CCTV Pejompongan dirusak saat kericuhan usai demo DPR. Polisi membenarkan kerusakan kamera, sementara aparat menyisir massa di kawasan Pejompongan dan Slipi.
Tabooo.id: Jakarta – Kericuhan usai demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Kamis (27/8/2026) malam, merusak sejumlah titik di sekitar Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Salah satunya kamera pengawas atau CCTV yang terpasang di Jalan Pejompongan.
Sekitar pukul 22.43 WIB, CCTV tersebut terlihat rusak dengan kabel yang terhubung ke kamera dalam kondisi putus.
Seorang polisi yang berjaga di sekitar lokasi membenarkan kerusakan itu.
“Iya, itu CCTV yang dirusak,” kata polisi tersebut dikutip dari AFU.id.
Kerusakan terjadi ketika situasi di kawasan Pejompongan memanas setelah aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI.
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan dua pria mendekati CCTV tersebut. Keduanya tampak memanjat tiang tempat kamera itu terpasang.
Video itu memperlihatkan keduanya melakukan tindakan terhadap kamera. Setelah itu, kondisi CCTV tampak rusak.
Belum ada informasi mengenai identitas kedua pria tersebut. Motif tindakan mereka juga belum diketahui.
Polisi Sisir Pejompongan
Kericuhan membuat situasi di Pejompongan tetap tegang hingga Kamis malam.
Aparat kepolisian menyisir sejumlah titik untuk mencari dan membubarkan massa. Petugas juga menghalau kendaraan yang datang dari arah Palmerah menuju Pejompongan.
Polisi kemudian meminta pengendara memutar balik. Arus lalu lintas pun terganggu akibat pengamanan tersebut.
Kericuhan juga merambat ke kawasan lampu merah Slipi, Palmerah, Jakarta Barat.
Polisi membubarkan massa menggunakan gas air mata. Situasi kemudian semakin panas ketika sebagian massa diduga membakar pos polisi di kawasan Slipi.
Massa juga bergerak menuju halte Transjakarta. Di sekitar halte tersebut muncul upaya pembakaran.
Aparat terus mengamankan sejumlah titik yang terdampak kericuhan hingga Kamis malam.
CCTV Rusak Saat Situasi Memanas
Kerusakan CCTV menambah daftar fasilitas publik yang terdampak dalam rangkaian kericuhan setelah demonstrasi.
Kamera pengawas memiliki fungsi untuk merekam kondisi di ruang publik. Ketika kamera rusak, perangkat tersebut tidak dapat menjalankan fungsi pengawasannya secara normal.
Namun, kerusakan CCTV tidak otomatis menunjukkan adanya upaya untuk menghilangkan bukti.
Polisi di lokasi baru memastikan bahwa seseorang merusak kamera tersebut. Identitas pelaku dan motifnya masih belum diketahui.
Video yang beredar dapat menjadi petunjuk untuk menelusuri kejadian. Aparat tetap membutuhkan proses penyelidikan untuk memastikan siapa yang melakukan tindakan tersebut.
Kerusakan kamera juga memperlihatkan dampak lain dari eskalasi kericuhan.
Ketika benturan meningkat, gangguan tidak hanya terjadi antara massa dan aparat. Infrastruktur yang berada di ruang publik ikut menghadapi risiko.
Jalan terganggu. Kendaraan harus berputar arah. Polisi menyisir kawasan. Gas air mata mewarnai proses pembubaran massa.
Di tengah situasi itu, CCTV di Jalan Pejompongan ikut rusak.
Ketika Ruang Publik Kehilangan Kendali
Demonstrasi merupakan bagian dari ruang penyampaian aspirasi. Namun, eskalasi kericuhan mengubah persoalan dari sekadar penyampaian tuntutan menjadi persoalan keamanan dan ketertiban ruang publik.
Rangkaian kejadian di Pejompongan dan Slipi memperlihatkan perubahan tersebut.
Massa bergerak ke sejumlah titik. Polisi melakukan penyisiran. Kendaraan tidak dapat melintas seperti biasa. Pos polisi terbakar. Halte Transjakarta turut menjadi sasaran upaya pembakaran.
CCTV kemudian ikut rusak.
Rangkaian itu menunjukkan bagaimana konflik dapat menyebar dari titik aksi menuju infrastruktur yang menopang aktivitas masyarakat.
Ini bukan sekadar CCTV yang rusak. Kerusakan itu menjadi bagian dari gambaran lebih besar tentang bagaimana eskalasi konflik dapat mengganggu fungsi ruang publik.
Siapa yang merusak kamera tersebut masih membutuhkan pembuktian. Motifnya juga belum diketahui.
Tetapi dampaknya terlihat jelas. Ketika kericuhan meluas, masyarakat kehilangan akses jalan yang normal, sementara fasilitas publik ikut menghadapi kerusakan.
Demonstrasi mungkin berakhir di lokasi aksi.
Namun, dampak kericuhan dapat bertahan lebih lama di ruang yang digunakan publik setiap hari. @dimas








