Tabooo.id: Life – Peluru itu melesat dalam keheningan. Arena tidak dipenuhi teriakan atau selebrasi berlebihan. Yang tersisa hanya napas tertahan, jari yang stabil, serta sepasang mata yang menolak berkedip. Di balik jaket menembak dan kacamata pelindung, Dewi Laila berdiri sejajar dengan atlet lain. Ia tampak tenang, fokus, dan nyaris tanpa celah emosi.
Namun demikian, ketenangan itu menyimpan denyut lain yang tak tercatat di papan skor. Di dalam tubuhnya, kehidupan lain tumbuh. Empat bulan usia kehamilan yang ia simpan rapat. Dari kondisi inilah, dua medali emas SEA Games 2025 lahir dan mengubah kisah ini menjadi lebih dari sekadar angka.
Sunyi yang Menguji Fokus di Garis Tembak
Nomor 10 meter air rifle memang tidak ramah sorak sorai. Cabang ini menuntut keheningan yang ketat dan disiplin penuh. Sedikit getaran tangan dapat menggeser arah peluru. Sementara itu, pikiran yang melayang sesaat saja bisa meruntuhkan konsentrasi.
Dalam nomor perorangan putri, Dewi lebih dulu menaklukkan rasa gugupnya sendiri. Setelah itu, ia kembali memasuki arena beregu bersama Dominique Rachmawati Karini dan Yasmin Figlia Achadiat. Melalui fokus yang terjaga, tekanan pun berhasil dilewati. Alhasil, dua medali emas jatuh ke tangan Indonesia.
Sebagian besar orang mungkin hanya melihat hasil akhir. Padahal, di balik angka itu, proses panjang berlangsung dalam diam. Justru di sanalah letak sisi paling manusiawi sekaligus paling melelahkan.
“Alhamdulillah, saya benar-benar tidak menyangka,” ujar Dewi pelan, seolah masih menimbang kenyataan.
“Saya kira pulang tidak membawa apa-apa. Paling mentok di perak atau perunggu.”
Kalimat itu terdengar jujur. Tidak ada nada merendah. Tidak pula terasa dibuat-buat.
Empat Bulan yang Dipilih untuk Disimpan
Sejak awal persiapan, Dewi memilih untuk tidak banyak bicara. Bahkan, orang yang paling dekat dengannya di arena pun tidak mengetahui kondisinya.
“Sekamar sama Dominique saja dia enggak tahu,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Keputusan tersebut tentu membawa konsekuensi. Ia tetap mengikuti pemusatan latihan. Selain itu, ia tetap menjalani tes fisik dan ritme kompetisi yang ketat. Tidak ada perlakuan khusus. Tidak pula tersedia jalur berbeda.
Pada bulan-bulan awal, tubuhnya sempat memberi sinyal perlawanan. Mual datang tiba-tiba. Pusing muncul di waktu yang tak terduga. Meski begitu, Dewi belajar menahan diri.
“Waktu masih awal itu mual. Supaya enggak ketahuan teman-teman, saya tahan sendiri. Cuma cerita ke suami.”
Pada titik ini, olahraga tidak lagi sekadar soal teknik. Sebaliknya, ia berubah menjadi ujian ketahanan emosional. Seorang perempuan harus berdiri di antara tuntutan prestasi dan tanggung jawab terhadap tubuhnya sendiri.
Tubuh Perempuan dan Batas Sistem Prestasi
Dalam banyak kasus, dunia olahraga prestasi jarang dirancang dengan kehamilan sebagai pertimbangan utama. Sistem lebih sering memandang atlet sebagai mesin performa. Target, angka, dan medali menjadi ukuran keberhasilan.
Padahal, tubuh perempuan memiliki dinamika yang tak bisa diseragamkan. Ada perubahan hormon, ada adaptasi fisik, dan ada kehidupan yang tumbuh. Sayangnya, sistem belum selalu siap merespons kompleksitas itu secara manusiawi.
Dewi memahami risiko tersebut. Karena itu, ia memilih jalur aman. Ia berkonsultasi dengan Indonesia Anti-Doping Organization. Selain itu, ia melaporkan konsumsi vitamin ke World Anti-Doping Agency. Dengan cara itu, ia memastikan seluruh langkah tetap sesuai aturan.
Di tengah tekanan prestasi, Dewi memilih taat. Sementara dalam keterbatasan, ia tetap memegang kejujuran.
Paradoks Ketenangan yang Mengantar Emas
Menariknya, kemenangan justru datang ketika beban Dewi bertambah. Ia tampil paling tenang saat tubuhnya sedang bernegosiasi dengan perubahan besar.
Barangkali karena menembak memang olahraga tentang keseimbangan. Olahraga ini menuntut pengendalian napas. Selain itu, ia meminta atlet berdamai dengan diri sendiri sebelum mengalahkan lawan.
Kehamilan membuat Dewi bergerak lebih pelan dan lebih waspada. Namun, kesadaran itu justru memperhalus presisi bidikannya. Alih-alih melawan tubuhnya, ia memilih mendengarkannya.
Prestasi sebagai Penanda Waktu
SEA Games 2025 menjadi titik penting dalam perjalanan karier Dewi Laila. Pada edisi 2021 yang digelar 2022, ia membawa pulang satu emas dan satu perunggu. Sementara itu, pada 2023, cabang menembak bahkan tidak dipertandingkan.
Kini, ia kembali dengan cerita yang jauh lebih kompleks. Dua emas yang diraih bukan sekadar pencapaian atletik, melainkan juga penanda fase hidup.
Pada saat yang sama, Dewi adalah atlet dan calon ibu. Kedua peran itu hadir berdampingan tanpa saling meniadakan.
Menang Tanpa Kehilangan Diri
Kisah Dewi Laila mengingatkan bahwa prestasi tidak seharusnya menuntut penghapusan diri. Dunia olahraga kerap memuja pengorbanan, tetapi sering lupa merawat manusianya.
Dewi tidak berteriak dan tidak menuntut simpati. Ia berjalan pelan, mengerjakan bagiannya, lalu pulang membawa emas. Bahkan, tubuhnya bekerja dua kali lipat.
Di dunia yang sering memaksa perempuan memilih antara karier dan kehamilan, prestasi dan keluarga, Dewi menunjukkan kemungkinan lain. Memilih keduanya memang berat. Namun demikian, hal itu bukan mustahil.
Sunyi yang Akan Bertahan
Beberapa tahun ke depan, detail skor mungkin terlupakan. Akan tetapi, cerita ini akan tetap hidup. Tentang seorang atlet yang berdiri di garis tembak sambil membawa kehidupan lain di dalam tubuhnya. Tentang kemenangan yang lahir dari sunyi.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan bagaimana Dewi meraih dua emas saat hamil. Pertanyaan itu justru mengarah ke sistem. Kapan dunia olahraga benar-benar siap merayakan prestasi tanpa mengabaikan kemanusiaan atletnya.
Sebab medali memang berkilau. Namun, keberanian untuk tetap menjadi manusia adalah emas yang paling sulit diraih. @dimas





