Jumat, Juni 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Arief Rahman: Dari Magetan ke Panggung Media Nasional

by dimas
Juni 26, 2026
in Uncategorized
A A
Home Uncategorized
Share on FacebookShare on Twitter
Kisah inspiratif Arief Rahman, putra Magetan yang menapaki dunia jurnalistik hingga menjadi salah satu tokoh media digital di Indonesia.

Tabooo.id – Di sebuah rumah sederhana di kaki Gunung Lawu, seorang anak kecil rutin berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju sekolah setiap pagi. Jalan itu bukan sekadar rute menuju ruang kelas. Jalan itu menjadi lintasan panjang yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu figur penting dalam dunia media digital, pendidikan, dan pariwisata di Jawa Timur.

Anak itu bernama Arief Rahman.

Ayahnya, Rachmadi, memberikan nama Arief Rahman sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pendidikan nasional, Profesor Dr. Arief Rahman. Nama itu bukan sekadar identitas. Nama itu tumbuh menjadi doa yang terus mengiringi perjalanan hidupnya.

Kini, masyarakat mengenal Arief Rahman sebagai Direktur Utama LensaIndonesia.com, Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur, Ketua Harian Komite Komunikasi Digital Jawa Timur, akademisi, sekaligus pegiat pariwisata. Namun, seluruh capaian itu lahir melalui proses panjang yang penuh disiplin, kerja keras, dan ketekunan.

Prestasi yang Tumbuh dari Kesederhanaan

Ayah Arief mengelola bengkel las, sedangkan ibunya berdagang pakaian di Pasar Baru Magetan. Meski hidup sederhana, keduanya selalu menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama.

Ini Belum Selesai

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Karena itu, Arief tumbuh menjadi anak yang mencintai belajar. Selama bersekolah di SD Negeri II Magetan, ia hampir selalu menempati peringkat pertama di kelas.

Namun, prestasi akademik bukan satu-satunya cerita.

Setiap sore, sang ayah melatih Arief bermain tenis meja dengan disiplin tinggi. Latihan yang konsisten akhirnya membuahkan hasil. Bahkan, ketika masih duduk di kelas III SD, Arief berhasil menjuarai Kejuaraan Tenis Meja tingkat Kabupaten Magetan.

Sejak kecil, ia memahami satu pelajaran penting. Tidak ada kemenangan yang datang tanpa latihan.

Kepemimpinan yang Terbentuk Sejak Dini

Selain berprestasi, Arief juga menunjukkan bakat memimpin. Guru-gurunya berkali-kali memilihnya menjadi ketua kelas.

Memasuki SMP Negeri 1 Magetan, ia mempertahankan prestasi akademiknya. Selain meraih peringkat pertama, ia aktif mengikuti pramuka, basket, tenis meja, dan organisasi OSIS.

Tidak berhenti di situ, Arief bersama teman-temannya membentuk grup band yang cukup dikenal di wilayah bekas Karesidenan Madiun.

Semua aktivitas itu mengasah kemampuan memimpin, bekerja sama, sekaligus membangun kepercayaan diri.

SMA Menjadi Ruang Pembentukan Karakter

Perjalanan Arief semakin matang ketika belajar di SMA Negeri 1 Magetan.

Ia kembali meraih juara umum sekolah. Selain itu, ia mengikuti Olimpiade Matematika, memperkuat tim Cerdas Cermat TVRI Surabaya, dan memperoleh nilai sempurna 10,00 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris pada Ujian Akhir Nasional.

Di luar ruang kelas, Arief memimpin tim basket sekolah sebagai kapten. Ia juga mengelola majalah sekolah sebagai pemimpin redaksi sekaligus memimpin OSIS.

Berkat konsistensi tersebut, Kabupaten Magetan menganugerahinya gelar Pelajar Teladan.

Prestasi demi prestasi menunjukkan bahwa karakter sering kali menentukan arah keberhasilan, bukan sekadar kecerdasan.

Dari Dunia Teknik Menuju Dunia Jurnalistik

Setelah lulus SMA, Arief lolos UMPTN dan memilih kuliah di Jurusan Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Di kampus, ia tidak hanya mempelajari ilmu teknik. Sebaliknya, ia aktif mengikuti berbagai organisasi mahasiswa, mulai dari Pekan Ilmiah Mahasiswa ITS, Senat Mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan, BEM ITS, hingga organisasi eksternal seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Forum Mahasiswa Indonesia.

Pengalaman organisasi itulah yang kemudian memperkenalkannya pada dunia jurnalistik.

Pada 1999, Arief memulai karier sebagai wartawan Harian Memorandum Surabaya. Selanjutnya, pada tahun 2000, ia bersama tokoh Petisi 50 Jalil Latuconsina dan sejumlah aktivis 1998 mendirikan Tabloid Sapujagat.

