Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak sih, kamu sadar kalau tubuh artis sering diperlakukan seperti properti umum? Boleh dikomentari, dinilai, bahkan “diatur” ramai-ramai. Kali ini, Denada kembali duduk di pusat sorotan. Bukan karena lagu baru atau drama asmara, tapi karena satu hal klasik: keputusan atas tubuhnya sendiri.
Setelah publik heboh soal perubahan wajahnya, Denada kembali bicara terbuka. Ia mengaku menjalani operasi payudara di Thailand dengan biaya besar. Ia menyampaikannya tanpa bisik-bisik. Tanpa kode. Tanpa klarifikasi berlapis.
Internet pun, seperti biasa, langsung bereaksi.
Dari Oplas Wajah ke Kejujuran Tubuh
Nama Denada sudah lama lekat dengan isu operasi plastik. Ia mengubah beberapa bagian wajahnya, termasuk hidung. Publik ramai membicarakan perubahan itu, apalagi setelah ia melewati fase berat mendampingi sang putri, Aisha Aurum, melawan kanker.
Sebagian orang memuji keberaniannya. Sebagian lain melontarkan komentar pedas. Namun Denada tidak berhenti di situ.
Dalam acara FYP Trans7, Selasa (16/12/2025), Denada kembali jujur. Ia mengakui baru saja menjalani prosedur kecantikan di bagian atas tubuhnya.
“Ada yang dipercantik,” ucapnya santai.
Satu kalimat itu cukup untuk memicu diskusi panjang.
Mahal, Tapi Bukan Keputusan Asal-asalan
Soal biaya, Denada memilih tidak menyebut angka. Namun ia tidak mengelak ketika menyebut prosedur itu menguras dana besar. Ia juga menegaskan satu hal penting ia tidak bertindak impulsif.
Denada merencanakan semuanya jauh hari. Ia menyiapkan waktu. Ia mengatur keuangan. Ia mempertimbangkan risiko dengan matang.
Dengan gaya ringan, ia bahkan bercanda soal karakter emak-emak yang selalu menyiapkan segala hal sejak lama. Bukan nekat. Bukan ikut-ikutan.
Label “Ketagihan Oplas” dan Jawaban Langsung
Netizen tentu tidak tinggal diam. Label “ketagihan oplas” langsung menempel. Namun Denada memilih menjawab dengan kepala dingin.
Ia menegaskan bahwa setiap prosedur membawa risiko. Ia paham betul harga yang harus ia bayar. Karena itu, ia menolak anggapan bahwa operasi plastik adalah keputusan ringan.
Ia juga mematahkan spekulasi soal pasangan baru. Tidak ada upaya menyenangkan orang lain. Tidak ada tuntutan relasi. Ia melakukan semua itu untuk dirinya sendiri.
Untuk merasa nyaman. Untuk merasa bahagia.
Tubuh Perempuan, Pilihan Pribadi, dan Tekanan Sosial
Di titik ini, cerita Denada berhenti menjadi gosip hiburan. Cerita ini berubah menjadi cermin sosial. Tubuh perempuan, terutama figur publik, sering dianggap ruang diskusi bebas.
Saat perempuan tidak merawat diri, publik mengkritik. Saat perempuan terlalu merawat diri, publik kembali menghakimi. Standarnya selalu bergerak. Tekanannya tidak pernah hilang.
Denada memilih bersuara. Ia menegaskan hak atas tubuhnya sendiri. Ia ibu. Ia perempuan. Ia manusia dengan tubuh yang berubah karena usia, aktivitas, dan perjalanan hidup.
Jadi, Siapa Sebenarnya yang Gelisah?
Operasi plastik bukan kewajiban. Bukan juga solusi universal. Namun keputusan itu tetap hak personal. Yang patut kita pertanyakan justru reaksi kita sebagai penonton.
Kenapa pilihan seseorang atas tubuhnya sendiri terasa mengusik banyak orang?
Kenapa kebahagiaan orang lain sering memancing penilaian?
Mungkin karena kita masih gemar mengatur standar hidup orang lain. Atau mungkin karena mengomentari hidup publik figur terasa lebih mudah daripada berdamai dengan diri sendiri.
Akhirnya, isu ini bukan soal Denada dan oplas. Isunya sederhana kapan kita berhenti merasa paling berhak atas tubuh orang lain?. @teguh




