Tabooo.id: Regional – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) sepanjang Ramadhan 2026. Langkah ini diambil setelah harga cabai rawit merah melonjak tajam dan menekan daya beli masyarakat.
Kenaikan harga paling terasa pada pekan kedua Februari. Di sejumlah pasar tradisional, harga cabai rawit merah menyentuh Rp 85.000 per kilogram. Angka itu melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp 57.000 per kilogram, atau melonjak sekitar 49 persen.
Lonjakan tersebut langsung memukul rumah tangga, pedagang kecil, hingga pelaku usaha kuliner. Bagi warga berpenghasilan harian, selisih puluhan ribu rupiah per kilogram bukan sekadar angka statistik itu berarti pengeluaran dapur yang membengkak.
Operasi Pasar dan Subsidi Cabai
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Dyah Lukisari, menyatakan pihaknya langsung menyalurkan tiga ton cabai ke 15 kabupaten/kota sebagai langkah intervensi. Ia bergerak setelah menerima arahan dari Gubernur Ahmad Luthfi untuk menekan gejolak harga melalui operasi pasar.
Pemprov membanderol cabai bersubsidi di angka Rp 65.000 per kilogram. Selisih harga itu diharapkan bisa menahan laju kenaikan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Wilayah sasaran distribusi difokuskan pada daerah nonpenghasil seperti Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Tegal, Kota Pekalongan, serta sejumlah kabupaten seperti Demak, Rembang, Pati, Klaten, Karanganyar, Jepara, Brebes, Banyumas, dan Sukoharjo. Pemerintah menunjuk Perusda Jateng Agro Berdikari (JTAB) untuk menyalurkan komoditas tersebut secara langsung ke pasar.
Strategi ini menyasar titik-titik konsumsi tinggi yang tidak memiliki suplai lokal memadai. Dengan memperpendek rantai distribusi, pemerintah berharap harga kembali mendekati batas wajar.
Pengawasan Spekulan dan Stok Pangan
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, memastikan stok pangan sebenarnya cukup. Namun lonjakan permintaan menjelang Ramadhan memicu kenaikan harga di lapangan. Ia menggandeng Satgas Pangan Polda Jawa Tengah untuk mengawasi distribusi dan menelusuri kemungkinan praktik penimbunan.
Di sisi lain, Perum Bulog wilayah Jawa Tengah memperkuat distribusi beras SPHP dan MinyakKita. Wakil Pimpinan Wilayah Bulog Jateng, Gandi Prarista, menyatakan pihaknya menyalurkan beras sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram dan MinyakKita Rp 12.700 per liter.
Bulog mengklaim stok beras aman hingga akhir tahun. Pemerintah ingin memastikan masyarakat tetap bisa mengakses bahan pokok dengan harga terkendali, terutama saat konsumsi meningkat selama Ramadhan.
Siapa yang Paling Terdampak?
Kenaikan harga cabai paling terasa bagi rumah tangga kelas menengah ke bawah dan pedagang makanan kecil. Warung makan, penjual gorengan, hingga pelaku UMKM kuliner harus memilih menaikkan harga jual atau menanggung margin yang menyusut.
Jika harga bahan pokok terus merangkak naik, tekanan inflasi pangan bisa meluas. Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum peningkatan konsumsi justru berpotensi menekan daya beli jika harga tak terkendali.
Langkah operasi pasar dan distribusi SPHP menjadi ujian cepat bagi pemerintah daerah. Publik menunggu hasil konkret di lapangan, bukan sekadar klaim stok aman. Sebab bagi warga, stabilitas harga bukan soal pernyataan resmi melainkan soal apakah uang belanja cukup sampai akhir bulan. @dimas





