Perjalanan Arief Rahman dari aktivis kampus hingga menjadi arsitek media digital, memimpin ekosistem pers, akademik, dan komunikasi di Indonesia.
Tabooo.id – Kisah hidup Arief Rahman tidak hanya dibentuk oleh prestasi akademik. Kehidupan kampus justru menjadi laboratorium pertama yang mengasah kepemimpinan, cara berpikir kritis, dan keberaniannya mengambil keputusan.
Selama menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Arief aktif di Senat Mahasiswa ITS, Badan Eksekutif Mahasiswa, Forum Mahasiswa Indonesia, hingga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Beragam pengalaman organisasi itu mempertemukannya dengan dinamika sosial dan politik Indonesia pada penghujung dekade 1990-an.
Dari ruang-ruang diskusi tersebut, ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik semakin tumbuh. Baginya, media bukan sekadar saluran penyampai informasi. Sebaliknya, media harus menjadi ruang dialog yang mampu menjembatani masyarakat dengan perubahan.
Langkah profesionalnya dimulai pada 1998 sebagai wartawan politik yang meliput DPR RI dan KPU RI. Setahun kemudian, Harian Memorandum memberikan tanggung jawab kepadanya di bidang Quality Control. Setelah itu, pada 2000, Arief memimpin Tabloid Politik Sapujagat selama satu dekade sebelum mengembangkan LensaIndonesia.com menjadi salah satu portal berita nasional.
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu pola yang konsisten. Arief memilih membangun kredibilitas dari ruang redaksi sebelum memimpin perusahaan media.
Membangun Media, Bukan Sekadar Perusahaan
Tahun 2010 menjadi titik penting dalam perjalanan profesionalnya. Pada tahun itu, Arief mendirikan PT Lensa Indonesia Global Media sebagai fondasi pengembangan bisnis media digital.
Seiring berjalannya waktu, perusahaan tersebut berkembang menjadi ekosistem yang bergerak di bidang media, komunikasi, riset, dan pengembangan konten digital. Kini, Arief menjabat sebagai Presiden Direktur PT Lensa Indonesia Global Media, Pemimpin Umum LensaIndonesia.com, pemilik PT Lensa Indonesia Cipta Media, Direktur Eksekutif Indonesia Strategic Research & Consulting (ISRC), serta Komisaris PT Tambang Megah Persada Indonesia.
Meski memimpin berbagai institusi, ia tetap memegang satu prinsip yang sederhana. Kepercayaan publik selalu lebih penting daripada sekadar mengejar angka kunjungan.
Menjadi Penghubung Ekosistem Pers Digital
Transformasi media digital tidak hanya bergantung pada teknologi. Di sisi lain, perubahan juga membutuhkan pemimpin yang mampu mempertemukan media, pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Selama bertahun-tahun, Arief mengambil peran tersebut melalui berbagai organisasi profesi. Ia memimpin Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur selama dua periode, kemudian menerima amanah sebagai Koordinator Wilayah Pengurus Pusat AMSI untuk Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada saat yang sama, ia menjabat Ketua Harian Komite Komunikasi Digital (KKD) Provinsi Jawa Timur serta Ketua Umum Posko Pengamanan Ruang Digital Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 Jawa Timur.
Melalui berbagai posisi tersebut, Arief tidak hanya mengembangkan organisasi media. Lebih jauh lagi, ia ikut memperkuat kualitas ruang digital agar tetap sehat, kredibel, dan bertanggung jawab.
Akademisi yang Tidak Pernah Berhenti Belajar
Kesibukan memimpin perusahaan tidak membuat Arief meninggalkan dunia akademik. Sebaliknya, ia terus memperdalam keilmuan hingga meraih gelar Magister Manajemen pada 2007 dan Doktor Ilmu Manajemen Universitas Airlangga pada 2022.
Disertasinya mengulas model kolaborasi para pemangku kepentingan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan studi kasus Kabupaten Banyuwangi. Penelitian tersebut kemudian berkembang menjadi publikasi ilmiah yang membahas kolaborasi dalam pembangunan destinasi wisata berkelanjutan.
Selepas menyelesaikan studi doktoral, Arief memilih kembali ke ruang kelas. Sejak 2026, ia mengajar Manajemen Strategis di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya sebagai dosen.
Pilihan itu menunjukkan bahwa ilmu tidak berhenti ketika seseorang memperoleh gelar. Justru setelah itulah pengetahuan perlu dibagikan kepada generasi berikutnya.
Pariwisata sebagai Jalan Pengabdian
Di luar dunia media, Arief juga memberikan perhatian besar terhadap pengembangan pariwisata daerah.
Sebelumnya, ia memimpin Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Jawa Timur sebagai Direktur Eksekutif. Kini, tanggung jawabnya berlanjut sebagai Dewan Penentu Kebijakan BPPD Jawa Timur.
Minat tersebut tercermin dalam tesis, disertasi, makalah internasional, hingga berbagai penelitian mengenai strategi pengembangan pariwisata Jawa Timur dan kawasan wisata berkelanjutan.
Baginya, sektor pariwisata bukan hanya tentang destinasi. Lebih dari itu, pariwisata merupakan instrumen pembangunan ekonomi yang bertumpu pada kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Menulis sebagai Jejak Pemikiran
Selain memimpin organisasi, Arief juga aktif menghasilkan karya tulis.
Berbagai buku, jurnal ilmiah, paper konferensi, dan publikasi mengenai sejarah, media, pembangunan daerah, serta pariwisata lahir dari tangannya. Sebagian karya bahkan disusun bersama akademisi internasional dan lembaga pemerintah.
Melalui aktivitas menulis, Arief menunjukkan bahwa gagasan yang terdokumentasi akan memiliki umur lebih panjang dibandingkan percakapan sehari-hari.
Warisan yang Ingin Ditinggalkan
Jika menelusuri seluruh perjalanan hidupnya, terlihat satu benang merah yang tidak pernah berubah.
Arief tidak hanya mengejar jabatan atau pengakuan. Sebaliknya, ia membangun institusi, memperkuat jejaring, dan menciptakan ekosistem yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Mulai dari ruang redaksi, organisasi profesi, ruang kuliah, hingga dunia pariwisata, seluruh perjalanannya bergerak menuju tujuan yang sama, yakni menghadirkan kolaborasi agar informasi, pengetahuan, dan pembangunan berjalan beriringan.
Di tengah era digital yang berubah sangat cepat, Arief tetap berpijak pada keyakinan sederhana. Kepercayaan publik tidak lahir dari popularitas, melainkan dari konsistensi yang terus dijaga.
Pada akhirnya, kisah seorang anak yang dahulu berjalan kaki menuju sekolah di Magetan berkembang menjadi cerita tentang seorang jurnalis, akademisi, penulis, dan pemimpin media yang memilih membangun pengaruh melalui karya, bukan sekadar melalui jabatan. @dimas






