Tabooo.id: Lifestyle – Di tengah gempuran jajanan modern, es potong tetap bertahan sebagai jajanan jadul yang masih diminati masyarakat. Meski jumlah penjualnya tak lagi sebanyak dulu, es potong masih menjadi pilihan favorit, terutama bagi mereka yang ingin bernostalgia dengan cita rasa masa kecil.
Di Kota Solo, penjual es potong kini semakin jarang. Namun, suasana berbeda masih terasa di kawasan Pasar Gede. Beberapa gerobak kayuh berwarna biru tampak mangkal di pinggir jalan dengan spanduk bertuliskan “Es Potong Djadoel Mandiri”.
Dari Jakarta ke Solo Demi Lebih Dekat Rumah
Yanto, warga asli Boyolali, menjadi salah satu penjual es potong yang masih bertahan hingga kini. Ia mulai menekuni usaha es potong sejak sekitar 2009. Pada awal perjalanan usahanya, Yanto berjualan di Jakarta sebelum akhirnya memilih pindah ke Solo pada 2016.
Jarak Jakarta Boyolali yang terlalu jauh mendorong Yanto mengambil keputusan tersebut. Dengan berjualan di Solo, ia bisa pulang ke kampung halaman hanya dalam waktu sekitar satu jam. Sejak itu, Yanto rutin menjajakan es potong di sekitar Pasar Gede.
Racikan Sederhana dengan Rasa Khas
Yanto meracik es potong dari bahan-bahan tradisional seperti santan kelapa, gula pasir, tepung kanji, tepung kue, serta buah-buahan asli. Kombinasi bahan tersebut menghadirkan rasa manis dan gurih yang khas, berbeda dari jajanan modern.
Sebelum menyajikannya kepada pembeli, Yanto melapisi es potong dengan lelehan cokelat. Tekstur lembutnya langsung lumer saat digigit dan membuat banyak orang sulit berhenti pada satu batang saja.
Pembeli Didominasi Orang Dewasa
Mayoritas pembeli es potong di kawasan Pasar Gede berasal dari kalangan dewasa. Anak-anak jarang terlihat membeli jajanan ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa es potong lebih sering berperan sebagai pemantik nostalgia dibanding sekadar camilan biasa.
Penjualan Tak Menentu, Musim Jadi Penentu
Dalam sehari, Yanto menjual es potong dengan jumlah yang tidak menentu. Pada hari biasa, penjualan berkisar antara 15 hingga 20 batang. Saat akhir pekan, terutama hari Minggu, angka tersebut bisa meningkat hingga sekitar 40 batang.
Cuaca turut memengaruhi hasil penjualan. Musim hujan panjang cenderung menurunkan pendapatan, sementara musim kemarau justru meningkatkan jumlah pembeli.
Enam Varian Rasa, Harga Tetap Bersahabat
Setiap hari, Yanto mulai berjualan pukul 09.00 hingga 17.00 WIB di sekitar Pasar Gede. Ia menawarkan enam varian rasa, yaitu cokelat, durian, alpukat, nangka, ketan hitam, dan kacang hijau. Seluruh varian tersebut ia jual dengan harga yang sama, Rp5.000 per batang.
Di tengah perubahan tren kuliner, es potong tetap membuktikan daya tahannya. Rasa klasik dan kenangan masa lalu membuat jajanan ini terus hidup di tengah hiruk-pikuk kota.@eko




