Sementara itu, di ruang redaksi, diskusinya berlangsung lebih serius. Seiring perkembangan AI yang makin cepat, batas antara karya manusia dan algoritma semakin kabur.

Karena alasan itulah, isu ini tidak lagi sekadar soal teknologi, melainkan juga menyangkut nilai jurnalisme. Dalam konteks tersebut, pernyataan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid terasa relevan.

Ketika AI Masuk Redaksi, Kendali Tetap di Tangan Manusia

Saat menghadiri Konvensi Nasional Media Massa dalam rangka Hari Pers Nasional di Serang, Minggu (08/02/2026), Meutya Hafid menyampaikan sikapnya secara tegas. Ia menilai kerja jurnalistik tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada Artificial Intelligence.

Menurutnya, redaksi tetap membutuhkan penilaian manusia. Mesin memang dapat membantu riset dan mempercepat produksi. Akan tetapi, jurnalis harus mengambil keputusan etis dan memikul tanggung jawab sosial.

Langkah konkret juga sudah disiapkan pemerintah. Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Digital tengah merampungkan Peraturan Presiden tentang penggunaan AI. Regulasi tersebut akan menjadi payung hukum pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, termasuk media massa. Prosesnya kini menunggu tahap finalisasi di Kementerian Hukum.

Melalui aturan itu, pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan profesi jurnalis.

Efisiensi yang Menggoda, Risiko yang Mengintai

Daya tarik AI bagi industri media terletak pada efisiensi. Dengan bantuan mesin, redaksi dapat memproduksi konten lebih cepat. Volume berita meningkat, sementara biaya operasional menurun.

Tekanan bisnis yang berat membuat banyak manajemen tergoda menjadikan AI sebagai solusi instan. Algoritma mampu mengolah data dalam jumlah besar tanpa lelah. Dari sisi bisnis, pendekatan ini terlihat rasional.

RelatedPosts

Lenovo Y700 Gen 5: Mini Size, Sultan Power

ASUS Bawa AI ke Level Baru: Zenbook S14 OLED Bisa “Mikir Sendiri” Tanpa Internet

Masalah muncul ketika kecepatan mengalahkan kedalaman. Mesin tidak hidup di tengah masyarakat. Sistem otomatis juga tidak memahami konteks sosial dan emosi publik. Akibatnya, berita bisa tersaji cepat, tetapi kehilangan makna.

Disinformasi dan Kepercayaan Publik

Di sisi lain, ancaman disinformasi terus membesar. Arus informasi bergerak begitu cepat, sering kali melampaui proses verifikasi. Konten viral melaju tanpa sempat diperiksa ulang.

Algoritma hanya membaca angka interaksi. Selama klik dan share meningkat, sistem akan terus mendorong konten tersebut. Dalam kondisi ini, kesalahan kecil dapat berkembang menjadi kebingungan massal.

Peran jurnalis manusia menjadi krusial di titik ini. Mereka memeriksa fakta, memberi konteks, dan mempertimbangkan dampak sosial dari setiap berita. Tanpa proses tersebut, media berisiko kehilangan kepercayaan publik.

Soal Nilai, Bukan Sekadar Teknologi

Perdebatan tentang AI sering berhenti pada kecanggihan. Padahal, inti persoalan justru terletak pada nilai. Mesin unggul dalam kecepatan, sementara manusia unggul dalam empati dan pertimbangan moral.

Atas dasar itu, Meutya mendorong dialog terbuka antara pemerintah dan media massa. Ia mengajak semua pihak membangun kesepahaman bersama. Harapannya, regulasi yang lahir mampu menjaga kualitas jurnalistik tanpa menghambat inovasi.

Dampaknya ke Gaya Hidup Kita

Isu ini terasa dekat dengan kehidupan Gen Z dan Milenial. Banyak orang kini memakai AI untuk menulis caption, menyusun email, bahkan mencari teman bicara. Teknologi membantu, tetapi ketergantungan berlebihan bisa mengikis refleksi dan empati.

Hidup memang terasa lebih praktis. Namun, ketika mesin mengambil terlalu banyak peran, hubungan antarmanusia berisiko menjadi dangkal.

Penutup

AI akan terus berkembang, dan penolakan bukan solusi. Yang dibutuhkan adalah batas yang jelas. Dalam jurnalisme, sentuhan manusia menjaga kepercayaan publik. Dalam kehidupan sehari-hari, sentuhan manusia menjaga makna.

Sekarang, pertanyaannya sederhana di tengah hidup yang makin otomatis, bagian mana yang masih ingin kamu pertahankan tetap manusiawi?. @teguh

Tags: AIalgoritmaHari Pers NasionalinovasiJurnalisJurnalismeKaryaKemenhumKonvensi Nasional Media MassaManusiaMedia MassaMedia SosialMenkomdigiPublikRedaksiRegulasiTulisan
Next Post
Pejabat Palestina Sebut Trump Jadikan Dewan Perdamaian Alternatif PBB

Pejabat Palestina Sebut Trump Jadikan Dewan Perdamaian Alternatif PBB

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.