Tabooo.id: Talk – Pernah nggak kamu ngerasa heran sama satu hal ini? Kenapa ya, di atas kertas semua orang dijamin punya hak yang sama untuk bekerja, tapi begitu masuk dunia nyata hak itu seperti tinggal fotokopian lusuh yang ditempel di tembok kantor. Khususnya buat teman-teman penyandang disabilitas, gap antara “Janji Undang-Undang” dan “Realita di Lapangan” kadang lebarnya kayak jurang dua bukit yang belum ada jembatannya.
Dan jujur, kita semua tahu masalahnya bukan cuma soal fasilitas. Masalah utamanya adalah stigma. Yup, si kecil yang diam-diam ngatur persepsi, keputusan, sampai nasib orang.
Hak Sudah Ada Tapi Kok Kayak Nggak Ada
Secara hukum, penyandang disabilitas harusnya bisa kerja di mana aja. Mau jadi admin, programmer, barista, sampai analis data pun bisa banget. Tapi di lapangan banyak perusahaan masih melihat disabilitas dengan kacamata “takut ribet”, “takut risiko”, atau “takut nggak produktif”.
Padahal kalau mau jujur, semua alasan itu lebih mirip asumsi daripada fakta. Penelitian Keterbatasan vs Kesempatan mengungkapkan bahwa stigma dan minimnya literasi inklusi adalah biang kerok rendahnya partisipasi disabilitas di sektor formal.
Karena dianggap “repot”, banyak dari mereka akhirnya tersedot ke sektor informal. Tanpa kontrak, tanpa BPJS, tanpa perlindungan kerja. Ironisnya, kemampuan mereka sebenarnya sama luasnya dengan kemampuan siapa pun. Tapi apa daya, stigma lebih cepat masuk ke kepala HRD dibanding CV mereka.
Pendidikan Tinggi Masih Jadi Lintasan Berliku
Kamu mungkin mikir, lah kan ada pendidikan. Iya, ada. Tapi aksesnya nggak merata.
Lestari Moerdijat dari MPR pernah bilang bahwa hanya sebagian kecil penyandang disabilitas yang bisa lanjut kuliah. Alasannya klasik tapi tetap menyakitkan: fasilitas minim, biaya berat, dukungan sistemik tipis.
Kalau akses pendidikan tinggi saja sudah sulit, gimana mau bersaing di pasar kerja yang makin kompetitif? Hasilnya bisa ditebak, peluang mengecil, ruang kerja formal makin sempit, sementara pekerjaan yang tersedia kebanyakan non-formal. Lagi-lagi, siklusnya berulang.
Tapi Kan Sekarang Banyak Program Inklusif Perspektif Kubu Optimis
Nah, sekarang kita masuk ke kubu sebelah. Kubu yang bilang, nggak kok kita sudah inklusif dan banyak program baru sekarang.
Dan benar, ada titik-titik cahaya.
Di Sidoarjo, Job Fair Inklusif Hybrid baru-baru ini membuka lebih dari 100 lowongan untuk penyandang disabilitas. Di Jakarta, rangkaian job fair tahun ini diklaim membantu sekitar 150 penyandang disabilitas masuk kerja formal.
Belum lagi program SheAblepreneur yang bantu perempuan disabilitas bikin usaha lewat pelatihan digital dan manajemen bisnis. Banyak UMKM difabel juga makin menunjukkan taringnya dengan produk yang tembus platform global.
Kalau mau jujur, ini perkembangan penting. Tapi apakah sudah cukup? Eits, jangan buru-buru optimis dulu.
Sisi Gelap yang Tetap Nempel Model Lama yang Belum Mau Pergi
Meski sudah ada program inklusif, masalah terbesar masih sama yaitu cara pandang.
Banyak orang masih pakai “moral model” yang merasa harus mengasihani penyandang disabilitas. Atau “charity model” yang melihat mereka sebagai objek bantuan.
Padahal dunia sudah bergeser ke model sosial. Artinya, hambatan bukan di tubuh mereka tetapi di lingkungan yang nggak aksesibel.
Bayangin kalau kita masih berpikir “kasihan ya dia pasti susah kerja”. Itu bukan empati, tapi bias yang dibungkus niat baik. Beda tipis tapi efeknya besar. Sama saja dengan bilang, kamu boleh kerja tapi jangan yang terlalu sulit ya.
Saat sistem tidak berubah, peluang juga tidak akan ikut berubah.
Tabooo Talk Jujur Aja Kita Semua Pernah Berkontribusi ke Stigma Ini
Jujur saja mungkin kita pernah tanpa sadar ikut mempertahankan stigma. Pernah ragu ngajak teman disabilitas kerja bareng? Pernah mikir mereka butuh dikasihani? Atau diam saja waktu lihat perusahaan cuma pasang lowongan untuk pelamar non-disabilitas?
Nggak apa-apa ngaku. Yang penting berubah.
Tabooo percaya bahwa empati tanpa aksi itu cuma basa-basi. Perusahaan perlu mulai investasi pada akomodasi kerja, bukan cuma menghindari kerumitan. Pendidikan tinggi perlu jadi ruang inklusi nyata, bukan sekadar brosur kampus. Dan kita sebagai masyarakat harus berhenti menempatkan penyandang disabilitas dalam kotak tidak mampu.
Kalau kotak itu terus dipakai, selamanya mereka akan dianggap berbeda. Padahal yang berbeda sebenarnya adalah sistemnya, bukan manusianya.
Jadi Kita Mau ke Mana
Akhirnya semua kembali pada pertanyaan simpel tapi penting. Kita mau mempertahankan status quo atau mau bantu membuka pintu?
Kita bisa mulai dari hal kecil cara ngomong, cara berpikir, cara memberi ruang bagi teman-teman disabilitas untuk hadir sebagai individu kompeten, bukan objek belas kasihan.
Kesetaraan bukan jargon. Buat penyandang disabilitas ini adalah jalur hidup, jalan menuju martabat dan kemandirian.
Lalu kamu di kubu mana? @dimas




