Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari SLB ke Dunia: Dedikasi Ade Putri Sarwendah

by dimas
Januari 17, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di Jakarta belum sepenuhnya ramah ketika Ade Putri Sarwendah duduk di sebuah ruang di Kantor Kedutaan Besar Kerajaan Thailand. Di luar, lalu lintas bergerak seperti biasa tergesa, gaduh, dan penuh ambisi. Namun di dalam ruangan itu, Ade berbicara pelan, nyaris seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat personal.

“Setiap kali orang bertanya mengapa saya mengajar di SLB, saya tidak pernah punya alasan,” ujarnya sambil menggeleng kecil.

Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin membingungkan. Namun dari sanalah kisah Ade bermula bukan dari ambisi besar, bukan dari panggilan heroik, melainkan dari sebuah cinta yang tidak pernah menuntut penjelasan.

Cinta yang Tidak Perlu Alasan

Lebih dari 15 tahun Ade mengabdi sebagai guru siswa berkebutuhan khusus. Ia mengajar anak-anak dengan gangguan pendengaran, intelektual, dan spektrum disabilitas lainnya. Namun ia menolak narasi klasik tentang pengorbanan.

“Bagi saya, tingkat cinta terdalam memang tidak membutuhkan alasan yang pasti, Mungkin itu sebabnya saya masih punya hasrat luar biasa untuk mengajar mereka.” tambahnya.

Ini Belum Selesai

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

Di tengah dunia pendidikan yang sering mengukur keberhasilan dengan angka, peringkat, dan kurikulum kaku, Ade memilih jalur yang sunyi. Ia menaruh perhatian pada hal-hal yang kerap luput: tatapan mata murid yang akhirnya memahami, isyarat tangan yang mulai lancar, atau senyum kecil yang muncul setelah berhari-hari mencoba.

Inovasi yang Lahir dari Kebutuhan Nyata

Alih-alih menunggu sistem berubah, Ade menciptakan jalannya sendiri. Ia mengembangkan aplikasi Gembira Mengenal Ragam Bunyi dan Suara untuk membantu siswa dengan gangguan pendengaran memahami dunia auditori melalui pendekatan visual dan taktil.

“Aplikasi ini saya rancang untuk mengoptimalkan potensi mereka, bukan untuk menyeragamkan cara belajar,” jelasnya.

Tak berhenti di situ, Ade juga mengembangkan Sehati, aplikasi pendidikan kesehatan reproduksi untuk siswa dengan gangguan intelektual topik yang sering dianggap tabu, bahkan di pendidikan umum. Baginya, akses informasi adalah hak, bukan privilese.

Selain aplikasi, Ade merancang meja kerja adaptif berisi aktivitas pembelajaran yang terintegrasi dengan bahasa isyarat. Dengan alat itu, siswa belajar sambil bergerak, berinteraksi, dan memahami bahasa tubuh mereka sendiri.

Semua inovasi itu lahir bukan dari laboratorium canggih, melainkan dari ruang kelas sederhana dan dialog sehari-hari dengan murid-muridnya.

ABK Farm dan Pelajaran tentang Kemandirian

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, Ade juga menjalankan proyek bernama ABK Farm. Di sana, siswa berkebutuhan khusus belajar bertani, merawat tanaman, dan memahami ritme kerja.

“Orientasi saya bukan menyiapkan mereka setelah lulus, Saya ingin menanamkan kemandirian sedini mungkin.” tambahnya.

Proyek ini mengajarkan bahwa kemandirian bukan tujuan akhir, melainkan proses harian. Anak-anak belajar bahwa mereka mampu menghasilkan, merawat, dan bertanggung jawab nilai yang sering kali justru dilupakan dunia luar terhadap penyandang disabilitas.

Tantangan yang Berubah Menjadi Peluang

Menariknya, Ade tidak menyebut pekerjaannya sebagai penuh tantangan. Ia justru menyebutnya peluang.

“Peluang untuk membangun empati saya sebagai guru, “Peluang untuk memahami kebutuhan mereka secara personal. Dan peluang untuk terus belajar.” pungkasnya.

Pernyataan ini terasa kontras dengan narasi umum yang sering memosisikan guru SLB sebagai pahlawan kelelahan. Ade menolak glorifikasi itu. Ia tidak ingin dikasihani, apalagi diagungkan. Ia hanya ingin mengajar dengan utuh.

Pengakuan yang Datang Belakangan

Kerja sunyi Ade akhirnya mendapat sorotan. Sejak 2018, ia mengoleksi berbagai penghargaan, mulai dari Juara Kedua Guru Berprestasi Nasional hingga Penghargaan Inovasi Pendidikan Khusus di Malaysia pada 2022.

Pada 2024, publik kembali mengenalnya sebagai peserta favorit Jambore Guru dan Tenaga Kependidikan Nasional dalam kategori Guru Inovatif SLB. Puncaknya, pada 2025, Ade menerima Princess Maha Chakri Award penghargaan internasional bergengsi di bidang pendidikan.

Ia pun terbang ke Bangkok untuk mempresentasikan metode pengajarannya. Dari Balikpapan ke panggung internasional, langkah Ade terasa jauh, tetapi tetap berpijak pada kelas kecil tempat semuanya bermula.

Di Antara Sistem dan Manusia

Kisah Ade mengingatkan kita pada satu paradoks besar pendidikan: sistem sering berbicara tentang inklusi, tetapi praktiknya masih tertinggal jauh. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya perhatian, perubahan justru lahir dari individu yang memilih peduli.

Ade tidak berbicara tentang revolusi. Ia berbicara tentang kehadiran. Tentang mendengar, meski muridnya tidak selalu bisa bersuara. Tentang memahami, meski dunia sering menutup mata.

Pertanyaan yang Tertinggal

Di akhir percakapan, Ade kembali tersenyum kecil. Ia tidak menyebut dirinya inspiratif. Ia hanya mengatakan akan terus mengajar, selama cinta itu masih ada.

Mungkin di situlah letak kekuatannya. Di dunia yang gemar mencari alasan untuk berhenti, Ade Putri Sarwendah memilih bertahan tanpa alasan, tanpa slogan, dan tanpa suara keras. Hanya kerja, cinta, dan keyakinan bahwa setiap anak, apa pun kondisinya, pantas diberi ruang untuk tumbuh.

Dan mungkin, justru dari ruang-ruang kecil itulah masa depan pendidikan paling jujur sedang dirawat. @dimas

Tags: DisabilitasguruinovasiNasionalPendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

by teguh
Mei 13, 2026

Sebuah video membuat publik berhenti scroll. Bukan karena keributan. Bukan juga karena drama panggung lomba. Publik justru menyorot keberanian seorang...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Bicara Cara Bertahan

Saat Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Belum Selesai Bertahan

by jeje
Mei 9, 2026

Di tengah harga pangan yang terus naik, pedagang kecil mulai menghadapi dilema paling melelahkan: menaikkan harga jual dan kehilangan pelanggan,...

Next Post
Konsep Otomatis

Langit Sulsel Sunyi: ATR 42-500 Hilang di Tengah Pegunungan

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id