Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Kolak ke Ketegangan: Kisah Pedagang Takjil di Jalan Protokol Solo

by dimas
Februari 24, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – “Ini seperti bermain sulap satu aturan untuk yang kecil, lain untuk yang besar,” kata Usman Amirudin, tokoh ormas lokal, sambil menatap barisan pedagang takjil di trotoar Jalan Protokol Solo. Malam itu, aroma gorengan dan manisnya kolak bercampur dengan ketegangan yang hampir bisa dipotret.

Kota Solo selalu ramai menjelang Magrib selama bulan Ramadhan. Stand takjil berjajar di trotoar, berdesak-desakan dengan pejalan kaki dan sepeda motor. Tapi Jumat (20/2/2026), suasana yang biasanya hangat berubah tegang. Lembaga Pengawasan, Pengawalan, dan Penegakan Hukum Indonesia (LP3HI) melayangkan somasi ke Wali Kota Solo Respati Ardi terkait Surat Edaran (SE) Nomor 26 Tahun 2026. SE itu meminta pedagang takjil pindah dari jalan protokol ke lokasi alternatif.

Surat Edaran yang Memicu Gelombang

Respati Ardi menegaskan, SE itu bukan larangan. Ia mengklaim kebijakan bertujuan menghidupkan Kampung Ramadhan di tiap kelurahan agar aktivitas jual-beli tetap tertib dan aman.

“Intinya kami sudah memfasilitasi yang baik. Ada kampung Ramadhan yang menyenangkan. Bisa menyambut dengan baik,” tegasnya di TPA Putri Cempo, Senin (23/2/2026).

Di permukaan, kata-kata itu terdengar meyakinkan. Namun, fakta di lapangan berbeda. Pedagang takjil mengaku bingung, tempat alternatif dianggap kurang strategis, dan sebagian besar tetap ingin berada di jalan protokol pusat lalu lintas dan pengunjung.

Ini Belum Selesai

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

Ketegangan sudah terlihat sejak Rabu (18/2/2026) di depan Pasar Klewer. Adu mulut terjadi antara ormas yang mendampingi pedagang dengan Satpol PP. Akhirnya, pedagang diizinkan berjualan sementara untuk menjaga kondusivitas. Kepala Satpol PP, Didik Anggono, menyebut keputusan itu hasil koordinasi internal demi keamanan Ramadhan.

Ketimpangan yang Terlihat

Ironi muncul saat SE membahas pedagang kecil, sementara coffee shop dan event di Ngarsopuro tetap dibiarkan menata meja dan kursi di trotoar. Logika di balik kebijakan ini tampak berat sebelah. Pedagang UMKM dianggap mengganggu, tapi bisnis mapan bebas bergerak.

“Seolah ada dua hukum di kota ini,” keluh salah seorang pedagang yang enggan disebut nama. Ia menambahkan, setiap Ramadhan, mereka mengandalkan titik strategis agar dagangan laku. Pindah ke area sepi berarti kehilangan pelanggan dan pendapatan.

Perspektif Pedagang dan Warga

Bagi pedagang, SE ini bukan sekadar aturan administratif. Ini soal hidup-mati ekonomi keluarga selama Ramadhan. Mereka berdagang dengan modal kecil, mengandalkan setiap pembeli yang lewat. Pindah ke lokasi alternatif bisa menurunkan omzet hingga 50 persen.

Warga Solo, di sisi lain, merasakan ketegangan ini sebagai ritual tahunan ingin membeli takjil sambil tetap nyaman di trotoar, namun juga melihat aparat bertindak tegas. Konflik kecil di Jalan Dr. Rajiman itu memperlihatkan bahwa kebijakan yang ideal di atas kertas seringkali berjarak jauh dari kenyataan masyarakat bawah.

Tabooo Bicara: Apa yang Salah?

Tabooo menilai, masalahnya bukan sekadar penataan pedagang. Ini tentang ketimpangan perlakuan dan prioritas kepentingan di ruang publik. Pemerintah seharusnya menjadi fasilitator yang adil, bukan membedakan pedagang kecil dan bisnis besar. Transparansi, konsultasi publik, dan komunikasi yang jelas bisa mencegah konflik yang sebetulnya bisa dihindari.

Kebijakan boleh baik di atas kertas, tapi jika mengabaikan mereka yang paling terdampak, itu bukan penataan, itu penindasan terselubung.

Senja di Trotoar: Siapa yang Menang?

Malam itu, lampu jalan mulai menyala, pedagang menata dagangannya di trotoar, aroma kolak dan gorengan menempel di udara. Coffee shop tetap tenang di sisi lain. Dan warga menanti Magrib sambil menatap dinamika kecil ini.

Siapa yang benar-benar menang? Pemerintah dengan SE-nya, bisnis mapan, atau pedagang kecil yang berjuang di jalan protokol? Jawabannya tak sesederhana kelihatannya. Kota Solo menunjukkan dalam sebuah kota yang katanya demokratis, ruang publik bisa menjadi arena kekuasaan terselubung, dan suara pedagang kecil seringkali hanyut di antara aroma kolak dan lampu jalan. @dimas

Tags: Konflik DuniaKotaKulinerPedagangRamadhanSoloSosial & PublikStreet FoodtakjilTerdampak

Kamu Melewatkan Ini

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Sate Taichan: Rasa Sederhana yang Mengubah Peta Kuliner Indonesia

Sate Taichan: Rasa Sederhana yang Mengubah Peta Kuliner Indonesia

by dimas
Mei 11, 2026

Sate Taichan menjadi bukti bahwa kesederhanaan bisa melahirkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar makanan. Berawal dari permintaan iseng...

Kota Modern Selalu Kalah oleh Sampahnya Sendiri. Kenapa?

Kota Modern Selalu Kalah oleh Sampahnya Sendiri. Kenapa?

by teguh
Mei 7, 2026

Setiap pagi, Jakarta bangun bersama ribuan ton sampah baru. Plastik kopi, sisa makanan, kardus belanja online, hingga limbah gaya hidup...

Next Post
MADILOG: Saat Logika Dijadikan Senjata Melawan Kebodohan Terstruktur

MADILOG: Saat Logika Dijadikan Senjata Melawan Kebodohan Terstruktur

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id