Tabooo.id: Life – “Kalian bilang ingin menyatukan kami. Tapi saat kami berdiri kembali sebagai saudara, satu suara kecil kalian bisikkan cukup untuk memecah kami lagi.
Mengapa?”
Ada saat-saat tertentu dalam hidup
ketika sunyi menjadi lebih bising daripada teriakan.
Itulah yang kurasakan sejak Ayah pergi.
Ruang-ruang istana yang dulu dipenuhi suaranya
kini seperti hanya memantulkan gema perdebatan
yang tak pernah kami inginkan.
Aku, GKR Dewi Ratih Widyasari…
putri yang pernah ia peluk erat ketika dunia terasa terlalu keras
masih menyimpan setiap kata terakhirnya.
Amanat itu bukan beban,
tetapi cinta seorang ayah kepada anak-anaknya.
Cinta yang ingin kami jaga,
meskipun tangan sudah gemetar dan hati sudah penuh luka.
Namun betapa anehnya nasib:
yang kami jaga dengan air mata,
kalian sangkal dengan suara datar.
Yang kami jalankan dengan niat tulus,
kalian anggap sebagai pemberontakan.
Aku tak pernah mengerti…
mengapa setelah tubuh Ayah dingin,
kalian masih sanggup menolak kehormatan untuknya.
Mengapa peti jenazahnya pun
seakan harus “diperdebatkan”,
seolah beliau tidak lagi pantas disanjung
sebagai orang yang pernah kalian panggil saudara.
Tidak adakah sedikit saja kelembutan tersisa dalam hati kalian?
Satu serpih saja?
Kami bukan datang membawa pedang.
Kami datang membawa rindu yang patah,
dan keinginan sederhana untuk rukun.
Berpuluh kali kami mengetuk pintu,
berusaha merangkul,
mengajak duduk dalam satu meja
yang dulu kita bagi bersama sebagai keluarga.
Tapi setiap ketukan kami
kalian jawab dengan penolakan,
atau janji yang hanya mekar di bibir
dan layu saat hari berganti.
Kalian bilang ingin menyatukan kami.
Tapi saat kami berdiri kembali sebagai saudara,
satu suara kecil kalian bisikkan
cukup untuk memecah kami lagi.
Mengapa?
Untuk kepentingan apa?
Apakah persatuan kami
terlalu berbahaya bagi ambisi kalian?
Dua puluh satu tahun Ayah memimpin.
Dua puluh satu tahun penuh badai.
Kami melihat betapa lelahnya ia,
tetapi ia tetap tak pernah membenci kalian.
Di dalam hatinya, kalian tetap keluarga.
Namun nyatanya,
bahkan setelah beliau bisu dalam peti,
kalian masih menaruh jarak,
membiarkan hormat yang seharusnya menjadi haknya
menggantung di udara,
tanpa pernah benar-benar kalian berikan.
Dan ketika kalian berkata,
“semua sudah sesuai putusan hukum,”
kami hanya tertawa pahit.
Hukum yang mana?
Putusan yang mana?
Berapa kali kami mengajak membaca bersama,
berdiskusi dengan hati terbuka
dan kalian selalu menghindar.
Kebenaran bukan sesuatu yang menakutkan,
kecuali bagi mereka yang tahu
bahwa kebenaran itu akan mengupas topengnya sendiri.
Tuhan membuka mata kami perlahan.
Bahwa selama ini banyak hal yang kami anggap benar
hanyalah bayangan dari manipulasi.
Mengetahui itu sakit,
tapi setidaknya kini kami melihat dengan jelas:
kami harus menjaga warisan Ayah,
entah kalian berdiri bersama kami atau tidak.
Kami tidak akan memohon lagi.
Bukan karena kami membenci,
tetapi karena hati kami sudah terlalu lelah.
Pintu tetap terbuka
jika suatu hari kalian ingin duduk bersama
tanpa dendam, tanpa kepentingan.
Hanya satu yang kami ingin kalian pahami:
Adat bukan pangkat,
pangeran bukan gelar yang dilafalkan,
dan istana bukan panggung ambisi.
Adat adalah kehalusan budi.
Pangeran adalah ketulusan hati.
Istana adalah rumah doa dan kebaikan.
Kalau semua itu telah kalian tinggalkan,
maka yang tersisa hanyalah tembok batu
tanpa ruh, tanpa jiwa, tanpa makna.
Dan Ayah kami…
tak pantas dikenang dengan cara seperti itu.
(Kutipan Kisah GKR Dewi Ratih Widyasari Putri PB XIII). (sig)




