Tabooo.id: Global – Di pelosok Kamboja, jauh dari pusat kota dan lebih sunyi dari jalanan saat malam Lebaran, seorang pria Indonesia berinisial RI berlari seperti dikejar maut. Ia meninggalkan paspor, ponsel, ijazah, dan seluruh identitasnya. Semua barang itu tertinggal di balik pagar tinggi dan kawat berduri tempat para pekerja paksa menjalankan penipuan daring di bawah ancaman kekerasan.
Lari itu bukan pilihan. Itu kebutuhan untuk bertahan hidup.
Lebih dari 10.000 WNI Terjerat, 1.500 Masuk Kategori TPPO
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI Kemlu, menyebut lebih dari 10 ribu WNI masuk ke jaringan penipuan di Kamboja. Dari jumlah itu, sekitar 1.500 tercatat sebagai korban perdagangan orang. Data itu memperlihatkan jurang masalah yang jauh lebih besar daripada cerita satu orang yang berhasil lolos.
Karena itu, kisah RI membuka pintu untuk melihat skala bencana sosial yang selama ini tersembunyi.
Respons Lambat, Pelarian Berbulan-bulan
Sebelum kabur, RI menghubungi KBRI Phnom Penh setiap kali ia memegang ponsel saat bekerja. Ia bahkan mengirimkan share location agar tim KBRI bisa melacak posisinya. Namun, ia hanya menerima jawaban singkat “Tunggu, ya.”
Waktu berjalan. Empat bulan berlalu tanpa bantuan nyata.
Sementara itu, para atasan memindahkannya dari satu bos ke bos lain seperti memindahkan barang ekspedisi. Pada satu kesempatan, ia melihat antrean panjang menuju entry gate perusahaan. Di momen inilah ia memutuskan untuk kabur. Tidak ada penjaga bersenjata yang mengawasi area belakang gedung, sehingga ia langsung menyelinap keluar dan berlari sejauh mungkin.
Ia membawa sedikit uang sebagian dari tabungan lamanya dan sebagian lagi dari pekerja lokal yang iba melihatnya tidak digaji dan terus disiksa. Dengan uang itu, ia menumpang angkutan umum dan menempuh perjalanan enam hingga tujuh jam menuju KBRI Phnom Penh. Luka di tubuhnya membuat perjalanan itu jauh lebih menyakitkan.
Namun, ia tetap maju karena kembali ke kompleks berarti kembali ke penyiksaan.
Iklan Palsu, Janji Muluk, dan “Hotel” Berpenjaga Senjata
Semua kesengsaraan itu berawal dari iklan lowongan kerja di Facebook. Tawaran itu terlihat meyakinkan gaji USD 1.200 -1.500 per bulan, fasilitas makan, akomodasi, dan pekerjaan rapi sebagai butler di hotel mewah. Iklan itu menampilkan jabatan bagus dan iming-iming penghasilan empat kali lipat dari UMK Jakarta.
Setelah tiba di Kamboja, RI justru naik mobil gelap yang membawanya melewati hutan rimbun selama berjam-jam. Pada akhirnya ia berhenti di sebuah kompleks yang lebih mirip penjara dibanding hotel. Pagar tinggi, kawat berduri, dan petugas bersenjata menyambut kedatangannya.
Ketika ia masuk, perusahaan langsung mendata identitasnya dan menyita paspor, HP, dan seluruh dokumen penting. Ia tidak bisa keluar. Ia tidak bisa protes. Ia hanya bisa patuh.
Namun, kejutan sesungguhnya terjadi di hari pertama bekerja. Alih-alih menjadi butler, ia diminta memikat korban lewat aplikasi kencan dan media sosial untuk menjerumuskan mereka ke investasi kripto palsu. Ketika RI menolak, atasan memukul, menyetrum, dan mengancamnya.
Sejak itu, penyiksaan menjadi rutinitas. Gaji yang dijanjikan tidak pernah ia terima. Ia juga melihat lantai yang berlumuran bekas darah seperti ada orang diseret.
Saat itu, ia menyadari satu hal tempat itu lebih dekat dengan neraka daripada tempat kerja.
Tiba di KBRI: Selamat, Tetapi Tetap Harus Bayar
Setelah sampai di KBRI Phnom Penh, RI menjalani proses pemeriksaan untuk pengurusan pemulangan. Proses itu berlangsung sekitar satu bulan. Ia akhirnya kembali ke Indonesia, tetapi ia harus membayar denda overstay, membuat dokumen baru, dan membeli tiket pulang dari uang pribadinya.
KBRI menegaskan bahwa mereka tidak berwenang melakukan penjemputan langsung ke kompleks penipuan. Prosedur resmi mewajibkan polisi Kamboja menangani penjemputan. Selain itu, KBRI hanya menanggung biaya pemulangan apabila WNI termasuk korban TPPO.
Karena itu, banyak korban yang harus menanggung biaya sendiri meskipun mereka mengalami penyiksaan.
Siapa Untung, Siapa Rugi?
Untung:
- Sindikat penipuan yang mendapatkan tenaga kerja “gratis”.
- Calo kerja online yang memancing korban dengan iklan palsu.
- Perusahaan scam yang beroperasi dengan keamanan ketat dan struktur rapi.
Rugi:
- Pencari kerja Indonesia yang berharap hidup lebih baik di luar negeri.
- Keluarga korban yang kehilangan kontak dan menanggung beban finansial.
- Negara, karena kejahatan lintas batas bergerak lebih cepat daripada sistem perlindungan warganya.
Pesan RI: Jangan Berangkat Tanpa Verifikasi
Setelah kembali ke Indonesia, RI membawa trauma mendalam. Ia meminta para pencari kerja mengecek ulang setiap tawaran posisi di luar negeri, memastikan identitas perusahaan, dan menghindari negara-negara berisiko tinggi. Ia juga mendorong pemerintah memperketat proses pembuatan paspor bagi calon pekerja luar negeri.
Selain itu, ia berharap Kominfo memblokir iklan lowongan kerja palsu agar tragedi ini tidak terus terjadi.
Penutup: Retorika Tajam untuk Realitas Pahit
RI sudah selamat, tetapi ribuan WNI lain masih terjebak di “pabrik scam” Asia Tenggara. Mereka menunggu pertolongan atau setidaknya perhatian yang tidak datang terlambat.
Pada akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa:
Di era digital, penipuan melaju cepat. Sayangnya, perlindungan warga negara sering kali tertinggal jauh di belakangnya. @dimas




