Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak sih kamu dengar nama yang tiba-tiba viral, lalu sadar: “Loh, orang ini sebenarnya sudah di mana-mana dari dulu?” Itulah yang terjadi pada Ejae. Dunia baru ngeh setelah lagu Golden soundtrack K-Pop Demon Hunters meledak ke mana-mana. Padahal, kalau K-pop punya Avengers versi penulis lagu, Ejae sudah duduk di meja bundarnya sejak lama.
Kim Eun-jae bukan pemain baru. Dia veteran yang baru ramai dibicarakan. Ironis? Tentu. Tapi bukankah industri hiburan memang suka begitu baru memuja setelah semesta ramai tepuk tangan.
Namun, sebelum masuk ke fase kejayaan ini, perjalanan Ejae justru penuh plot twist layaknya K-drama penuh air mata dan glitter.
Dari Trainee Cilik ke Mesin Hits Korea
Ejae memulai hidupnya di industri K-pop sebagai trainee SM Entertainment sejak usia bocah. Hampir sepuluh tahun ia menunggu pintu debut terbuka. Sayangnya, pintunya bahkan tidak bergerak. Karena itu, ia hengkang dan terbang ke Amerika Serikat untuk belajar musik, sambil merapikan mimpi yang sempat retak halus.
Setelah kembali ke Korea, ia mengikuti program pelatihan songwriting milik SM. Dari sini, jalan baru terbuka. Lagu-lagunya mulai dicolek banyak idol, kemudian masuk album, lalu merangkak naik ke chart.
Dan boom tahun 2019, Psycho milik Red Velvet membawa namanya ke jalur utama. Lagu dark-pop itu bukan cuma catchy, tapi juga bukti bahwa Ejae punya telinga awas dan pena tajam. Sejak itu, pintu kolaborasi makin deras. Label besar Centang. Girl group raksasa Double centang. Chart nomor satu? Ampun, jangan ditanya.
Lalu, lagu apa saja yang pernah dia tulis? Banyak. Namun lima ini adalah highlight paling seksi:
- SObeR – Suzy (2018)
Lagu galau nan elegan soal kebingungan setelah patah hati. Suzy membawakan, tapi Ejae yang menghidupkan emosinya. - Psycho – Red Velvet (2019)
Ikonis. Viral. Dan pembuka karier Ejae sebagai penulis lagu yang wajib masuk radar industri. - Last Waltz – TWICE (2021)
Lagu manis tentang “putus yang ingin tetap indah.” TWICE menari lembut, Ejae menulis luka halusnya. - Drama – aespa (2023)
Aespa tampil garang, Ejae menulis top-line yang menggigit. Drama jadi bahan obrolan semua orang tahun itu. - Armageddon – aespa (2024)
Futuristik, keras, dan energik. Ejae membantu aespa memperluas dunianya—plus menegaskan bahwa ia bukan one-hit wonder.
Analisis Tabooo: Industri K-Pop dan Sindrom “Baru Heboh Setelah Viral”
Fenomena Ejae itu menggelitik. Kita hidup di era ketika pencipta konten sering tenggelam di balik popularitas talent. Padahal tanpa penulis, produser, dan tim kreatif, lagu K-pop cuma tinggal koreo tanpa nyawa.
Ejae mengingatkan kita bahwa industri hiburan Korea sebenarnya digerakkan oleh banyak figur yang tak terlihat. Mereka bekerja keras tanpa panggung. Ironisnya, publik baru terkesima ketika satu karya meledak dan algoritma TikTok menggendongnya.
Selain itu, ki
sah Ejae juga menampar lembut obsesi lama industri K-pop kalau kamu tidak debut sebagai idol, berarti gagal. Tapi lihatlah Ejae ia tidak debut, tetapi justru menciptakan musik yang dinyanyikan oleh idol-idol yang dulu mungkin ingin ia selevel dengan mereka.
Kadang hidup memang tidak memberi panggung yang kita harapkan. Tapi kalau jago, kita bisa bikin panggung sendiri.
Saatnya Kamu Ikut Stand Up untuk Penulis Lagu
Kesuksesan Ejae menunjukkan bahwa industri kreatif butuh spotlight lebih besar untuk orang di balik layar. Tanpa mereka, dunia hiburan cuma setengah hidup.
Jadi, apakah sudah saatnya kita merayakan para pencipta lagu seperti kita merayakan idol? Atau setidaknya, berhenti menganggap mereka sebagai “NPC industri”? Yuk, ngobrol. @teguh




