Satu poin yang terlihat kecil ternyata membawa luka besar. Timnas U17 Indonesia gagal melangkah ke semifinal ASEAN U17 Boys Championship 2026 setelah bermain imbang 0-0 melawan Vietnam di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Minggu (19/04/2026). Di laga hidup-mati, Garuda Asia berjuang keras, tetapi pintu berikutnya tetap tertutup.
Tabooo.id: Sports – Indonesia membutuhkan kemenangan untuk menjaga napas di turnamen ini. Namun, hasil imbang membuat skuad asuhan Kurniawan Dwi Yulianto hanya mengoleksi empat poin dan finis di posisi ketiga Grup A.
Sebaliknya, Vietnam datang dengan rencana yang matang. Mereka cukup mengambil satu poin, lalu pulang sebagai pemuncak grup dengan tujuh angka.
Ironisnya, kadang sepak bola tidak runtuh karena kalah. Ia runtuh karena gagal menang saat waktu paling menentukan datang.
Vietnam Menekan Sejak Awal
Sejak menit pertama, Vietnam langsung menguasai ritme pertandingan. Mereka menekan tinggi, memaksa Indonesia bertahan dalam blok rendah, dan membuat aliran bola Garuda Asia terputus.
Dua peluang emas pun lahir cepat. Salah satunya datang dari Nguyen Ngoc Anh Hao pada menit kedelapan. Namun, kiper Abdillah Ishak tampil sigap dan menyelamatkan Indonesia dari kebobolan dini.
“Penjaga gawang besar hadir di momen besar,” kata Gianluigi Buffon dalam wawancara UEFA, 15/06/2023. Abdillah menunjukkan makna kalimat itu.
Tanpa reaksinya, malam ini mungkin berakhir jauh lebih pahit.
Indonesia Bangun Perlahan
Setelah melewati tekanan awal, Indonesia mulai menemukan ritme. Memasuki menit ke-30, tempo Vietnam menurun dan Garuda Asia mulai berani keluar menyerang.
Chico Jericho sempat menciptakan ancaman lewat bola yang mengarah ke gawang. Tetapi, kiper Xuan Hoa Ly masih terlalu tenang untuk ditaklukkan.
Masalahnya, keberanian menyerang belum berubah menjadi peluang bersih. Indonesia hadir di area lawan, tetapi belum benar-benar mengguncang.
“Penguasaan wilayah belum tentu penguasaan pertandingan,” ujar Arsene Wenger dalam forum FIFA Technical Study Group, 21/11/2022.
Babak Kedua: Harapan Muncul, Lalu Menguap
Memasuki babak kedua, duel berjalan lebih seimbang. Indonesia tampil lebih rapi dan lebih berani menekan. Vietnam masih menguasai bola, tetapi tidak lagi seagresif babak pertama.
Momentum terbaik Indonesia datang pada menit ke-63. Girly Andrade melepaskan tembakan jarak jauh yang melayang tipis di atas mistar.
Stadion sempat menahan napas. Harapan sempat naik. Tetapi sepak bola tak pernah memberi hadiah untuk peluang nyaris jadi gol.
Setelah itu, Vietnam menurunkan tempo. Mereka tahu hasil imbang cukup untuk lolos. Indonesia terus mendorong, namun pertahanan lawan tetap disiplin.
Pelajaran Pahit untuk Garuda Asia
Di menit-menit akhir, Indonesia menyerang dengan tenaga terakhir. Vietnam bertahan dengan kepala dingin. Kedua kiper tampil penting sampai peluit panjang berbunyi.
Kurniawan Dwi Yulianto pernah mengatakan, “Pemain muda harus belajar menang, tetapi juga harus belajar bangkit saat gagal” (agenda pembinaan usia muda, 12/08/2024).
Kalimat itu kini terasa sangat dekat.
Ini Bukan Sekadar Tersingkir
Indonesia memang tersingkir. Itu fakta. Namun, cerita besarnya bukan hanya soal hasil. Cerita besarnya adalah tentang tim muda yang punya semangat, tetapi masih perlu ketajaman, ketenangan, dan kematangan saat laga menentukan datang.
Turnamen ini selesai. Tetapi pekerjaan rumah baru saja dimulai.
Sebab di level muda, kekalahan bukan akhir. Kekalahan adalah cermin. Dan malam ini, cermin itu memantulkan banyak hal. @teguh






