Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Antara Sisa Doa Ayah, Mengapa Kalian Justru Menjadi Luka?

by sigit
November 17, 2025
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – “Kalian bilang ingin menyatukan kami. Tapi saat kami berdiri kembali sebagai saudara, satu suara kecil kalian bisikkan cukup untuk memecah kami lagi.
Mengapa?”

Ada saat-saat tertentu dalam hidup
ketika sunyi menjadi lebih bising daripada teriakan.
Itulah yang kurasakan sejak Ayah pergi.
Ruang-ruang istana yang dulu dipenuhi suaranya
kini seperti hanya memantulkan gema perdebatan
yang tak pernah kami inginkan.

Aku, GKR Dewi Ratih Widyasari…
putri yang pernah ia peluk erat ketika dunia terasa terlalu keras
masih menyimpan setiap kata terakhirnya.
Amanat itu bukan beban,
tetapi cinta seorang ayah kepada anak-anaknya.
Cinta yang ingin kami jaga,
meskipun tangan sudah gemetar dan hati sudah penuh luka.

Namun betapa anehnya nasib:
yang kami jaga dengan air mata,
kalian sangkal dengan suara datar.
Yang kami jalankan dengan niat tulus,
kalian anggap sebagai pemberontakan.

Aku tak pernah mengerti…
mengapa setelah tubuh Ayah dingin,
kalian masih sanggup menolak kehormatan untuknya.
Mengapa peti jenazahnya pun
seakan harus “diperdebatkan”,
seolah beliau tidak lagi pantas disanjung
sebagai orang yang pernah kalian panggil saudara.

Ini Belum Selesai

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Tidak adakah sedikit saja kelembutan tersisa dalam hati kalian?
Satu serpih saja?

Kami bukan datang membawa pedang.
Kami datang membawa rindu yang patah,
dan keinginan sederhana untuk rukun.
Berpuluh kali kami mengetuk pintu,
berusaha merangkul,
mengajak duduk dalam satu meja
yang dulu kita bagi bersama sebagai keluarga.
Tapi setiap ketukan kami
kalian jawab dengan penolakan,
atau janji yang hanya mekar di bibir
dan layu saat hari berganti.

Kalian bilang ingin menyatukan kami.
Tapi saat kami berdiri kembali sebagai saudara,
satu suara kecil kalian bisikkan
cukup untuk memecah kami lagi.
Mengapa?
Untuk kepentingan apa?
Apakah persatuan kami
terlalu berbahaya bagi ambisi kalian?

Dua puluh satu tahun Ayah memimpin.
Dua puluh satu tahun penuh badai.
Kami melihat betapa lelahnya ia,
tetapi ia tetap tak pernah membenci kalian.
Di dalam hatinya, kalian tetap keluarga.
Namun nyatanya,
bahkan setelah beliau bisu dalam peti,
kalian masih menaruh jarak,
membiarkan hormat yang seharusnya menjadi haknya
menggantung di udara,
tanpa pernah benar-benar kalian berikan.

Dan ketika kalian berkata,
“semua sudah sesuai putusan hukum,”
kami hanya tertawa pahit.
Hukum yang mana?
Putusan yang mana?
Berapa kali kami mengajak membaca bersama,
berdiskusi dengan hati terbuka
dan kalian selalu menghindar.
Kebenaran bukan sesuatu yang menakutkan,
kecuali bagi mereka yang tahu
bahwa kebenaran itu akan mengupas topengnya sendiri.

Tuhan membuka mata kami perlahan.
Bahwa selama ini banyak hal yang kami anggap benar
hanyalah bayangan dari manipulasi.
Mengetahui itu sakit,
tapi setidaknya kini kami melihat dengan jelas:
kami harus menjaga warisan Ayah,
entah kalian berdiri bersama kami atau tidak.

Kami tidak akan memohon lagi.
Bukan karena kami membenci,
tetapi karena hati kami sudah terlalu lelah.
Pintu tetap terbuka
jika suatu hari kalian ingin duduk bersama
tanpa dendam, tanpa kepentingan.

Hanya satu yang kami ingin kalian pahami:

Adat bukan pangkat,
pangeran bukan gelar yang dilafalkan,
dan istana bukan panggung ambisi.

Adat adalah kehalusan budi.
Pangeran adalah ketulusan hati.
Istana adalah rumah doa dan kebaikan.

Kalau semua itu telah kalian tinggalkan,
maka yang tersisa hanyalah tembok batu
tanpa ruh, tanpa jiwa, tanpa makna.

Dan Ayah kami…
tak pantas dikenang dengan cara seperti itu.

(Kutipan Kisah GKR Dewi Ratih Widyasari Putri PB XIII). (sig)


Tags: KGPAA HamangkunagoroKGPH PurbayaKraton SurakartaPB XIII

Kamu Melewatkan Ini

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

by dimas
April 20, 2026

Pantai, sesaji, dan barisan abdi dalem bergerak perlahan menuju laut. Sebagian orang melihatnya sebagai ritual tahunan yang sakral. Banyak juga...

Kerajaan Kehilangan Tanah atau Negara “Sengaja” Mengubah Statusnya?

Kerajaan Kehilangan Tanah atau Negara “Sengaja” Mengubah Statusnya?

by Tabooo
April 6, 2026

Tabooo.id: Deep – Mengapa aset tanah dan bangunan milik kerajaan di Indonesia tidak pernah kembali kepada ahli warisnya setelah kemerdekaan? Pertanyaan...

Bersua Sang Raja: Silaturahmi atau Ujian Etika?

Bersua Sang Raja: Silaturahmi atau Ujian Etika?

by Tabooo
Mei 28, 2026

Oleh: Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia) Tabooo.id: Talk - Acara Bersua Sang Raja di Kraton Surakarta bukan sekadar agenda Idulfitri....

Next Post
Jangan Cuci Beras di Panci Rice Cooker: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bikin Hidupmu Ribet

Jangan Cuci Beras di Panci Rice Cooker: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bikin Hidupmu Ribet

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id