Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Sekadar Film Bocah, “Na Willa” Justru Bikin Orang Dewasa Nostalgia

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih tiba-tiba kangen masa kecil? Bukan cuma kangen main layangan atau lompat tali, tapi kangen cara kita dulu melihat dunia: polos, penasaran, dan penuh “kenapa”.

Masalahnya, makin dewasa kita justru makin sibuk. Tagihan datang, deadline menumpuk, dan imajinasi pelan-pelan dikubur di folder bernama “realita”.

Nah, film Na Willa tampaknya datang bukan sekadar untuk anak-anak. Film ini justru seperti undangan nostalgia semacam pengingat bahwa dulu kita pernah memandang dunia dengan lensa yang jauh lebih jujur.

Dan ya, sutradaranya terang-terangan bilang begitu.

Bukan Film Anak Biasa

Sutradara Ryan Adriandhy menyebut Na Willa sebagai tontonan lintas generasi. Artinya, film ini bukan cuma buat bocah yang masih pakai seragam TK, tapi juga buat orang dewasa yang sudah terlalu lama lupa rasanya jadi anak-anak.

Ini Belum Selesai

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

JOFAFEST 6 Usung “Transcend”, Ajak Sineas Muda Melampaui Batas

Ryan berharap penonton dewasa yang keluar dari bioskop bisa membawa pulang kembali “semangat masa kecil” ke kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, masa kecil adalah fase ketika manusia melihat dunia dengan lensa paling jernih.

Saat itu kita berani bertanya.
Berani berandai-andai.
Dan berani percaya bahwa segala hal mungkin terjadi.

Film ini sendiri diadaptasi dari novel anak karya Reda Gaudiamo. Ceritanya mengikuti Willa, anak berusia enam tahun yang hidup di sebuah gang kecil di Surabaya pada era 1960-an.

Dunia Willa penuh imajinasi. Segala sesuatu bisa jadi petualangan.

Namun perlahan, realita datang mengetuk. Sahabatnya mengalami kecelakaan. Teman-temannya mulai sekolah. Willa pun merasa sendirian. Ketika akhirnya masuk TK, ia mulai belajar satu hal yang sering bikin manusia dewasa menghela napas panjang: hidup itu berubah.

Surabaya, Imajinasi, dan Indonesia yang Beragam

Selain nostalgia masa kecil, Na Willa juga menyelipkan potret keberagaman Indonesia.

Willa berasal dari keluarga dengan latar berbeda: ayahnya keturunan Tionghoa, ibunya berasal dari NTT. Lingkungan pertemanannya juga penuh warna.

Produser Novia Puspasari menjelaskan bahwa interaksi antar teman dalam film ini mencerminkan kehidupan nyata di Indonesia beragam, tapi tetap bisa bermain bersama.

Alias: beda itu bukan ancaman. Beda itu justru cerita.

Produser sekaligus Chief Content Officer Visinema Studios, Anggia Kharisma, bahkan menyebut Na Willa sebagai “surat cinta”.

Bukan cuma untuk masa kecil kita, tapi juga untuk anak-anak yang akan tumbuh di masa depan.

Ketika Film Anak Justru Menampar Orang Dewasa

Menariknya, banyak film anak justru terasa paling dalam buat penonton dewasa.

Kenapa? Karena anak-anak melihat dunia tanpa sinisme. Sementara orang dewasa? Sudah terlalu sering kecewa.

Film seperti Na Willa seolah mengingatkan bahwa kepribadian kita hari ini sebenarnya dibentuk dari masa kecil: dari rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan keberanian bermimpi.

Sayangnya, tiga hal itu sering hilang ketika kita mulai sibuk mengejar “hidup yang benar”. Mungkin itu sebabnya Ryan ingin film ini terasa aman film yang membuat orang keluar bioskop dengan perasaan bahagia, bukan stres.

Bayangkan saja: sebuah film anak yang misinya bukan sekadar menghibur bocah, tapi juga memperbaiki mood orang dewasa. Lumayan kan, terapi murah tanpa perlu konsultasi psikolog.

Nostalgia yang Datang Tepat Waktu

Na Willa juga menandai debut penyutradaraan live-action Ryan Adriandhy. Film ini menampilkan talenta muda seperti Luisa Adreena, Azamy Syauqi, Arsenio Rafizqy, dan Freya Mikhayla, didukung aktor seperti Irma Rihi, Junior Liem, dan Melissa Karim.

Filmnya akan tayang di bioskop mulai 18 Maret. Jadi, kalau suatu hari kamu keluar dari bioskop lalu tiba-tiba ingin bertanya hal-hal aneh seperti anak kecil atau sekadar merasa dunia sedikit lebih ringan mungkin itu bukan kebetulan.

Mungkin itu efek Na Willa. Karena kadang, untuk jadi manusia yang lebih baik kita cuma perlu mengingat satu hal sederhana. Kita semua dulu pernah jadi anak-anak. @eko

Tags: Filmfilm keluargaNostalgia

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Layang-Layang Masih Terbang, Tapi Anak-Anak Memilih Layar

Ketika Layang-Layang Masih Terbang, Tapi Anak-Anak Memilih Layar

by teguh
Agustus 13, 2026

Di antara kain warna-warni layang-layang bambu, Riyadi menjaga permainan lama tetap hidup. Masalahnya, pasar yang dulu ramai kini mulai kehilangan...

Bahasa Daerah, Senjata Baru Film Indonesia?

Bahasa Daerah, Senjata Baru Film Indonesia?

by eko
Juli 13, 2026

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di layar lebar, bahasa membentuk identitas, emosi, sekaligus cara penonton mengenal sebuah budaya. Kehadiran FOUFO...

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

by eko
Juli 11, 2026

402 Rumah Sakit Angker Korea mengadaptasi Gonjiam: Haunted Asylum dengan cerita baru, misteri ruang 402, dan sentuhan horor Korea yang...

Next Post
Diduga Terkendala BPJS, Mahasiswi Uncen Meninggal di Pintu RSUD Yowari

Administrasi atau Nyawa? Tragedi Kematian Mahasiswi di RSUD Yowari

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id