Tabooo.id: Nasional – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita sejumlah uang dalam operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Pati nonaktif Sudewo, Senin (19/1/2026). Operasi ini membongkar praktik pemerasan pengisian jabatan perangkat desa yang berlangsung terbuka, sistematis, dan tanpa rasa takut.
OTT tersebut tidak hanya menyeret kepala daerah, tetapi juga membuka jalur uang dari desa hingga ke pusat kekuasaan kabupaten.
Karung Uang Berpindah di Dalam Mobil
Sebuah video berdurasi 20 detik yang diterima media memperlihatkan sejumlah karung berisi uang berpindah tangan. Dua orang menyerahkan karung tersebut kepada Kepala Desa Arumanis, Kecamatan Jakenan, Sumarjiono yang dikenal dengan sapaan JION saat ia menunggu di dalam mobil.
Pada saat kejadian, tim KPK belum menetapkan Sumarjiono sebagai tersangka karena penyidik baru mengamankannya dalam operasi senyap tersebut. Dua orang lain dalam video itu diduga bertindak sebagai perantara setoran.
Rekaman singkat tersebut memberi gambaran awal tentang cara uang haram bergerak dari tingkat desa menuju lingkar kekuasaan kabupaten.
KPK Tegaskan Video Bagian dari OTT
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, memastikan bahwa peristiwa dalam video itu menjadi bagian dari rangkaian OTT di Kabupaten Pati.
“Itu bagian dari peristiwa tangkap tangan,” ujar Budi melalui pesan singkat, Kamis (22/1/2026).
Meski KPK belum membeberkan jumlah uang dalam video, penyidik segera mengungkap fakta lanjutan yang menunjukkan besarnya skala pemerasan.
Setoran Jabatan Desa Tembus Rp 2,6 Miliar
KPK mencatat total uang hasil pemerasan pengisian jabatan perangkat desa mencapai Rp 2,6 miliar. Para pelaku mengumpulkan uang itu dalam karung sebelum menyerahkannya kepada Sudewo.
Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan mekanisme pengumpulan uang tersebut secara gamblang.
“Orang-orang mengumpulkan uang itu dari banyak pihak, lalu memasukkannya ke dalam karung. Ada karung hijau, dibawa seperti membawa beras,” jelasnya dalam jumpa pers, Selasa (20/1/2026).
Para pelaku memilih cara tersebut karena mudah dan cepat. Namun, metode itu justru menegaskan betapa kasar dan vulgar praktik korupsi yang mereka jalankan.
Tim Sukses Sudewo Kumpulkan Setoran
Asep mengungkapkan bahwa tim sukses Sudewo saat Pilkada bersama orang-orang kepercayaannya aktif mengumpulkan uang setoran. Mereka menarik dana dari berbagai pihak dengan nominal kecil, lalu menggabungkannya hingga mencapai miliaran rupiah.
“Pecahannya bermacam-macam. Ada Rp10.000, ada Rp100.000. Ada yang diikat karet, ada yang lepas. Setelah itu mereka kemas ulang,” tambahnya.
Skema tersebut menunjukkan bahwa pemerasan jabatan berlangsung terorganisasi dan melibatkan banyak tangan.
Desa Menanggung Dampak Terberat
Kasus ini tidak berhenti pada sosok bupati dan karung uang. Perangkat desa serta warga desa menanggung dampak paling berat. Mereka harus menyiapkan uang sebagai “tiket” jabatan, yang pada akhirnya mendorong munculnya pelayanan publik mahal, lamban, dan penuh pungutan.
Dalam jangka panjang, praktik ini merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah. Jabatan publik tidak lagi berfungsi sebagai alat pelayanan, melainkan berubah menjadi barang dagangan politik.
Karung Uang dan Wajah Kekuasaan
Karung-karung uang dalam OTT Sudewo menggambarkan wajah korupsi secara telanjang. Uang itu berangkat dari desa, berpindah melalui orang kepercayaan, lalu berhenti di tangan penguasa.
Ketika kekuasaan memperlakukan jabatan seperti beras yang bisa dikarungkan, publik pantas bertanya berapa mahal harga pelayanan yang harus rakyat bayar setelahnya? Dan sampai kapan kekuasaan merasa aman bersembunyi di balik karung-karung itu sebelum hukum merobeknya? @dimas




