Tabooo.id: Global – Deretan seragam putih dan loreng berdiri tegak di Markas Komando Komando Lintas Laut Militer, Jakarta Utara, pada Rabu (18/2/2026). Mereka bukan sedang bersiap perang. Mereka bersiap mengirim pesan.
Komando Armada Republik Indonesia menggelar apel kesiapan satuan tugas Angkatan Laut yang akan menjalankan misi kemanusiaan ke Gaza. Melalui apel ini, TNI Angkatan Laut memastikan setiap personel, alat, dan dukungan logistik siap bergerak ketika perintah datang.
Panglima Koarmada RI, Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, menegaskan bahwa apel itu bukan sekadar formalitas militer. Ia menyebutnya sebagai simbol kesiapan sekaligus representasi solidaritas Indonesia untuk rakyat Gaza yang masih hidup di tengah konflik berkepanjangan.
Ia mengirim 55 personel tenaga kesehatan dalam gelombang awal. Mereka akan memberikan layanan medis dan bantuan kemanusiaan bagi warga sipil kelompok yang selalu menjadi korban paling sunyi dalam setiap konflik bersenjata.
Di belakang mereka, kapal rumah sakit KRI Radjiman Wedyodiningrat bersiap menjadi tulang punggung misi. Kapal itu membawa fasilitas medis lengkap, tim penyelam, hingga pasukan elite Komando Pasukan Katak. Negara tidak hanya mengirim simpati. Negara mengirim infrastruktur.
Target Ribuan Personel, Tapi Masih Menunggu Lampu Hijau Politik
Namun, pengiriman ini baru permulaan. Pemerintah menyiapkan skala yang jauh lebih besar.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Brigjen TNI Donny Pramono, menyebut sekitar 1.000 personel ditargetkan siap pada April 2026. Setelah itu, jumlahnya akan meningkat hingga 8.000 personel pada akhir Juni.
Meski begitu, ia menekankan satu hal penting: siap berangkat bukan berarti sudah berangkat.
Pemerintah masih menunggu kesepakatan politik dan keamanan internasional. Tanpa payung diplomasi, pasukan tidak akan bergerak.
Artinya, di balik barisan rapi dan kapal yang sudah dipanaskan mesinnya, keputusan akhir tetap berada di meja perundingan, bukan di dermaga militer.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga mengakui hal itu. Ia menyebut angka 8.000 personel sebagai target realistis, tetapi semuanya masih bergantung pada perkembangan situasi global.
Indonesia, sekali lagi, menempatkan diri di antara dua dunia: kemanusiaan dan geopolitik.
Misi Kemanusiaan yang Selalu Punya Dimensi Politik
Bagi pemerintah, pengiriman pasukan ini menjadi bukti komitmen Indonesia dalam perdamaian dunia. Namun bagi masyarakat, terutama keluarga prajurit, misi ini membawa kecemasan yang tidak pernah masuk siaran pers.
Mereka tahu Gaza bukan wilayah stabil. Mereka tahu risiko selalu ada.
Di sisi lain, rakyat Gaza menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka tidak peduli negara mana yang datang. Mereka hanya membutuhkan dokter, obat, dan harapan untuk bertahan hidup satu hari lagi.
Indonesia mencoba mengisi ruang itu.
Namun, di balik narasi kemanusiaan, langkah ini juga mengirim pesan lain Indonesia ingin tetap relevan di panggung global.
Di dunia yang semakin keras, solidaritas sering berjalan berdampingan dengan kepentingan.
Dan ketika kapal-kapal itu akhirnya berlayar nanti, yang ikut berangkat bukan hanya pasukan medis tetapi juga reputasi, ambisi, dan posisi Indonesia di mata dunia. @dimas




