Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Cupable Coffee Sleman: Kafe yang Memberdayakan Difabel

by dimas
November 17, 2025
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Sore itu, aroma arabika mengalun lembut dari sebuah kafe kecil di Jalan Kaliurang Km 13,5, Sleman, Yogyakarta. Di balik kaca bertuliskan Cupable Coffee, tangan Eko Sugeng (39) sibuk meracik espresso. Gerakannya pelan, tapi pasti. Suara desis mesin kopi berpadu dengan langkah pelanggan yang lalu-lalang.

“Dulu saya takut orang enggak mau beli kopi dari saya,” katanya pelan. “Takut mereka lihat fisik saya duluan, bukan hasil kerja saya.”

Eko adalah salah satu barista difabel di Cupable Coffee, kafe inklusi yang memberi ruang kerja bagi penyandang disabilitas. Bagi Eko, setiap cangkir kopi bukan hanya pesanan pelanggan, tapi bentuk pembuktian diri: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Kopi dan Misi Sosial Inklusivitas di Sleman

Budaya ngopi kini menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Tapi di tengah menjamurnya coffee shop estetik, Cupable Coffee menawarkan rasa yang berbeda bukan hanya dari racikan bijinya, tapi dari makna di balik setiap gelas kopi.

Kafe ini lahir dari inisiatif Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM), lembaga sosial yang selama puluhan tahun bergerak di bidang pemberdayaan difabel.

Ini Belum Selesai

Payung Hitam dan Luka Negara: Kisah Sumarsih Setelah Semanggi

Krisis Identitas Gen Z di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045

Feni (32), perwakilan PRYAKKUM, menyebut pendirian Cupable dilatarbelakangi keresahan terhadap minimnya kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

“Selama ini pelatihan untuk difabel masih sangat konvensional, seperti menjahit atau membatik. Padahal dunia kerja terus berubah, dan kita perlu membuka peluang baru,” ujar Feni (18/09/2025).

Melihat tren kopi yang berkembang dan peluang industri yang terbuka luas, PRYAKKUM melihat kafe sebagai ruang pemberdayaan yang relevan dan berdaya ekonomi.

“Melihat coffee shop menjamur dan lapangan kerja yang sulit menerima teman difabel, itu jadi alasan utama kenapa Cupable didirikan,” tambahnya.

Mengikis Stigma, Meracik Percaya Diri

Sebelum bergabung sebagai barista, Eko sempat menolak tawaran pekerjaan. Ia khawatir pelanggan tidak mau dilayani oleh orang difabel. Tapi lembaga memberi pelatihan intensif selama dua bulan penuh bukan sekadar tentang kopi, tapi juga tentang kepercayaan diri.

Irvantoro (27), barista pengguna kursi roda, mengenang bagaimana pelatihan itu mengubah banyak hal.

“Kami belajar semua dari nol: mengenal jenis kopi, latihan teknis, sampai manajemen usaha kecil,” katanya.

Cupable juga menyesuaikan ruang kerja agar ramah difabel. Meja bar dibuat lebih rendah, nampan didesain khusus, dan toilet dilengkapi pegangan agar kursi roda bisa bermanuver. Bahkan tersedia guiding block bagi pengunjung difabel netra.

Hasilnya bukan sekadar kafe yang nyaman, tapi tempat yang membuktikan bahwa inklusi bisa dirasakan bukan hanya dibicarakan.

Tren Kopi dan Kesadaran Sosial

Di luar sana, banyak kafe mengusung tema ramah difabel hanya sebatas slogan promosi. Tapi di Cupable Coffee Sleman, inklusivitas benar-benar diterapkan dari sistem kerja hingga pelayanan.

Namun, stigma belum sepenuhnya hilang. Masih ada pelanggan yang memandang dengan ragu sebelum memesan. Masih ada bisik-bisik kasihan yang terdengar pelan.

Paradoksnya, masyarakat ingin terlihat peduli tapi belum siap mempercayai. Dan di sinilah peran Cupable terasa penting bukan untuk menuntut simpati, tapi menumbuhkan empati.

Cupable Coffee dan Gerakan Anak Muda untuk Inklusi

Selain memberdayakan difabel, Cupable Coffee juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa dan pegiat sosial. Pada 2024, Adrian (22) dan timnya dari jurusan Ilmu Komunikasi meluncurkan kampanye “CUPABLE IS CAPABLE” untuk meningkatkan kesadaran tentang inklusivitas di kalangan anak muda dan pekerja work from cafe (WFC).

“Awalnya banyak yang datang cuma buat nongkrong. Tapi setelah ngobrol dengan barista, mereka sadar bahwa inklusi itu nyata,” kata Adrian.

Melalui kampanye ini, Cupable berhasil menjangkau audiens baru mereka yang datang karena kopi, tapi pulang dengan perspektif yang berubah.

Segelas Kopi dan Arti Kesetaraan

Kini, Cupable Coffee bukan sekadar tempat ngopi, tapi simbol kecil perubahan sosial di Yogyakarta. Sebuah ruang yang mengajarkan bahwa inklusi bukan belas kasihan, melainkan bentuk penghargaan terhadap potensi manusia.

Feni menutup pembicaraan dengan kalimat yang menancap kuat,

“Kami tidak menciptakan kebaikan. Kami hanya membuka ruang supaya kebaikan bisa bekerja.”

Eko tersenyum sambil menyajikan segelas cappuccino hangat.

“Dulu saya cuma pengin bisa bikin kopi. Sekarang, saya belajar bikin harapan,” ucapnya.

Di luar kafe, lalu lintas Kaliurang terus bergerak cepat. Tapi di dalam Cupable, waktu seperti melambat memberi ruang bagi manusia untuk saling memahami, satu teguk demi satu teguk.

Inklusi yang Diseduh Pelan-Pelan

Cupable Coffee di Sleman membuktikan bahwa kopi bisa menjadi jembatan inklusivitas. Bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, bisa jadi medium kesetaraan. Dalam setiap aroma kopi yang tercium di udara, ada pesan yang lebih dalam dari sekadar kafe kekinian: bahwa keberagaman bisa diracik dan diseduh dengan hati yang terbuka. @dimas

Tags: kisah inspiratifsleman

Kamu Melewatkan Ini

Ia Diasingkan, Tapi Justru Menang

Ia Diasingkan, Tapi Justru Menang

by Waras
Mei 3, 2026

Kolonial ingin membungkam. Mereka mengirim Ki Hajar Dewantara jauh dari tanahnya. Tapi mereka salah hitung. Di tanah asing, ia justru...

Putri Rinjani 2026: Sonalia Sudah Mengukir Takdirnya Sejak 2024

Putri Rinjani 2026: Sonalia Sudah Mengukir Takdirnya Sejak 2024

by Tabooo
April 7, 2026

Tabooo.id: Regional – Sonalia Safitri tidak tiba-tiba memenangkan gelar Putri Rinjani 2026. Ia datang dengan rencana. Mungkin banyak orang melihat kemenangan...

Perjalanan Inspiratif Larry Allen Santoso, Cinta Wayang Tanpa Garis Darah

Perjalanan Inspiratif Larry Allen Santoso, Cinta Wayang Tanpa Garis Darah

by eko
Maret 5, 2026

Tabooo.id: Life - Di balik kelir putih yang membentang, lampu blencong menyala temaram. Bayang-bayang tokoh wayang bergerak pelan, seperti napas...

Next Post
Mengurai Budaya Toxic Positivity di Media Sosial

Mengurai Budaya Toxic Positivity di Media Sosial

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id