Tabooo.id: Nasional – Apa yang kamu lakukan saat kemarau terlalu panjang dan tanaman mulai mati? Seorang petani di Tuban memilih langkah tak biasa ia menghubungi pemadam kebakaran bukan untuk memadamkan api, tapi untuk menyiram jagungnya.
Peristiwa ini langsung ramai di media sosial setelah akun resmi Damkar Tuban mengunggahnya. Seorang petani di Kecamatan Merakurak mengirim pesan WhatsApp dan memohon bantuan karena lahannya mulai mengering.
“Bisa nyiram jagung pak. Niki dangu boten jawah (ini sudah lama tidak hujan). Jagunge alum pak (tanaman jagung layu pak),” tulisnya.
Petugas damkar segera merespons. Namun, mereka menegaskan batas tugasnya. “Kami pemadam kebakaran. Saya doakan segera hujan nggeh,” balas petugas.
Permintaan Nyata, Tapi Bukan Tugasnya
.Plt Kepala Satpol PP dan Damkar Tuban, Sutaji, membenarkan peristiwa itu terjadi pada Rabu (01/04/2026) di Kecamatan Merakurak. Ia menerima laporan langsung dari warga dan langsung mengecek situasinya “Iya saya dapat laporan dari warga seperti itu minta bantuan kami menyiram lahan jagung,” ujarnya.
Ia juga mengaku terkejut. Sepanjang pengalamannya, belum pernah ada warga yang meminta damkar menyiram tanaman. Petani itu bahkan hanya meminta petugas menyiram lahannya sendiri.
Namun, Sutaji tetap menegaskan bahwa damkar memiliki fokus utama menangani kebakaran dan situasi darurat yang mengancam keselamatan.
Dari Tikus Mati sampai Ponsel Hilang
Menariknya, kejadian seperti ini bukan yang pertama. Damkar Tuban sering menerima laporan di luar dugaan.
Petugas pernah membantu warga yang menemukan tikus mati di mesin cuci. Mereka juga pernah melacak ponsel hilang hingga berhasil menemukan orang yang memegangnya.
Sutaji bahkan punya cara unik untuk menyelesaikan masalah sederhana.
“Coba cari warung, beli rokok nanti kasih warga lewat, suruh ambilkan tikusnya,” katanya.
Selain itu, warga juga pernah meminta bantuan karena cincin tersangkut, hingga luka akibat dicakar kucing. Dalam situasi seperti ini, petugas tetap turun tangan karena menyangkut keselamatan.
Di Balik Cerita “Aneh”, Ada Krisis Nyata
Sekilas, permintaan menyiram jagung terdengar lucu. Tapi kalau dilihat lebih dalam, ada masalah serius di baliknya kemarau panjang membuat petani kehabisan pilihan.
Ketika sistem irigasi tak berjalan maksimal, warga mulai mencari bantuan ke instansi yang paling mudah dihubungi. Dan damkar menjadi salah satu yang paling responsif.
Karena itu, Sutaji menyarankan agar warga menghubungi pihak yang lebih relevan seperti pemerintah desa atau dinas pertanian untuk solusi jangka panjang.
“Call center kita mudah digunakan kita siap merespons sesuai tugas pokok dan fungsi,” tegasnya.
Masalahnya sekarang bukan lagi soal permintaan yang aneh. Tapi soal bagaimana negara merespons kebutuhan kecil yang berdampak besar.
Kalau hujan tak kunjung turun, dan petani mulai kehilangan harapan siapa yang seharusnya lebih dulu datang?. @teguh




