Tabooo.id: Musik – Pernah merasa Ramadan punya soundtrack sendiri? Bukan suara bedug atau iklan sirup yang muncul tiap tahun. Tahun ini, media sosial justru dipenuhi satu lagu yang terus berseliweran di TikTok, Instagram Reels, sampai story teman yang biasanya cuma repost meme kucing.
Judulnya puitis sekaligus misterius: Ada Titik-Titik di Ujung Doa. Lagu milik Sal Priadi ini mendadak viral. Karena itu, banyak orang mulai menyebutnya sebagai anthem Ramadan tahun ini.
Padahal, ada satu fakta menarik: lagu ini sebenarnya bukan rilisan baru.
Lagu Lama yang Tiba-Tiba Menemukan Momentum
Awalnya, Ada Titik-Titik di Ujung Doa hadir dalam album Markers and Such, Pens, Flashdisks (MASPF) yang rilis pada 2024. Namun, seperti yang sering terjadi di era algoritma, waktu kadang bekerja dengan cara yang tidak terduga.
Tiba-tiba saja warganet mulai memakai lagu ini untuk berbagai konten reflektif Ramadan. Ada yang menggunakannya untuk video perjalanan mudik. Ada juga yang memakainya untuk momen sahur keluarga. Bahkan, beberapa orang sekadar menambahkan lagu ini ke video langit malam dengan caption penuh makna.
Karena momentum itu semakin besar, Sal Priadi akhirnya merilis video musik resmi lagu tersebut pada 11 Maret 2026. Dengan langkah itu, ia sekaligus menutup perjalanan kreatif album MASPF.
Menurut Sal, karya ini ia harapkan menjadi titik pengharapan sebelum ia melangkah ke perjalanan berikutnya.
Cerita Sunyi Seorang Bapak
Untuk menerjemahkan lagu ini ke visual, Sal menggandeng Bernardus Raka. Sutradara ini memang dikenal piawai mengubah emosi lagu menjadi cerita visual yang sederhana tetapi kuat.
Video musik berdurasi sekitar 8 menit 9 detik ini berfokus pada kehidupan seorang bapak yang bekerja sebagai sopir truk. Setiap hari ia menghabiskan waktu di jalan, jauh dari rumah dan keluarganya.
Akibatnya, jarak perlahan menciptakan ruang sunyi dalam hubungan keluarga.
Melalui adegan-adegan yang tenang, video ini menunjukkan pergulatan batin yang jarang orang ucapkan. Sang bapak terus bekerja, tetapi di saat yang sama ia menyimpan rindu yang tidak selalu bisa ia sampaikan.
Namun, Bernardus Raka tidak memaksa penonton memahami cerita dengan satu makna saja. Sebaliknya, ia membuka ruang interpretasi. Dengan begitu, setiap orang bebas mengisi “titik-titik” dalam cerita sesuai pengalaman mereka.
Kenapa Lagu Ini Begitu Mengena?
Secara angka, popularitas lagu ini memang besar. Hingga sekarang, lagu tersebut sudah mencatat lebih dari 80 juta pemutaran di berbagai platform digital.
Di Spotify saja, jumlah pemutarannya sudah melewati 50 juta stream. Selain itu, YouTube juga mencatat lebih dari 30 juta penayangan dari versi audio dan video liriknya.
Namun angka bukan alasan utama lagu ini terasa kuat.
Sebaliknya, kekuatan lagu ini justru terletak pada kesederhanaannya. Sal Priadi tidak memakai lirik yang terlalu rumit atau dramatis. Ia memilih kata-kata yang pelan, reflektif, dan terasa jujur.
Karena itu, banyak pendengar merasa lagu ini seperti ruang hening di tengah dunia yang terlalu bising.
Apalagi saat Ramadan datang. Pada bulan ini, banyak orang tiba-tiba memikirkan keluarga, perjalanan hidup, dan doa-doa yang mungkin belum sempat mereka ucapkan.
Lagu yang Membiarkan Pendengarnya Berpikir
Video musik ini juga menjadi rilisan visual keempat dari album MASPF setelah Semua Lagu Cinta, Dari Planet Lain, dan Gala Bunga Matahari.
Namun dibandingkan tiga lagu sebelumnya, Ada Titik-Titik di Ujung Doa terasa jauh lebih kontemplatif.
Alih-alih menjelaskan segalanya, lagu ini justru meninggalkan ruang kosong. Di ruang itulah pendengar bisa menaruh pengalaman pribadi mereka.
Mungkin karena itu lagu ini terasa begitu dekat bagi banyak orang.
Sebab pada akhirnya, hidup memang sering berjalan seperti judul lagu tersebut: penuh titik-titik. Kita berdoa, berharap, lalu terus melangkah meski belum tahu akhir ceritanya.
Jadi, menurut kamu, apakah lagu ini benar-benar anthem Ramadan tahun ini? Atau justru kita semua sedang mencari lagu yang bisa menemani doa-doa yang belum selesai? @eko




