Tabooo.id: Deep – Sore itu, aroma dupa dan wangi bunga melati bercampur di udara Keraton Surakarta. Di antara barisan abdi dalem yang menunduk khidmat, suara sirine tiba-tiba memecah keheningan. Mobil dinas berhenti di depan Kori Kamandungan. Dari dalam, muncul Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, disusul Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Mereka datang untuk melayat. Tapi di Keraton, langkah pejabat jarang berhenti di batas belasungkawa.
Di depan jenazah Sinuhun Pakubuwono XIII, doa bergema, kamera bergulir, dan tangan-tangan menunduk. Namun begitu doa selesai, suasana berubah. Pintu tertutup rapat, abdi dalem menjauh, dan hanya tiga nama yang tersisa di dalam ruangan itu, Kapolri, Gubernur, dan keluarga inti Keraton termasuk Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwono dan sang putra mahkota, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purbaya, atau yang sering disebut Gusti Purbaya.
Publik pun bertanya: apakah kunjungan ini sekadar penghormatan? Atau awal sebuah bentuk dukungan?
Duka dan Skenario Politik
Pakubuwono XIII wafat pada Minggu (2/11). Ia meninggalkan Keraton yang masih berdiri megah tapi tak lagi memegang kuasa politik. Meski begitu, simbol budaya dan legitimasi sejarahnya tetap punya daya pikat luar biasa. Setiap kali Keraton kehilangan raja, aroma perebutan kekuasaan muncul kembali, halus tapi terasa.
Beberapa jam setelah kabar wafatnya sang raja tersebar, aparat mulai mengerahkan pasukan. Polri menurunkan 469 personel untuk menjaga prosesi adat hingga pemakaman di Imogiri, Yogyakarta. Secara formal, langkah itu untuk menjamin keamanan. Namun, di balik barikade dan protokol, banyak orang menilai ada percakapan lain: siapa yang akan naik takhta?
Dalam tradisi Jawa, raja tidak hanya lahir dari darah biru, tapi juga dari restu negara. Dan sejarah mencatat, negara kerap ikut menentukan siapa yang pantas mengenakan mahkota.
Pertemuan yang Tak Diumumkan
Setelah memberi penghormatan, Kapolri dan Gubernur tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka memilih duduk bersama keluarga inti Keraton dalam pertemuan tertutup. Tak ada agenda resmi, tak ada dokumentasi, hanya bisik-bisik yang beredar di antara dinding batu tua.
Seorang sumber dalam Keraton mengatakan, pertemuan itu membahas dua hal: pengamanan prosesi pemakaman dan arah transisi setelah Sinuhun wafat.
Nama Gusti Purbaya muncul paling sering. Sebagai putra mahkota yang aktif menjalin komunikasi dengan birokrat dan tokoh adat, ia terlihat siap mengambil alih peran.
“Gusti Purbaya memahami adat sekaligus dunia modern,” tambah sumber tersebut. “Beliau bisa jadi jembatan antara tradisi dan negara.”
Antara Warisan dan Kepentingan
Keraton Surakarta selalu menjadi panggung tempat adat dan politik berdansa dalam diam. Dulu, raja memerintah dengan titah. Kini, siapa pun yang ingin berkuasa harus menegosiasikan restu dengan pejabat, partai, dan media. Namun kekuasaan simbolik Keraton tetap menggoda banyak pihak mulai dari pejabat daerah hingga elite nasional.
Alasannya sederhana: kedekatan dengan Keraton berarti akses pada legitimasi sejarah. Dalam masyarakat Jawa, garis keturunan bangsawan masih punya nilai sosial dan politik. Siapa pun yang bisa menggenggam itu, otomatis mengantongi citra “berakar” dan “berbudaya” dua hal yang laku keras di panggung politik.
Karena itu, pertemuan tertutup di tengah duka tak bisa dibaca semata sebagai urusan adat. Negara ingin memastikan satu hal: stabilitas budaya tetap terjaga, konflik perebutan takhta tidak melebar, dan semua pihak tunduk pada narasi “ketertiban tradisi”.
Sikap Redaksi Tabooo: Di Antara Dupa dan Diplomasi
Kematian seorang raja seharusnya menjadi momen hening. Tapi di negeri ini, bahkan duka pun sulit lepas dari agenda politik. Ketika Kapolri dan Gubernur hadir dengan rombongan besar, masyarakat melihat dua wajah kekuasaan sekaligus: penghormatan dan pengendalian.
Negara memang datang membawa bunga, tapi juga membawa pesan: adat boleh hidup, asal tetap patuh pada garis stabilitas.
Tabooo percaya, warisan budaya bukan benda museum. Ia hidup, tumbuh, dan bicara tentang siapa kita sebenarnya. Keraton tidak seharusnya menjadi simbol yang dikunci di balik pagar protokol. Namun ketika adat dijaga lebih ketat daripada kebenaran, yang mati bukan hanya raja tapi makna yang pernah ia lindungi.
Siapa yang Menjaga Penjaga?
Besok, jenazah Pakubuwono XIII akan beristirahat di Imogiri. Ribuan orang akan datang membawa doa, bunga, dan harapan. Tapi jauh sebelum tanah menutup pusara, satu pertanyaan tetap menggantung di langit Solo: siapa yang sebenarnya berduka rakyat, atau kekuasaan?
Di tanah Jawa, raja bisa berpulang. Tapi permainan di balik tahtanya, tampaknya tidak pernah benar-benar berhenti. @dimas




