• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Entertainment

Denada Digugat Rp 7 Miliar: Gugatan Anak dan Harga Sebuah Citra

Januari 11, 2026
in Entertainment
A A
Denada Digugat Rp 7 Miliar: Gugatan Anak dan Harga Sebuah Citra

Denada(Instagram @denadaindonesia)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Tidak ada backsound orkestra. Tidak ada lampu panggung. Sebaliknya, ruang pengadilan melontarkan satu kalimat dingin “Saya anak yang ditinggalkan.”
Kalimat itu langsung memotong sunyi. Ia tidak hadir sebagai gosip selebritas, melainkan sebagai gema panjang dari keputusan 24 tahun lalu saat nama besar, rahim perempuan, dan rasa malu sosial saling bertubrukan.

Sejak awal, kasus ini menolak label sebagai sekadar drama artis. Ia lebih mirip luka lama yang akhirnya memilih bicara.

Gugatan yang Membuka Masa Lalu

Ressa Rizky Rosano, seorang pemuda asal Banyuwangi, menggugat Denada ke Pengadilan Negeri Banyuwangi. Ia mengaku sebagai anak kandung yang Denada tinggalkan sejak kecil. Karena itu, ia menuntut hak sebagai anak sekaligus ganti rugi materiil senilai Rp 7 miliar hasil akumulasi biaya hidup dan pendidikan yang, menurutnya, tak pernah ia terima.

Sementara itu, Denada melalui kuasa hukumnya menyatakan kesiapan menghadapi gugatan tersebut. Proses hukum pun berjalan. Bukti akan berbicara di persidangan. Publik, di sisi lain, terus menunggu sambil bertanya: apakah perkara ini soal kebenaran biologis, atau justru soal luka psikologis yang terlalu lama terpendam?

Ibu, Citra, dan Anak yang Tak Pernah Diakui

Kasus ini tidak berhenti pada tes DNA atau pasal perbuatan melawan hukum. Lebih jauh, kasus ini menyorot sosok ibu sebagai figur publik dan meminggirkan anak sebagai bayangan yang lama terabaikan. Di titik ini, cerita menjadi jauh lebih kompleks.

Terutama, kasus ini memperlihatkan bagaimana sorotan publik kerap memaksa perempuan memilih antara menjaga citra atau mengakui naluri. Popularitas menuntut kebisuan, bahkan ketika orang lain dalam hal ini seorang anak harus membayar konsekuensinya.

RelatedPosts

Dilan ITB 1997: Antara Nostalgia dan Realita yang Nyelekit

Riot Games Rilis Miks, Agent Valorant yang Membawa Beat ke Medan Tempur

Bagi anak muda hari ini, kisah Ressa terasa dekat. Banyak dari mereka tumbuh dengan orang tua yang “ada tapi tiada” hadir secara administratif, tetapi absen secara emosional dan tanggung jawab. Karena itu, gugatan ini terdengar seperti teriakan generasi yang lelah berdamai tanpa kejelasan.

Selain itu, kasus ini juga memuat lapisan kelas dan geografi. Jakarta tampil sebagai panggung gemerlap, sementara Banyuwangi menjadi ruang sunyi tempat rahasia disimpan. Namun, seiring waktu, karier dan reputasi yang terus melaju ke depan ternyata tidak pernah benar-benar mampu meninggalkan masa lalu. Pada akhirnya, masa lalu itu menyusul pelan, tetapi mematikan.

Mengapa Kasus Ini Penting Sekarang

Di era ketika healing berubah menjadi jargon dan trauma menjelma konten, kasus ini hadir sebagai pengingat keras. Tidak semua luka selesai dengan unggahan Instagram atau obrolan podcast. Beberapa luka justru menuntut keadilan formal dan pengakuan nyata.

Karena itu, esensi kasus ini tidak terletak pada siapa yang paling benar. Sebaliknya, ia terletak pada keberanian membuka percakapan publik tentang tanggung jawab orang tua, hak anak, dan kesediaan menghadapi sejarah personal yang selama ini sengaja disembunyikan.

Penilaian Akhir

Ini bukan tontonan. Namun, ini juga bukan sekadar berita hukum.
Tabooo banget.

Sebab, pada akhirnya, kasus ini memaksa kita menoleh ke satu kenyataan pahit terkadang, yang paling menyakitkan bukanlah ditinggalkan melainkan tidak pernah diakui sama sekali. (red)

Tags: 7 miliarAnakArtisbanyuwangiDenadadenada tambunandi Gugatdi telantarkanPengadilan
Next Post
Konsep Otomatis

KPK Tetapkan Yaqut-Gus Alex, Perburuan Tersangka Lain Belum Berhenti

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.