Sejak saat itu, ia tidak hanya menulis berita. Ia juga membangun keyakinan bahwa media mampu membentuk cara masyarakat memahami realitas.

Belajar Tanpa Garis Akhir

Karier yang terus berkembang tidak membuat Arief berhenti belajar.

Sebaliknya, ia menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Strategi di Universitas Airlangga. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan doktor hingga meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen dari universitas yang sama.

Baginya, ruang kuliah dan ruang redaksi saling melengkapi.

Ilmu memperkaya pengalaman. Sebaliknya, pengalaman menguji setiap teori.

Menjaga Kepercayaan di Tengah Arus Informasi

Saat ini Arief memimpin LensaIndonesia.com di tengah perubahan besar dunia media digital.

Selain itu, AMSI Jawa Timur mempercayainya memimpin organisasi media siber di tingkat provinsi. Pada saat yang sama, ia juga menjalankan amanah sebagai Ketua Harian Komite Komunikasi Digital Jawa Timur.

Melalui berbagai forum, Arief terus mengingatkan pentingnya menjaga kualitas jurnalisme.

Menurutnya, media tidak cukup berlomba menjadi yang tercepat. Media juga harus menjaga kepercayaan publik sebagai modal terpenting.

Mengabdi Lewat Pariwisata

Di luar dunia media, Arief aktif mendorong pengembangan pariwisata Jawa Timur.

Melalui Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Jawa Timur, ia terus memperkenalkan potensi wisata daerah, terutama Magetan.

Baginya, kampung halaman bukan sekadar tempat kelahiran. Kampung halaman merupakan identitas yang harus terus berkembang.

Karena itu, ia juga aktif dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Rumah Menjadi Tempat Kembali

Di balik kesibukan profesionalnya, Arief tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas.

Bersama sang istri, Ikke Hapsari Yulianita, teman semasa SMA yang juga alumnus Kimia FMIPA Universitas Airlangga, ia membesarkan dua putra, Shah Athar Rahman dan Affan Haidar Rahman.

Mereka membangun keluarga dengan keyakinan bahwa pendidikan, kasih sayang, dan keteladanan merupakan warisan terbaik bagi anak-anak.

Lebih dari Sebuah Biografi

Perjalanan Arief Rahman memperlihatkan pola yang menarik.

Ia tidak lahir dari keluarga elite. Ia juga tidak menikmati jalan pintas menuju berbagai jabatan penting.

Sebaliknya, ia membangun setiap tahap kehidupannya melalui disiplin, pendidikan, organisasi, dan kerja keras.

Karena itu, reputasi yang ia miliki hari ini bukan hasil keberuntungan. Reputasi itu lahir dari konsistensi yang terus ia rawat selama puluhan tahun.

Di tengah zaman yang sering mengutamakan popularitas, Arief memilih memperkuat kapasitas. Setelah kapasitas tumbuh, kepercayaan pun datang mengikuti.

Pada akhirnya, kisah Arief Rahman bukan sekadar perjalanan seorang jurnalis. Kisah ini menunjukkan bahwa karakter selalu lahir lebih dahulu daripada jabatan. Sementara itu, keberhasilan tidak pernah muncul secara instan. Keberhasilan tumbuh perlahan melalui langkah-langkah kecil yang terus dijaga setiap hari. @dimas

Tags: AkademisiAMSI Jawa TimurArief RahmanDoktorJurnalismeLensa IndonesiaMagetanMedia DigitalTokoh Inspiratif

Kamu Melewatkan Ini

Tabooo Press: Upaya Menyelamatkan Cara Berpikir

Tabooo Press: Upaya Menyelamatkan Cara Berpikir

by Tabooo
Mei 3, 2026

Oleh: J.E., CEO of Tabooo Network Indonesia Tabooo.id: From the Desk of the CEO – Tabooo Press lahir dari satu kegelisahan, dunia semakin penuh...

Siti Mawarni: Tokoh Fiktif yang Jadi Cermin Nyata Krisis Narkoba

Siti Mawarni: Tokoh Fiktif yang Jadi Cermin Nyata Krisis Narkoba

by dimas
April 27, 2026

Di tengah derasnya arus musik viral di media sosial, lagu “Siti Mawarni” muncul bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai simbol...

Siti Mawarni: Lagu yang Lembut di Nada, Tapi Tajam Menampar Realita Narkoba

Siti Mawarni: Lagu yang Lembut di Nada, Tapi Tajam Menampar Realita Narkoba

by dimas
April 27, 2026

Harmoni musik yang terdengar ringan dan mudah diingat, lagu “Siti Mawarni” menghadirkan potret gelap yang jarang dibicarakan secara terbuka. Lagu...

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id