Tabooo.id: Entertainment – Pernah merasa dunia cosplay itu netral? Datang ke festival anime, pakai kostum favorit, lalu pulang dengan memori manis. Namun, di China, urusan anime bisa berubah jadi urusan negara.
Belakangan ini, Detective Conan mendadak menghilang dari sejumlah festival anime. Cosplay dicegah. Merchandise ditarik. Euforia pop culture pun berhenti mendadak. Padahal, selama ini Conan dikenal sebagai tontonan aman lintas usia dan lintas negara. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Ketegangan Politik Menyeret Dunia Anime
Awalnya, hubungan China dan Jepang kembali memanas. Pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan memicu reaksi keras. Dari sini, ketegangan politik mulai merembet ke ranah budaya.
Di saat yang sama, Detective Conan mengumumkan kolaborasi dengan My Hero Academia. Proyek ini dibuat untuk merayakan 30 tahun Conan dan 10 tahun My Hero Academia. Para kreator manga bahkan saling merilis ilustrasi karakter utama sebagai simbol kerja sama kreatif.
Namun, publik China membaca pesan berbeda. Alih-alih melihat perayaan, banyak orang menilai kolaborasi itu tidak sensitif terhadap sejarah. Akibatnya, kritik muncul dari berbagai arah. Tekanan publik pun meningkat.
My Hero Academia dan Luka yang Belum Pulih
Sebenarnya, My Hero Academia sudah lama menghadapi penolakan di China. Pada 2020, otoritas setempat menarik serial ini dari berbagai platform. Saat itu, nama karakter antagonis Maruta Shiga memicu kemarahan publik.
Kata “Maruta” berarti kayu gelondongan. Unit 731 menggunakan istilah itu sebagai sandi untuk korban eksperimen manusia. Unit tersebut terkenal karena kekejamannya di China timur laut pada masa perang.
Sementara itu, nama “Shiga” merujuk pada Kiyoshi Shiga, bakteriolog Jepang ternama. Kombinasi dua nama ini membuat publik China merasa kreator manga mengabaikan sensitivitas sejarah. Sejak saat itu, My Hero Academia selalu membawa bayangan kontroversi.
Karena alasan tersebut, kolaborasi dengan Conan langsung memantik reaksi emosional.
Festival Anime Berubah Arah
Merespons kemarahan publik, penyelenggara festival anime di Chongqing dan Lanzhou segera bertindak. Mereka melarang cosplay Detective Conan dan menghentikan penjualan merchandise terkait.
Selain itu, panitia memperluas aturan. Pengunjung yang mengenakan kimono, sandal kayu, atau busana yang diasosiasikan dengan militerisme Jepang tidak diizinkan masuk. Menurut panitia, kebijakan ini bertujuan menjaga suasana tetap kondusif.
Sementara itu, pameran anime di Beijing pada 7–8 Februari juga menerapkan kebijakan serupa. Penyelenggara menegaskan bahwa mereka ingin mencegah konflik dan menjaga kenyamanan semua pihak.
Di sisi lain, Pokemon ikut terseret. Festival anime di Chongqing melarang cosplay dan merchandise Pokemon setelah publik mengecam rencana acara permainan kartu Pokemon di Kuil Yasukuni, Tokyo.
Kuil tersebut sering dikaitkan dengan sejarah perang dan pemujaan penjahat perang Jepang. Akhirnya, tekanan publik membuat acara kartu Pokemon itu dibatalkan.
Pop Culture Tidak Pernah Kosong Makna
Kasus ini menunjukkan satu hal penting. Hiburan tidak pernah benar-benar netral. Anime memang tampak ringan. Cosplay terlihat menyenangkan. Namun, sejarah dan ingatan kolektif tetap menempel di baliknya.
Bagi penggemar global, Conan hanyalah detektif jenius. Namun bagi sebagian publik China, simbol Jepang masih memicu emosi dan trauma lama. Ketika pop culture menyentuh wilayah sensitif, reaksi keras pun muncul.
Penutup: Hiburan, Tapi Tidak Tanpa Konsekuensi
Larangan cosplay Conan di China mengingatkan kita bahwa nostalgia tidak selalu aman. Kadang, masa lalu ikut hadir tanpa permisi.
Jadi sekarang, pertanyaannya sederhana di era hiburan global, masih mungkinkah menikmati pop culture tanpa membawa beban sejarah?
Atau justru, kita perlu belajar menikmati hiburan dengan lebih peka karena di balik kostum dan karakter, ada luka yang belum semua orang siap melupakannya?. @teguh




