Tabooo.id: Sports – Stadion bisa bersorak. Gol bisa dirayakan. Namun kali ini, cerita datang bukan dari lapangan, melainkan dari keputusan yang mengguncang.
Mehdi Taremi, mantan penyerang Inter Milan, dikabarkan ingin meninggalkan Eropa dan kembali ke Iran. Bukan untuk transfer klub. Bukan untuk kontrak baru. Ia ingin bergabung dengan tentara setelah konflik pecah antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel akhir pekan lalu.
Di tengah kabar gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, keputusan Taremi langsung menyedot perhatian publik sepak bola dunia.
Mesin Gol yang Tiba-Tiba Ingin Pulang
Musim ini sebenarnya berjalan gemilang bagi Taremi. Bersama Olympiakos, ia tampil tajam 16 gol dari 31 pertandingan di semua ajang. Ia menjadi salah satu pilar penting di lini depan. Kecepatan, insting, dan pengalaman membuatnya tetap berbahaya di usia 33 tahun. Namun situasi negaranya mengubah segalanya.
Media Turki Haberler melaporkan bahwa Taremi telah memberi tahu sejumlah pejabat klub tentang niatnya pulang. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) bahkan menyarankan agar ia tetap bertahan di Yunani demi keselamatan dan kariernya.
Akan tetapi, Taremi bersikeras. “Ini adalah momen negara saya paling membutuhkan saya,” ujarnya. Kalimat itu sederhana. Tetapi bobotnya berat.
Antara Jersey dan Seragam Militer
Keputusan ini bukan tanpa risiko. Sebagai warga negara yang memiliki kewajiban militer, Taremi bisa benar-benar terlibat dalam komando pertahanan. Jika itu terjadi, ia terancam absen membela Iran di Piala Dunia 2026.
Lebih jauh lagi, status militernya berpotensi membuatnya kesulitan mendapatkan visa ke Amerika Serikat tuan rumah turnamen tersebut. Artinya, mimpi tampil di panggung terbesar dunia bisa menguap.
Padahal, publik mengenalnya sebagai sosok yang pernah bersinar di FC Porto dan mencicipi kerasnya Serie A bersama Inter. Ia membangun kariernya dengan kerja keras bertahun-tahun. Kini, ia siap mempertaruhkan semuanya.
Lebih dari Sekadar Gol
Sepak bola sering memisahkan diri dari politik. Namun sejarah berulang kali membuktikan bahwa keduanya sulit benar-benar terpisah. Dalam situasi ekstrem, identitas nasional bisa lebih kuat daripada kontrak profesional.
Taremi sedang berdiri di persimpangan paling sunyi dalam hidupnya antara karier dan tanah air.
Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin terasa emosional. Bagi yang lain, ini bentuk keberanian. Yang jelas, momen ini mengingatkan kita bahwa di balik statistik 16 gol dan 31 laga, ada manusia dengan keyakinan dan pilihan hidup.
Jika ia benar-benar melepas sepatu bolanya untuk sementara waktu, dunia akan kehilangan seorang striker tajam. Namun Iran mungkin mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekadar pemain. Dan di situlah sepak bola berhenti menjadi permainan. @teguh




