Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Era AI, Siapa yang Kita Percaya: Algoritma atau Jurnalis?

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality

Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak kamu membaca berita yang datanya lengkap dan strukturnya rapi, tetapi rasanya hambar? Tulisan itu terlihat benar dari sisi fakta, namun emosinya terasa kosong. Di titik itulah, banyak pembaca mulai mempertanyakan asal-usul tulisan karya manusia atau hasil mesin?

Pertanyaan semacam ini kini sering muncul di ruang publik. Di media sosial, topik ini ramai dibahas. Sementara itu, di ruang redaksi, diskusinya berlangsung lebih serius. Seiring perkembangan AI yang makin cepat, batas antara karya manusia dan algoritma semakin kabur.

Karena alasan itulah, isu ini tidak lagi sekadar soal teknologi, melainkan juga menyangkut nilai jurnalisme. Dalam konteks tersebut, pernyataan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid terasa relevan.

Ketika AI Masuk Redaksi, Kendali Tetap di Tangan Manusia

Saat menghadiri Konvensi Nasional Media Massa dalam rangka Hari Pers Nasional di Serang, Minggu (08/02/2026), Meutya Hafid menyampaikan sikapnya secara tegas. Ia menilai kerja jurnalistik tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada Artificial Intelligence.

Menurutnya, redaksi tetap membutuhkan penilaian manusia. Mesin memang dapat membantu riset dan mempercepat produksi. Akan tetapi, jurnalis harus mengambil keputusan etis dan memikul tanggung jawab sosial.

Ini Belum Selesai

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Banjir Lahar Dingin Semeru Jebol Tanggul, Akses Jalan Lumajang Terputus

Langkah konkret juga sudah disiapkan pemerintah. Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Digital tengah merampungkan Peraturan Presiden tentang penggunaan AI. Regulasi tersebut akan menjadi payung hukum pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, termasuk media massa. Prosesnya kini menunggu tahap finalisasi di Kementerian Hukum.

Melalui aturan itu, pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan profesi jurnalis.

Efisiensi yang Menggoda, Risiko yang Mengintai

Daya tarik AI bagi industri media terletak pada efisiensi. Dengan bantuan mesin, redaksi dapat memproduksi konten lebih cepat. Volume berita meningkat, sementara biaya operasional menurun.

Tekanan bisnis yang berat membuat banyak manajemen tergoda menjadikan AI sebagai solusi instan. Algoritma mampu mengolah data dalam jumlah besar tanpa lelah. Dari sisi bisnis, pendekatan ini terlihat rasional.

Masalah muncul ketika kecepatan mengalahkan kedalaman. Mesin tidak hidup di tengah masyarakat. Sistem otomatis juga tidak memahami konteks sosial dan emosi publik. Akibatnya, berita bisa tersaji cepat, tetapi kehilangan makna.

Disinformasi dan Kepercayaan Publik

Di sisi lain, ancaman disinformasi terus membesar. Arus informasi bergerak begitu cepat, sering kali melampaui proses verifikasi. Konten viral melaju tanpa sempat diperiksa ulang.

Algoritma hanya membaca angka interaksi. Selama klik dan share meningkat, sistem akan terus mendorong konten tersebut. Dalam kondisi ini, kesalahan kecil dapat berkembang menjadi kebingungan massal.

Peran jurnalis manusia menjadi krusial di titik ini. Mereka memeriksa fakta, memberi konteks, dan mempertimbangkan dampak sosial dari setiap berita. Tanpa proses tersebut, media berisiko kehilangan kepercayaan publik.

Soal Nilai, Bukan Sekadar Teknologi

Perdebatan tentang AI sering berhenti pada kecanggihan. Padahal, inti persoalan justru terletak pada nilai. Mesin unggul dalam kecepatan, sementara manusia unggul dalam empati dan pertimbangan moral.

Atas dasar itu, Meutya mendorong dialog terbuka antara pemerintah dan media massa. Ia mengajak semua pihak membangun kesepahaman bersama. Harapannya, regulasi yang lahir mampu menjaga kualitas jurnalistik tanpa menghambat inovasi.

Dampaknya ke Gaya Hidup Kita

Isu ini terasa dekat dengan kehidupan Gen Z dan Milenial. Banyak orang kini memakai AI untuk menulis caption, menyusun email, bahkan mencari teman bicara. Teknologi membantu, tetapi ketergantungan berlebihan bisa mengikis refleksi dan empati.

Hidup memang terasa lebih praktis. Namun, ketika mesin mengambil terlalu banyak peran, hubungan antarmanusia berisiko menjadi dangkal.

Penutup

AI akan terus berkembang, dan penolakan bukan solusi. Yang dibutuhkan adalah batas yang jelas. Dalam jurnalisme, sentuhan manusia menjaga kepercayaan publik. Dalam kehidupan sehari-hari, sentuhan manusia menjaga makna.

Sekarang, pertanyaannya sederhana di tengah hidup yang makin otomatis, bagian mana yang masih ingin kamu pertahankan tetap manusiawi?. @teguh

Tags: algoritmainovasiJurnalisJurnalismeKaryaManusiaMedia SosialMenkomdigiRegulasiSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

by dimas
Oktober 16, 2026

Tesla memamerkan mobil terbang melalui demonstrasi Roadster. Benarkah teknologi Elon Musk siap diproduksi pada 2028 atau masih sebatas ambisi? Tabooo.id...

Dari Room Karaoke ke Laporan Polisi: Ketika Video Viral Menjadi Senjata

Dari Room Karaoke ke Laporan Polisi: Ketika Video Viral Menjadi Senjata

by teguh
September 22, 2026

Dalam hitungan menit, sebuah video viral dapat mengubah reputasi seseorang. Nama yang sebelumnya hanya dikenal dalam lingkaran tertentu mendadak muncul...

Kasus MS Melebar: Room Karaoke Jadi Viral, Uang Jadi Persoalan

Kasus MS Melebar: Room Karaoke Jadi Viral, Uang Jadi Persoalan

by teguh
September 21, 2026

Video dari sebuah room karaoke menyeret nama MS, pengurus PWNU Sulawesi Selatan, ke ruang publik. Sejumlah media kemudian mengangkat aktivitas...

Next Post
Pejabat Palestina Sebut Trump Jadikan Dewan Perdamaian Alternatif PBB

Pejabat Palestina Sebut Trump Jadikan Dewan Perdamaian Alternatif PBB

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id